Berita
COVID-19 selalu berada paling atas di internet, berita terhangat. Padahal sejak
awal kemunculannya pertama kali, bisa dibilang tidak bisa dikatakan up to date lagi. meski banyak
berita-berita menggemparkan lainnya, COVID-19 tetap menduduki posisi teratas. Update penduduk setempat yang tertular
virus, cara pencegahan, kabar penelitian obat yang bisa menyembuhkan, terapi
alami untuk pasien, rahasia kesembuhan, dan semacamnya.
Seakan
menjadi konsumsi sehari-hari, perubahan fitur dan aturan terjadi dimana-mana,
terutama pada sarana publik. Jangka yang cukup lama dihitung dari awal
penyebarannya, membuat sebuah pertanyaan muncul; kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
Andai
sebuah diagram yang di dalamnya ada tanjakan dan landaian, maka akan ada klimaks
atau titik tertinggi dari suatu data. Jika sudah ditemukan suatu klimaks, maka
setelahnya akan ada “penurunan”. Jadi, kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
Profesor
Sosiologi Bencana Nanyang Techlonogical University (NTU) Singapura, Sulfikar
Amir menyatakan di akun Youtube pribadinya, SOCIOTALKING, yang diunggah Jum’at
31 Juli 2020 bahwa kurva Corona akan terus naik di Indonesia selama masih ada
orang yang bisa tertular virus Corona di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa “klimaks”
COVID-19 masih belum bisa diprediksi, mengingat masih banyak penduduk yang
tertular. Bahkan di Indonesia.
Kata
kunci yang bisa kita ambil dari kutipan beliau adalah “masih ada orang yang
bisa tertular”. Kemungkinan masyarakat yang tertular memang tidak bisa
diprediksi secara tepat dan valid, mengingat persentase per-individu pasti berbeda.
Namun, kesimpulannya tetap bisa diambil; masih
ada orang yang bisa tertular. Entah itu berkurang, bertambah, atau tetap
dari sebelumnya. Meski dilakukan pencegahan, tidak menjamin tidak tertular
100%. Naudzubillah, wallahu a’lamu.
Daripada
variabel pemerintah yang bertanggung jawab atas penduduk se-kabupaten, akan
lebih baik jika masyarakat memiliki kesadaran masing-masing. Pemerintah hanya
bisa membuat aturan, mencegah pelanggaran, melakukan program-program protokol,
menghukum pelanggar. Akan tetapi, jika rakyatnya tidak memiliki kesadaran untuk
berupaya mencegah juga, maka tidak akan tercipta kerjasama antar variabel. Lebih
baik berusaha mencegah meski tidak bisa menjamin 100% tidak tertular, daripada tidak
ada pencegahan sama sekali. Dengan mencegah, setidaknya kita bisa mengurangi
resiko tertular.
Tertular-tidak
tertular memang tidak ada yang tahu, hal tersebut merupakan perkara langit. Tapi
bukan berarti kita seenaknya mengesampingkan protokol pemerintah, atau malah
meremehkan dan melanggarnya. Memang dengan bersikap seenaknya akan mengurangi
resiko tertular? Tidak juga. Meski misalnya tidak tertular, tidak melaksanakan
perintah pemimpin juga tidak dibenarkan selama bertujuan untuk kemaslahatan
bersama.
Jadilah
masyarakat yang bijak, yang taat pada pemimpin. Sebuah kelompok akan damai dan
sejahtera jika ada kerjasama antar variabel dalam kelompok tersebut. Tidak perlu
komentar sana-sini, mengurus hidup orang lain, akan tetapi fokus pada diri
sendiri. Apakah kita sudah sadar hal-hal apa saja yang sudah kita lakukan
sebagai pencegahan? Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar