Sabtu, 18 April 2020

Buku di Tengah Laut - True Story


 Buku di Tengah Laut
  
    "Mbak Aisy, sudah siap? "

    Budhe berseru dari pintu belakang, aku mengangkat tas kecilku lantas sedikit berlari menghampiri. "Sudah! "

    Usai menyalimi nenek, aku, Budhe, Paman, dan Tegar berjalan menyusuri trotoar untuk mencari tempat berteduh di pinggir jalan. Tegar duduk di trotoar, Budhe mengambil alih tas dari tanganku, dan Paman berdiri di pinggir jalan mencari taxi.

    Taxi yang kumaksud adalah kendaraan sejenis van mini bermuatan sekitar 10 orang yang berseliweran tanpa alur tertentu. Sopir bisa siapa saja, tidak ada syarat tertentu. Asal punya mobil van mini, punya SIM, dan mengerti tarif umum yang berlaku, boleh saja. Tarif taxi ini tergolong sangat murah. Pernah sekali aku menemani temanku dari pondok ke pelabuhan, melewati dua pasar Prenduan dan Rabuan, kami hanya membayar masing-masing lima ribu rupiah. Di Surabaya, taxi ini disebut angkot.

    Sesampai di pelabuhan, Paman membayar ongkos dan membeli tiket. Aku, Budhe, dan Tegar berjalan menuju ujung pelabuhan. Kami menunggu kapal sekitar 15 menit. Segera, kami melangkah naik ke lantai dua kapal setelah menurunkan penumpang.

    "Tegar jangan ke pagar loh,  ya! " Budhe memperingati putra kecilnya yang berlarian di sekitar kursi tunggu.

    Namun tampaknya Tegar tidak mengindahkan peringatan ibunya. Aku hanya tersenyum kecil.

    Aku mukanya memberi kabar Ayah, bahwa aku sudah di atas kapal. Aku juga meminta do'a teman-teman agar selamat di jalan, ini pertama kalinya aku naik kapal sendiri. Dulu pernah, tapi naik mobil bersama keluarga. Aku membuka chat Royyan, salah satu temanku yang saat ini sedang mengabdi di Banten. Dia tadi berkeluh kesah padaku tentang orang tuanya yang ingin menjodohkannya dengan wanita tidak dicintainya. Aku tersenyum, membalas chatnya, menasihati agar percaya saja pada orang tuanya. Pilihan orang tua pasti yang terbaik.
Aku memperhatikan sekitar. Orang-orang Madura tampak banyak berjualan air, kacang, telur puyuh, tahu. Mengapa bisa aku tau mereka orang Madura? Karena mereka meletakkan jualannya di sebuah bakul besar yang digendong di atas kepala. Itu ciri khas orang Madura, aku sering melihatnya.

    "Eh, kembalikan bukunya! Ambil di mana tadi, Tegar? " Budhe berseru panik.

    Aku menoleh. Tegar tengah membawa sebuah buku bacaan 'Kisah Dongeng Pilihan Nusantara'. Aku tercenung, Tegar dapat buku dari mana?

    "Aku mau baca sebentar, Bu! Boleh, ya? " Tegar merajuk, duduk di kursi dan mulai membaca buku.

    "Eh, buka halamannya pelan-pelan! Kayak gini, sini Ibu contohkan! " Budhe memberi contoh Tegar membuka halaman dengan pelan. "Itu kamu baca satu jam, bayar seribu. Bayar sendiri, ya! "

    "Nggak mau! " Tegar tertawa menangggapi candaan ibunya.

    Aku melihat sekitar, mungkin memang ada tempat untuk membaca seperti perpustakaan mini. Tampak sebuah kardus teronggok di pojok ruang penumpang, penuh dengan buku. Tak ada penunggunya, mungkin memang untuk umum. Aku tersenyum, ternyata transportasi bebas seperti ini memperhatikan pendidikan anak-anak.

    Namun setelah beberapa saat, ternyata seorang bapak-bapak duduk di dekat kardus buku tersebut. Tegar segera mengembalikan buku yang diambilnya. Aku menghela nafas kecewa, ternyata buku itu dijual.

    Tapi aku masih terkejut dengan ide bapak ini. Ketika kawan-kawan sepenjual membawa bakul berisi minuman dan kacang, si bapak malah membawa buku bacaan anak-anak. Kulihat beliau berkeliling membagikan buku-buku di dalam kardus kepada para penumpang yang duduk. Beberapa penjual masker dan slayer juga melakukan hal yang sama.

    "Nanti itu diambil lagi ya, Budhe? " tanyaku pada Budhe.

    "Iyalah, Mbak Aisy." jawab Budhe seraya memakan pentol.

    "Tinggal ditaruh di kursi ini?" tanyaku lagi.

    "Iya."

    Seorang penjual slayer memberikan salah satu jualannya pada Budhe. Aku ikut melihat.

    "Biasanya ini sepuluh ribu, Mbak Aisy." jelasnya.

    Speaker mengumumkan bahwa kapal akan segera sampai. Aku, Paman, Budhe, dan Tegar segera turun menuju geladak bawah yang penuh kendaraan roda dua dan empat.

    Setelah berdesakan bersama penumpang dan sepeda motor lain, akhirnya kami keluar juga dari pelabuhan. Budhe terus menggiringku agar tidak terlalu jauh darinya, sedangkan Tegar digandeng bapaknya.

    "Itu ayahmu, Mbak Aisy! Ternyata sudah sampai duluan." seru Budhe menunjuk Ayah.

    Tampak di sudut jalan di bawah atap, Ayah berdiri menunggu dengan baju koko putih dan celana kremnya. Tatapan matanya memperhatikan sekeliling dengan jeli. Aku tersenyum, aku suka mata teduhnya dan pembawaannya yang tenang itu. Kami menghampiri Ayah cepat-cepat, sepertinya beliau tidak menyadari kedatangan kami. Padahal aku sudah melambaikan tangan sejak tadi.

    "Ayah!" panggilku sedikit kencang.
Pria bersepatu itu menoleh, lantas tersenyum melihatku. Aku sumringah, berlari menghampirinya. Budhe dan Ayah bersalaman dan berbasa basi sebentar, karena Budhe mengejar bis menuju Jombang.

    Aku membawa tasku mengikuti langkah Ayah. Kami menuju mobil putih yang biasa Ayah bawa.

    "Kalau kira-kira Mbak Aisy naik kapal sendiri, berani?" tanya Ayah tiba-tiba.
Aku menimbang-nimbang. "Nggak! Hehehe..."

    "Kan gampang, Mbak Aisy. Siang bolong juga. "

    "Tapi kan, aku pertama kali! Masih belum tau!" aku membela diri.

    "Ah, gampang! Malah Nenek yang ngelarang Mbak Aisy kemarin, ya? Kok, Aisy disuruh naik kapal sendirian?!" Ayah meniru gaya bicara nenek.

    Aku hanya tertawa.


Ruang kerja Ayah,
Surabaya, 15 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KLIMAKS COVID-19 - Artikel