Senin, 20 Juli 2020

Ku Tak Ingin Gus (ep. 2) - long continued story



            Sejak “bentakkanku” hari itu, aku merasa Pak Sugi sedikit berhati-hati berkomunikasi denganku. Beberapa kali kutangkap beliau takut salah tingkah, gagap, dan canggung di depanku. Tidak seperti biasanya. Dan, Abah menangkap gesture beliau. Maka dipanggillah aku usai Abah mengisi pengajian di ruang tengah menjelang dhuhur karena masih ada beberapa jama’ah yang sowan ke Abah.
            “Mad,”
            Aku masih menunduk, duduk di atas karpet di depan Abah. Diam tak menyahut kalimat Abah.
            “Kamu bilang apa ke Pak Sugi?” tanya Abah.
            “Bilang apa, Bah?” tanyaku. Mungkin Abah mendengar sesuatu selain “bentakanku” kemarin.
            Abah menghela napas panjang. “Le,”
            Aku terdiam lama. Apa aku harus menceritakan kejadiannya, atau mengutarakan ketidaknyamananku?
            “Bah,” akhirnya aku berkata, “aku tidak suka terlalu dilayani, dihormati, seperti itu, Bah. Aku bukan Abah yang sudah banyak ilmu, berdakwah ke mana-mana, punya banyak murid. Aku … masih bukan siapa-siapa dibanding Abah, tidak pantas dibegitukan sama Pak Sugi, sama jama’ah Abah, sama semuanya. Aku tidak suka.”
            Abah diam sejenak. “Abah sudah bilang, Le, mereka itu orang-orang yang mencari ridlo lewat perantara guru. Mereka yang menghormati kita itu mendapat pahala, kita yang dihormati tidak mendapat apa-apa. Kamu menolak mereka mendapat wasilah pahala dari kamu itu, tapi kamu tolak, awas kamu menjadi sombong, Mad. Kamu itu anak Abah, wajar mereka berlaku begitu padamu. Jangan sombong, jangan sombong.”
            Dadaku mendadak serasa terhantam sesuatu yang keras dan tajam. Astaghfirullahal adzim. Apa penolakanku selama ini salah? Aku akhirnya bercerita kegundahan yang kurasakan selama di pondok. Maka setelah lulus tiga tahun dari pondok di Pasuruan itu, aku pindah ke pondok yang jauh dari bau-bau Jawa. Abah mendaftarkanku ke sebuah pondok di Madura. Pulau kecil seberang Jawa dengan jembatan Suramadu sebagai penyambungnya. Kudengar, banyak podok salafy di sana, tersebar di desa-desa. Namun, Abah mendaftarkanku di salah satu pondok besar di sana.
            Di pondok, aku banyak bertemu orang-orang yang sepertiku; gus-gus dari berbagai pondok. Bahkan, ada putra bungsu kyai yang berasal dari Kalimantan Tengah. Jauh sekali. Hari pertama menjadi santri baru di sini, aku segera betah. Semua dipandang rata, tidak ada yang diunggul-unggulkan, tidak ada yang direndah-rendahkan. Aku benar-benar memperkenalkan diri sebagai “Hammad”. Tanpa “Gus”. Seminggu setelah berbaur dengan kawan-kawan di pondok, aku tahu bahwa salah satu putra pimpinan dan pengasuh pondok ini adalah kakak kelas satu tahun di atasku. Kulihat ia bercanda dan tertawa seperti biasa dengan yang lain, malah pernah tertangkap adu pukul dan dihukum sebagaimana kawan-kawan yang ikut serta juga. Tidak tampak bahwa dia putra pengasuh pondok, ia tampak seperti yang lain. Betapa banyak syukur yang kupanjatkan, aku merasa hidup seperti “aku” di pondok ini. Tidak banyak yang tahu bahwa diriku putra salah satu pondok di Jawa, hanya beberapa. Terkadang mereka memanggilku “Gus”, tapi hanya sebatas candaan sesama kawan, bukan sindiran pun ejekan.
            Pulang dari pondok, Pak Sugi masih ber-khidmah di rumah. Aku sudah memantapkan hati untuk meminta maaf pada beliau. Kemarin, aku belum sempat meminta maaf karena beliau sedang mengantar Abah ke Jember. Aku mendaftar pondok hanya diantar Ibu dan pamanku.
            “Em … Amit, nggeh, Gus. Sampiyan dipanggil Umi. Disuruh makan kata Umi,” kata Pak Sugi, berdiri di pintu kamarku. Biasanya beliau langsung masuk.
            Aku bangkit dari kasur, “Oiya, Pak. Jazakumullah.
            Nggeh, Gus. Bapak amit, nggeh.
            “Pak Sugi,” cegahku cepat.
            Beliau segera berbalik. “Nggeh, Gus?”
            “Saya minta maaf, ya, Pak. Dulu itu saya nggak maksud marahin Pak Sugi. Saya lagi emosi sama teman saya, jadi kebawa marah. Maaf, Pak. Afwan,” ujarku pelan, menyesal.
            Tak diduga, Pak Sugi segera menghampiriku, terduduk di depanku. Menggenggam tanganku. Aku yang duduk di tepi kasur reflek duduk menjajari beliau, terkejut atas reaksi Pak Sugi. Beliau menangis.
            “Ya Allah, Gus. Bapak yang harusnya minta maaf! Bapak nggak tahu, kalau Gus nggak nyaman sama perlakuan bapak! Bapak kepikiran, nggak tahu harus apa waktu Gus sudah balik pondok, bapak minta maaf, Gus!” Pak Sugi tersedu-sedu.
            Hatiku seketika meleleh, Pak Sugi memang berkhidmah dengan tulus dan ikhlas. Betapa jahatnya aku telah melukai hati beliau yang semata-mata mengharap ridlo Allah dari khidmahnya. Aku melepas genggaman beliau, menepuk-nepuk bahunya lembut.
            “Saya yang salah, Pak. Pondok pesantren mengajarkan banyak hal pada saya, saya selalu merasa malu kalau ingat kejadian itu, Pak. Saya tidak pantas berlaku begitu pada Pak Sugi,” kataku dengan senyum.
            Di pondok, aku bisa melihat betapa mulianya seorang guru di mata santri. Betapa hormatnya kami terhadap beliau dan keluarganya. Kalian akan mengerti bahagianya bisa dapat shif jaga di ndalem beliau, haris namanya. Kalau ada yang absen karena tugas saat haris, banyak yang berebut ingin menggantikan posisinya. Tak peduli tengah malam dan tidak tidur. Lebih-lebih mengantar beliau dengan mobil ke luar kota, bahkan luar Madura. Semua ingin dekat dan dikenal oleh Pak Kyai, ustadz-ustadz, Ibu Nyai. Bahkan berebut menawarkan diri menjaga putra-putri kecil beliau kala sedang repot. Aku bisa melihat “rasa ingin berkhidmah” seorang santri, murid, pada gurunya. Jadi begini rasanya.
            Aku jadi paham perasaan Pak Sugi.
            Mungkin karena pondok di Pasuruan itu banyak yang su’udzon padaku, aku jadi buta dari melihat betapa mulianya seorang guru. Astaghfirullahal adzim. Memang terkadang kita perlu berada di bawah untuk memahami apa yang mereka rasakan.[]


Minggu, 12 Juli 2020

TOXIC FAMILY: RELASI BURUK SELARAS DENGAN RESIKO DEPRESI - Artikel


     Bagaimana perasaan orang tua ketika anaknya membuat kesalahan. Kecewa? Pasti. Namun rasa kecewa itu yang terkadang disikapi dengan cara yang salah oleh beberapa orang tua. Lebih-lebih ketika sang anak diberi kepercayaan penuh atas sesuatu, sungguh rasa kecewa itu seakan menghantam dada amat keras.
     Tidak ada yang sempurna di dunia ini, itu sudah pasti sebagai kodrat manusia. Maka melakukan sebuah kesalahan merupakan hal yang wajar, tapi bukan berarti tidak patut disalahkan. Semua orang pasti memiliki kesalahan, dan pernah disalahkan. Jadi, semua orang juga pernah merasakan “ketika dia disalahkan” seperti apa.
     Ketika seorang anak menyadari bahwa kelakuannya yang salah membuat orang tua kecewa, menurut kalian apa yang mereka rasakan? Pasti mereka merasa amat sangat bersalah, menyesal, gelisah di dalam hatinya walau sedikit, walau tidak ditampakkan di depan kedua orang tuanya. Di tengah perasaannya yang berkecamuk ini, dia akan berpikir. Kondisi anak yang berada di dalam fase ini sangat amat sensitif; ketika dia merasa mengecewakan orang tuanya.
     Berpikir di sini bukan hanya berujung pada mencari letak kesalahannya, apa yang seharusnya dia lakukan. Namun, jika anak tersebut berkarakter “tidak suka disalahkan”, dia akan mencari kesalahan orang lain yang menyebabkan dirinya melakukan kesalahan itu. Seperti mencari sumber yang membuatnya melakukan kesalahan.
     Apakah kalian tahu istilah “toxic family”? Toxic family atau keluarga disfungsional adalah situasi di mana keluarga yang seharusnya menciptakan “rumah” bagi anak malah menjadi penghambat terhadap perkembangan dirinya. Hal ini disebabkan oleh relasi antar suami-istri, orang tua-anak, antar saudara kandung, atau kerabat. Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah ketika memikirkan akan berinteraksi dengan keluarganya, maka inilah salah satu indikasi yang menunjukkan toxic family.
     Ketika seorang anak melakukan sebuah kesalahan, dia disalahkan, kemudian merasa cemas, bingung, marah, alih-alih sadar dan meminta maaf, maka perlu dipertanyakan. Apakah dia mengalami toxic family? Hal ini menunjukkan bahwa dia merasa bingung bagaimana harus bereaksi pada orang tua yang menyalahkannya. Yang mana menampakkan adanya “sesuatu” di dalam “relasi”-nya dengan orang tuanya. Perasaan ini, di tengah kondisinya yang sensitif, tidak menutup kemungkinan akan menyeret sang anak kepada hal-hal yang negatif.
     Misalnya ketika kurang kasih sayang orang tua, maka seorang anak akan cenderung mencari perhatian pada orang lain. Lebih-lebih anak perempuan yang kurang kasih sayang dari sosok ayah, dia akan mencari perhatian dari banyak laki-laki sebagai gantinya. Ketika berprestasi tidak ada apresiasi, tapi sedikit berbuat salah akan dibentak tak berujung, maka jangan salahkan anak jika suatu hari dia merasa takut berlebihan, merasa harga diri rendah, dan menyimpan amarah yang dia salurkan secara depresif.
     Dalam agama, melawan orang tua adalah sebuah larangan. Kedurhakaan. Maka ketika anak dimarahi sekeras apapun oleh orang tuanya, boleh jadi dia hanya bisa diam menyimpan emosinya. Dia tidak ingin durhaka. Apalagi orangtua yang bersikap otoriter kepada anaknya. Otoriter memang terkadang perlu diterapkan untuk membangun kedisiplinan, tapi terlalu sering juga tidak baik. Dr. Mai Stafford dari University College London mengatakan, pola asuh otoriter akan membuat orang tua cenderung berkuasa dan dominan terhadap anak. Sehingga, anak menyalurkan amarahnya secara tidak benar. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa penyelewengan anak terjadi karena dia menahan diri untuk tidak durhaka kepada orang tuanya. Sekeras apapun keduanya.
     Menceritakan masalah kepada orang lain boleh jadi mengurangi beban emosi, akan tetapi jika yang diceritakan adalah masalah keluarga, tidak semua orang bisa terbuka. Lagi-lagi pemikiran “durhaka” mencegahnya, membuatnya disalahkan. Sehingga dia hanya diam dan berharap suatu saat sikap mereka yang toxic akan berubah tanpa bisa melakukan apa-apa.
     Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang ingin anaknya nyeleweng. Namun, terkadang beberapa bahkan bisa jadi banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap nyeleweng tersebut timbul atas sikap beliau sendiri. Akan tetapi, anak yang dimanjakan juga tidak baik akibatnya. Metode pola asuh yang ideal memang hakikatnya tidak ada, tapi orang tua bisa menggabungkan beberapa metode, disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
     Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention, dikatakan ada berbagai konsekuensi negatif yang bisa dirasakan seorang anak yang pernah menghadapi keluarga disfungsional. Ketika bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya. Ia juga akan terus menerus merasa cemas, gugup, kehilangan kendali, atau menyangkal perasaannya. Penumpukkan emosi negatif ini yang akan mempengaruhi kondisi mental anak dalam jangka panjang. Kemudian, dia akan mengulang perbuatan toxic ini pada orang lain. Dengan kata lain, dia akan tumbuh dan mengembangkan sifat-sifat toxic-nya. Sehingga, tidak menutup kemungkinan dia akan memperlakukan anaknya, keluarganya, secara toxic pula. Lihat, betapa tidak baiknya jika kita bersikap kurang tepat terhadap orang lain. Terutama pada anak.
     Sekarang, sebagai anak, jika kamu memiliki perasaan yang sama, maka teruskan membaca tulisan ini. Insya Allah saya berusaha membantu kamu menemukan jalan keluar, meski belum tentu yang terbaik. Karena hanya Allah semata yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi kamu. Oke?
     Sejumlah pakar psikologi menyarankan bagi anak-anak yang mengalami disfungsional keluarga untuk tidak terus menerus diam, sesekali mereka harus mengambil tindakan berani demi kebahagiaan diri sendiri. Sejatinya kebahagiaan itu sebuah pilihan, pilihan yang membutuhkan tindakan. Secara tidak sadar, mereka akan mencari cara membahagiakan diri untuk melampiaskan “penderitaan” emosi akibat toxic family. Jika dilihat dari kaca anak remaja zaman now; hang out bareng teman-teman, main game, nonton drakor, dan lain-lain.
     Menurut saya, mengambil tindakan yang seperti itu masih lebih mending daripada anak yang menyimpan lama emosinya, akhirnya meledak dengan amarah tak terbendung. Melawan perkataan orang tua. Membentak. Karena sekali berani melakukannya, maka tidak ada jaminan dia tidak akan mengulangi untuk yang kedua-ketiga kalinya.
     Guys, ini bukan tentang siapa menyalahkan siapa, ya. Ini sebagai pembelajaran bagi semuanya. Dan, kamu sebagai yang tahu, harus mengambil sikap yang lebih tepat dan bijak terhadap masalah yang kamu alami. Hindari berpikir pendek, pertimbangkan jangka panjangnya. Kalau misalnya kamu sudah tau bahwa keluargamu disfungsional, maka jadikanlah itu pelajaran saja. Jangan diambil hati, apalagi su’udzon pada Ilahi. Benar-benar hindari prasangka buruk terhadap Tuhan, ya, Kawan. Kembali pada kutipan yang paling saya sukai; likulli syai’in hikmatun. Tiap-tiap sesuatu pasti ada hikmahnya, tinggal kita saja yang perlu membuka mata.
     Perbanyak istigfar, shalawat, membaca al-Qur’an. Tiga hal yang bisa membuat kita lebih dekat pada Allah. Ketika kita sudah dekat, maka tidak ada tujuan lain atas apa-apa yang kita lakukan kecuali hanya untuk-Nya. Sehingga, ketika kita berada di tengah kebimbangan, goyah, insya Allah, Allah akan mencegah kita tergelincir ke arah yang salah. Jangan lupa iringi dengan kesadaran untuk menghindari sifat negatif dan terus memperbaiki diri.
     Untuk para orang tua, bukan maksud menggurui, saya hanya orang biasa dengan ilmu yang masih dangkal. Saya hanya ingin mencegah terjadinya “toxic” yang berakibat buruk ini. Anda juga berpikir disfungsional keluarga ini hal yang tidak bagus untuk dipelihara, bukan? Mari kita sama-sama perbaiki bangsa, dengan dimulai dari diri sendiri. Ketika anda melihat anak anda ingin jalan-jalan dengan kawan-kawannya, maka hormati keputusannya dengan mempertimbangkan “keberanian” mereka untuk izin. Ini masih lebih baik daripada anak yang memutuskan ikut jalan tanpa izin. Pengawasan itu perlu, tapi jangan sampai anak-anak merasa terintimidasi. Anak juga punya hak, maka berikan hak mereka sewajarnya. Beri batasan boleh, perlu malah. Namun, jangan sampai mengekang.
     Kemudian, bangun relasi yang baik antar anggota keluarga. Relasi yang buruk akan memperburuk anggota yang lain. Jangan sampai anak merasa “menderita” di dalam keluarga yang seharusnya bisa menjadi “rumah” baginya. Coba berbicara dari hati ke hati dengan anak-anak, berusaha memahaminya, cari tau pola pikirnya. Insya Allah, jika anak berani terbuka apa saja dengan orang tuanya, maka tercipta rasa “saling memahami” hingga membentuk relasi yang baik. Wallahu a’lam.

Sabtu, 11 Juli 2020

MINDSET: KEKUATAN PENDIDIKAN - Opini


“Don’t protect your children, but educate them.”
     Adalah sebuah kewajaran apabila orang tua mengkhawatirkan anaknya, malah jika tidak, maka ada tanda tanya besar di sana. Khawatir tentang pergaulan anaknya, pendidikannya, masa depannya, tentang apa saja. Beliau senantiasa memikirkan semua hal itu, sehingga muncullah sikap “menjaga, menghindari, melindungi”.
     Manusia memang berbeda-beda satu dengan lainnya, oleh karena itu masing-masing memiliki cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu, tergantung faktor genetik dan lingkungannya. Misalnya perbedaan suku, gadis yang besar di Bandung cenderung lebih lembut sifatnya dari gadis yang besar di Madura. Hal itu memang relatif, namun lingkungan memang salah satu faktor kuat yang dapat membentuk karakter manusia, terutama anak-anak. Seperti yang tertera dalam kitab “Mabadi’ Ilmu Tarbiyah”, ada 2 faktor yang membuat karakter setiap anak berbeda; keturunan dan lingkungan.
     Ketika setiap orang tua yang berkarakter berbeda-beda “berusaha membentuk karakter” anaknya, maka berbeda pula respon yang mereka dapatkan. Anak yang tumbuh atas didikan yang keras, boleh jadi yang satu menurut, yang satu berontak. Tidak ada yang bisa menebak seorang anak akan memiliki sifat keturunan dari siapa. Dari ibunya kah, ayahnya kah, nenek dari ibu, kakek dari bapak, atau malah buyut. Tidak menutup kemungkinan juga, anak yang tumbuh atas didikan lembut nantinya akan berontak. Merespon negatif.
     Respon negatif tersebut yang akhirnya menumbuhkan rasa “ingin menjaga” yang lebih kuat. Semakin negatif, semakin kuat pula rasa itu.
     Sebagai manusia biasa, orang tua memang tidak bisa menjaga anak-anaknya 24 jam sehari, ada kalanya mereka lepas dari pengawasan. Dan ketika mereka beranjak remaja atau dewasa, tentu orang tua tidak bisa sepenuhnya ikut campur urusan mereka, bukan? Meskipun rasa “ingin menjaga” itu semakin besar.
     Sebenarnya ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menjaga mereka dari hal-hal negatif seperti kemaksiatan. Saya pernah membaca sebuah tulisan dan saya menyimpulkannya dalam satu kalimat: “Don’t protect your children, but educate them”. Jangan lindungi anak-anakmu, tapi didiklah/berilah pendidikan pada mereka. Saya akhirnya berpikir, di sinilah pentingnya peran “pendidikan”.
     Sebagai seorang remaja pelajar, saya terkadang berpikir, mengapa orang tua menyuruh kita belajar? Untuk sekadar cap lulus? Untuk mencari pekerjaan? Ternyata semua itu semata-mata untuk “menjaga” saya. Pendidikan tidak hanya materi yang diajarkan di kelas, tapi juga di luar kelas atau lingkungan. “Ilmu hal” namanya. Itulah mengapa terkadang kita mendengar banyak kisah inspiratif dari anak miskin desa, tapi memiliki budi luhur. Mereka memang tidak sekolah, tapi mereka mengenyam banyak ilmu hal, sebuah pendidikan yang didapat dari pengalaman hidup. Likulli syai’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mengapa ada orang miskin, pesakitan, yatim piatu, pecandu narkoba, perindu Tuhan, penyebar dakwah? Tak lain dan tak bukan untuk “pelajaran” bagi yang lain, “pendidikan” bagi yang lain. Pendidikan yang didapat dari lingkungan inilah, yang akan membentuk karakter.
     Ketika seseorang tumbuh di lingkungan berpendidikan baik, maka dia akan berpendidikan baik pula. Sehingga, tumbuhlah dalam dirinya karakter yang baik. Maka muncul slogan: “jika kau ingin melihat perilaku seseorang, maka lihatlah kawannya”. Kawan juga bagian dari lingkungan, bukan? Maka benar adanya.
     Pendidikan ini akan mempengaruhi pola pikir seseorang, yang akhirnya menciptakan “budi”. Semakin berilmu seseorang, maka ia akan banyak berpikir, memiliki prinsip-prinsip, membentuk mindset. Dalam buku berjudul “MINDSET: The New Psychology of Success” karya seorang psikolog Universitas Stanford Carol S. Dweck, Ph.D., beliau menuliskan bahwa beliau menemukan ide sederhana namun inovatif pada kekuatan pola pikir setelah melakukan penelitian selama beberapa dekade. Dalam buku yang brilian ini, beliau menunjukkan bagaimana kesuksesan di sekolah, pekerjaan, olahraga, seni, dan hampir setiap bidang usaha manusia dapat dipengaruhi oleh bagaimana kita berpikir (mindset) tentang bakat dan kemampuan kita. Dengan pola pikir yang benar, anda dapat memotivasi mereka yang anda pimpin, ajarkan, dan cintai—untuk mengubah hidup dan kehidupan mereka”.
     Mindset yang benar akan membantu seseorang bergerak ke arah yang benar dengan sendirinya. Karena dia memiliki prinsip yang didasari oleh mindset yang kokoh. Maka tidak perlu diarahkan, dicegah, dilindungi, dan dijaga lagi. Apa kalian sudah melihat pentingnya pendidikan sekarang?
     Sebagai remaja, sudah sepatutnya kita sadar akan pentingnya pendidikan. Sebagai penjagaan diri sendiri, juga bekal bagi kita dewasa nanti. Dari mana seorang anak mendapatkan pendidikan pertama kali jika bukan dari ibunya? Orang tuanya? Keluarganya? Jika setiap manusia menyadari betapa pentingnya sebuah pendidikan, maka tidak ada seorang pun yang nyeleweng. Ketika ada seseorang yang nyeleweng, mari kita lihat, bagaimana “pendidikannya”?
     Mari kita perbaiki pendidikan kita, mari kita perbaiki mindset kita. Don’t protect your children, but educate them.

KLIMAKS COVID-19 - Artikel