Sejak
“bentakkanku” hari itu, aku merasa Pak Sugi sedikit berhati-hati berkomunikasi
denganku. Beberapa kali kutangkap beliau takut salah tingkah, gagap, dan
canggung di depanku. Tidak seperti biasanya. Dan, Abah menangkap gesture beliau.
Maka dipanggillah aku usai Abah mengisi pengajian di ruang tengah menjelang
dhuhur karena masih ada beberapa jama’ah yang sowan ke Abah.
“Mad,”
Aku
masih menunduk, duduk di atas karpet di depan Abah. Diam tak menyahut kalimat
Abah.
“Kamu
bilang apa ke Pak Sugi?” tanya Abah.
“Bilang
apa, Bah?” tanyaku. Mungkin Abah mendengar sesuatu selain “bentakanku” kemarin.
Abah
menghela napas panjang. “Le,”
Aku
terdiam lama. Apa aku harus menceritakan
kejadiannya, atau mengutarakan ketidaknyamananku?
“Bah,”
akhirnya aku berkata, “aku tidak suka terlalu dilayani, dihormati, seperti itu,
Bah. Aku bukan Abah yang sudah banyak ilmu, berdakwah ke mana-mana, punya
banyak murid. Aku … masih bukan siapa-siapa dibanding Abah, tidak pantas
dibegitukan sama Pak Sugi, sama jama’ah Abah, sama semuanya. Aku tidak suka.”
Abah
diam sejenak. “Abah sudah bilang, Le,
mereka itu orang-orang yang mencari ridlo lewat perantara guru. Mereka yang
menghormati kita itu mendapat pahala, kita yang dihormati tidak mendapat
apa-apa. Kamu menolak mereka mendapat wasilah pahala dari kamu itu, tapi kamu
tolak, awas kamu menjadi sombong, Mad. Kamu itu anak Abah, wajar mereka berlaku
begitu padamu. Jangan sombong, jangan sombong.”
Dadaku
mendadak serasa terhantam sesuatu yang keras dan tajam. Astaghfirullahal adzim. Apa penolakanku selama ini salah? Aku akhirnya
bercerita kegundahan yang kurasakan selama di pondok. Maka setelah lulus tiga
tahun dari pondok di Pasuruan itu, aku pindah ke pondok yang jauh dari bau-bau
Jawa. Abah mendaftarkanku ke sebuah pondok di Madura. Pulau kecil seberang Jawa
dengan jembatan Suramadu sebagai penyambungnya. Kudengar, banyak podok salafy
di sana, tersebar di desa-desa. Namun, Abah mendaftarkanku di salah satu pondok
besar di sana.
Di
pondok, aku banyak bertemu orang-orang yang sepertiku; gus-gus dari berbagai
pondok. Bahkan, ada putra bungsu kyai yang berasal dari Kalimantan Tengah. Jauh
sekali. Hari pertama menjadi santri baru di sini, aku segera betah. Semua dipandang
rata, tidak ada yang diunggul-unggulkan, tidak ada yang direndah-rendahkan. Aku
benar-benar memperkenalkan diri sebagai “Hammad”. Tanpa “Gus”. Seminggu setelah
berbaur dengan kawan-kawan di pondok, aku tahu bahwa salah satu putra pimpinan
dan pengasuh pondok ini adalah kakak kelas satu tahun di atasku. Kulihat ia
bercanda dan tertawa seperti biasa dengan yang lain, malah pernah tertangkap adu
pukul dan dihukum sebagaimana kawan-kawan yang ikut serta juga. Tidak tampak
bahwa dia putra pengasuh pondok, ia tampak seperti yang lain. Betapa banyak
syukur yang kupanjatkan, aku merasa hidup seperti “aku” di pondok ini. Tidak banyak
yang tahu bahwa diriku putra salah satu pondok di Jawa, hanya beberapa. Terkadang
mereka memanggilku “Gus”, tapi hanya sebatas candaan sesama kawan, bukan
sindiran pun ejekan.
Pulang
dari pondok, Pak Sugi masih ber-khidmah di rumah. Aku sudah memantapkan hati untuk
meminta maaf pada beliau. Kemarin, aku belum sempat meminta maaf karena beliau
sedang mengantar Abah ke Jember. Aku mendaftar pondok hanya diantar Ibu dan pamanku.
“Em
… Amit, nggeh, Gus. Sampiyan dipanggil Umi. Disuruh makan
kata Umi,” kata Pak Sugi, berdiri di pintu kamarku. Biasanya beliau langsung
masuk.
Aku
bangkit dari kasur, “Oiya, Pak. Jazakumullah.”
“Nggeh, Gus. Bapak amit, nggeh.”
“Pak
Sugi,” cegahku cepat.
Beliau
segera berbalik. “Nggeh, Gus?”
“Saya
minta maaf, ya, Pak. Dulu itu saya nggak maksud marahin Pak Sugi. Saya lagi
emosi sama teman saya, jadi kebawa marah. Maaf, Pak. Afwan,” ujarku pelan, menyesal.
Tak
diduga, Pak Sugi segera menghampiriku, terduduk di depanku. Menggenggam
tanganku. Aku yang duduk di tepi kasur reflek duduk menjajari beliau, terkejut
atas reaksi Pak Sugi. Beliau menangis.
“Ya
Allah, Gus. Bapak yang harusnya minta maaf! Bapak nggak tahu, kalau Gus nggak
nyaman sama perlakuan bapak! Bapak kepikiran, nggak tahu harus apa waktu Gus sudah
balik pondok, bapak minta maaf, Gus!” Pak Sugi tersedu-sedu.
Hatiku
seketika meleleh, Pak Sugi memang berkhidmah dengan tulus dan ikhlas. Betapa jahatnya
aku telah melukai hati beliau yang semata-mata mengharap ridlo Allah dari
khidmahnya. Aku melepas genggaman beliau, menepuk-nepuk bahunya lembut.
“Saya
yang salah, Pak. Pondok pesantren mengajarkan banyak hal pada saya, saya selalu
merasa malu kalau ingat kejadian itu, Pak. Saya tidak pantas berlaku begitu
pada Pak Sugi,” kataku dengan senyum.
Di
pondok, aku bisa melihat betapa mulianya seorang guru di mata santri. Betapa hormatnya
kami terhadap beliau dan keluarganya. Kalian akan mengerti bahagianya bisa
dapat shif jaga di ndalem beliau, haris namanya. Kalau ada yang absen
karena tugas saat haris, banyak yang
berebut ingin menggantikan posisinya. Tak peduli tengah malam dan tidak tidur. Lebih-lebih
mengantar beliau dengan mobil ke luar kota, bahkan luar Madura. Semua ingin dekat
dan dikenal oleh Pak Kyai, ustadz-ustadz, Ibu Nyai. Bahkan berebut menawarkan
diri menjaga putra-putri kecil beliau kala sedang repot. Aku bisa melihat “rasa
ingin berkhidmah” seorang santri, murid, pada gurunya. Jadi begini rasanya.
Aku
jadi paham perasaan Pak Sugi.
Mungkin
karena pondok di Pasuruan itu banyak yang su’udzon
padaku, aku jadi buta dari melihat betapa mulianya seorang guru. Astaghfirullahal adzim. Memang terkadang
kita perlu berada di bawah untuk memahami apa yang mereka rasakan.[]