Sabtu, 01 Agustus 2020

KLIMAKS COVID-19 - Artikel


            
     Berita COVID-19 selalu berada paling atas di internet, berita terhangat. Padahal sejak awal kemunculannya pertama kali, bisa dibilang tidak bisa dikatakan up to date lagi. meski banyak berita-berita menggemparkan lainnya, COVID-19 tetap menduduki posisi teratas. Update penduduk setempat yang tertular virus, cara pencegahan, kabar penelitian obat yang bisa menyembuhkan, terapi alami untuk pasien, rahasia kesembuhan, dan semacamnya.
     Seakan menjadi konsumsi sehari-hari, perubahan fitur dan aturan terjadi dimana-mana, terutama pada sarana publik. Jangka yang cukup lama dihitung dari awal penyebarannya, membuat sebuah pertanyaan muncul; kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
     Andai sebuah diagram yang di dalamnya ada tanjakan dan landaian, maka akan ada klimaks atau titik tertinggi dari suatu data. Jika sudah ditemukan suatu klimaks, maka setelahnya akan ada “penurunan”. Jadi, kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
     Profesor Sosiologi Bencana Nanyang Techlonogical University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir menyatakan di akun Youtube pribadinya, SOCIOTALKING, yang diunggah Jum’at 31 Juli 2020 bahwa kurva Corona akan terus naik di Indonesia selama masih ada orang yang bisa tertular virus Corona di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa “klimaks” COVID-19 masih belum bisa diprediksi, mengingat masih banyak penduduk yang tertular. Bahkan di Indonesia.
     Kata kunci yang bisa kita ambil dari kutipan beliau adalah “masih ada orang yang bisa tertular”. Kemungkinan masyarakat yang tertular memang tidak bisa diprediksi secara tepat dan valid, mengingat persentase per-individu pasti berbeda. Namun, kesimpulannya tetap bisa diambil; masih ada orang yang bisa tertular. Entah itu berkurang, bertambah, atau tetap dari sebelumnya. Meski dilakukan pencegahan, tidak menjamin tidak tertular 100%. Naudzubillah, wallahu a’lamu.
     Daripada variabel pemerintah yang bertanggung jawab atas penduduk se-kabupaten, akan lebih baik jika masyarakat memiliki kesadaran masing-masing. Pemerintah hanya bisa membuat aturan, mencegah pelanggaran, melakukan program-program protokol, menghukum pelanggar. Akan tetapi, jika rakyatnya tidak memiliki kesadaran untuk berupaya mencegah juga, maka tidak akan tercipta kerjasama antar variabel. Lebih baik berusaha mencegah meski tidak bisa menjamin 100% tidak tertular, daripada tidak ada pencegahan sama sekali. Dengan mencegah, setidaknya kita bisa mengurangi resiko tertular.
     Tertular-tidak tertular memang tidak ada yang tahu, hal tersebut merupakan perkara langit. Tapi bukan berarti kita seenaknya mengesampingkan protokol pemerintah, atau malah meremehkan dan melanggarnya. Memang dengan bersikap seenaknya akan mengurangi resiko tertular? Tidak juga. Meski misalnya tidak tertular, tidak melaksanakan perintah pemimpin juga tidak dibenarkan selama bertujuan untuk kemaslahatan bersama.
     Jadilah masyarakat yang bijak, yang taat pada pemimpin. Sebuah kelompok akan damai dan sejahtera jika ada kerjasama antar variabel dalam kelompok tersebut. Tidak perlu komentar sana-sini, mengurus hidup orang lain, akan tetapi fokus pada diri sendiri. Apakah kita sudah sadar hal-hal apa saja yang sudah kita lakukan sebagai pencegahan? Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KLIMAKS COVID-19 - Artikel