Bagaimana
perasaan orang tua ketika anaknya membuat kesalahan. Kecewa? Pasti. Namun rasa
kecewa itu yang terkadang disikapi dengan cara yang salah oleh beberapa orang
tua. Lebih-lebih ketika sang anak diberi kepercayaan penuh atas sesuatu,
sungguh rasa kecewa itu seakan menghantam dada amat keras.
Tidak
ada yang sempurna di dunia ini, itu sudah pasti sebagai kodrat manusia. Maka
melakukan sebuah kesalahan merupakan hal yang wajar, tapi bukan berarti tidak
patut disalahkan. Semua orang pasti memiliki kesalahan, dan pernah disalahkan.
Jadi, semua orang juga pernah merasakan “ketika dia disalahkan” seperti apa.
Ketika
seorang anak menyadari bahwa kelakuannya yang salah membuat orang tua kecewa,
menurut kalian apa yang mereka rasakan? Pasti mereka merasa amat sangat
bersalah, menyesal, gelisah di dalam hatinya walau sedikit, walau tidak
ditampakkan di depan kedua orang tuanya. Di tengah perasaannya yang berkecamuk
ini, dia akan berpikir. Kondisi anak yang berada di dalam fase ini sangat amat
sensitif; ketika dia merasa mengecewakan orang tuanya.
Berpikir
di sini bukan hanya berujung pada mencari letak kesalahannya, apa yang
seharusnya dia lakukan. Namun, jika anak tersebut berkarakter “tidak suka
disalahkan”, dia akan mencari kesalahan orang lain yang menyebabkan dirinya
melakukan kesalahan itu. Seperti mencari sumber yang membuatnya melakukan
kesalahan.
Apakah
kalian tahu istilah “toxic family”? Toxic family atau keluarga disfungsional
adalah situasi di mana keluarga yang seharusnya menciptakan “rumah” bagi anak
malah menjadi penghambat terhadap perkembangan dirinya. Hal ini disebabkan oleh
relasi antar suami-istri, orang tua-anak, antar saudara kandung, atau kerabat.
Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah ketika memikirkan akan
berinteraksi dengan keluarganya, maka inilah salah satu indikasi yang
menunjukkan toxic family.
Ketika
seorang anak melakukan sebuah kesalahan, dia disalahkan, kemudian merasa cemas,
bingung, marah, alih-alih sadar dan meminta maaf, maka perlu dipertanyakan.
Apakah dia mengalami toxic family?
Hal ini menunjukkan bahwa dia merasa bingung bagaimana harus bereaksi pada
orang tua yang menyalahkannya. Yang mana menampakkan adanya “sesuatu” di dalam
“relasi”-nya dengan orang tuanya. Perasaan ini, di tengah kondisinya yang
sensitif, tidak menutup kemungkinan akan menyeret sang anak kepada hal-hal yang
negatif.
Misalnya
ketika kurang kasih sayang orang tua, maka seorang anak akan cenderung mencari
perhatian pada orang lain. Lebih-lebih anak perempuan yang kurang kasih sayang
dari sosok ayah, dia akan mencari perhatian dari banyak laki-laki sebagai
gantinya. Ketika berprestasi tidak ada apresiasi, tapi sedikit berbuat salah
akan dibentak tak berujung, maka jangan salahkan anak jika suatu hari dia
merasa takut berlebihan, merasa harga diri rendah, dan menyimpan amarah yang
dia salurkan secara depresif.
Dalam
agama, melawan orang tua adalah sebuah larangan. Kedurhakaan. Maka ketika anak
dimarahi sekeras apapun oleh orang tuanya, boleh jadi dia hanya bisa diam
menyimpan emosinya. Dia tidak ingin durhaka. Apalagi orangtua yang bersikap
otoriter kepada anaknya. Otoriter memang terkadang perlu diterapkan untuk
membangun kedisiplinan, tapi terlalu sering juga tidak baik. Dr. Mai Stafford
dari University College London mengatakan, pola asuh otoriter akan membuat
orang tua cenderung berkuasa dan dominan terhadap anak. Sehingga, anak menyalurkan
amarahnya secara tidak benar. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa penyelewengan anak terjadi karena dia
menahan diri untuk tidak durhaka kepada orang tuanya. Sekeras apapun keduanya.
Menceritakan
masalah kepada orang lain boleh jadi mengurangi beban emosi, akan tetapi jika
yang diceritakan adalah masalah keluarga, tidak semua orang bisa terbuka. Lagi-lagi
pemikiran “durhaka” mencegahnya, membuatnya disalahkan. Sehingga dia hanya diam
dan berharap suatu saat sikap mereka yang toxic
akan berubah tanpa bisa melakukan apa-apa.
Sebagai
orang tua, tentu tidak ada yang ingin anaknya nyeleweng. Namun, terkadang beberapa bahkan bisa jadi banyak orang
tua yang tidak sadar bahwa sikap nyeleweng
tersebut timbul atas sikap beliau sendiri. Akan tetapi, anak yang
dimanjakan juga tidak baik akibatnya. Metode pola asuh yang ideal memang
hakikatnya tidak ada, tapi orang tua bisa menggabungkan beberapa metode,
disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of
Family Medicine and Disease Prevention, dikatakan ada berbagai konsekuensi negatif yang bisa
dirasakan seorang anak yang pernah menghadapi keluarga disfungsional. Ketika
bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri
seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari
trauma masa kecilnya. Ia juga akan terus menerus merasa cemas, gugup,
kehilangan kendali, atau menyangkal perasaannya. Penumpukkan emosi negatif ini
yang akan mempengaruhi kondisi mental anak dalam jangka panjang. Kemudian, dia
akan mengulang perbuatan toxic ini
pada orang lain. Dengan kata lain, dia akan tumbuh dan mengembangkan
sifat-sifat toxic-nya. Sehingga,
tidak menutup kemungkinan dia akan memperlakukan anaknya, keluarganya, secara toxic pula. Lihat, betapa tidak baiknya
jika kita bersikap kurang tepat terhadap orang lain. Terutama pada anak.
Sekarang, sebagai anak,
jika kamu memiliki perasaan yang sama, maka teruskan membaca tulisan ini. Insya Allah saya berusaha membantu kamu
menemukan jalan keluar, meski belum tentu yang terbaik. Karena hanya Allah
semata yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi kamu. Oke?
Sejumlah pakar psikologi menyarankan bagi
anak-anak yang mengalami disfungsional keluarga untuk tidak terus menerus diam,
sesekali mereka harus mengambil tindakan berani demi kebahagiaan diri sendiri.
Sejatinya kebahagiaan itu sebuah pilihan, pilihan yang membutuhkan tindakan.
Secara tidak sadar, mereka akan mencari cara membahagiakan diri untuk
melampiaskan “penderitaan” emosi akibat toxic
family. Jika dilihat dari kaca anak remaja zaman now; hang out bareng
teman-teman, main game, nonton drakor,
dan lain-lain.
Menurut
saya, mengambil tindakan yang seperti itu masih lebih mending daripada anak yang menyimpan lama emosinya, akhirnya
meledak dengan amarah tak terbendung. Melawan perkataan orang tua. Membentak.
Karena sekali berani melakukannya, maka tidak ada jaminan dia tidak akan
mengulangi untuk yang kedua-ketiga kalinya.
Guys, ini bukan tentang siapa
menyalahkan siapa, ya. Ini sebagai pembelajaran bagi semuanya. Dan, kamu
sebagai yang tahu, harus mengambil sikap yang lebih tepat dan bijak terhadap
masalah yang kamu alami. Hindari berpikir pendek, pertimbangkan jangka
panjangnya. Kalau misalnya kamu sudah tau bahwa keluargamu disfungsional, maka
jadikanlah itu pelajaran saja. Jangan diambil hati, apalagi su’udzon pada Ilahi. Benar-benar hindari
prasangka buruk terhadap Tuhan, ya, Kawan. Kembali pada kutipan yang paling
saya sukai; likulli syai’in hikmatun. Tiap-tiap
sesuatu pasti ada hikmahnya, tinggal kita saja yang perlu membuka mata.
Perbanyak
istigfar, shalawat, membaca al-Qur’an. Tiga hal yang bisa membuat kita lebih
dekat pada Allah. Ketika kita sudah dekat, maka tidak ada tujuan lain atas
apa-apa yang kita lakukan kecuali hanya untuk-Nya. Sehingga, ketika kita berada
di tengah kebimbangan, goyah, insya
Allah, Allah akan mencegah kita tergelincir ke arah yang salah. Jangan lupa
iringi dengan kesadaran untuk menghindari sifat negatif dan terus memperbaiki
diri.
Untuk
para orang tua, bukan maksud menggurui, saya hanya orang biasa dengan ilmu yang
masih dangkal. Saya hanya ingin mencegah terjadinya “toxic” yang berakibat buruk ini. Anda juga berpikir disfungsional
keluarga ini hal yang tidak bagus untuk dipelihara, bukan? Mari kita sama-sama
perbaiki bangsa, dengan dimulai dari diri sendiri. Ketika anda melihat anak
anda ingin jalan-jalan dengan kawan-kawannya, maka hormati keputusannya dengan
mempertimbangkan “keberanian” mereka untuk izin. Ini masih lebih baik daripada
anak yang memutuskan ikut jalan tanpa izin. Pengawasan itu perlu, tapi jangan
sampai anak-anak merasa terintimidasi. Anak juga punya hak, maka berikan hak
mereka sewajarnya. Beri batasan boleh, perlu malah. Namun, jangan sampai
mengekang.
Kemudian,
bangun relasi yang baik antar anggota keluarga. Relasi yang buruk akan
memperburuk anggota yang lain. Jangan sampai anak merasa “menderita” di dalam
keluarga yang seharusnya bisa menjadi “rumah” baginya. Coba berbicara dari hati
ke hati dengan anak-anak, berusaha memahaminya, cari tau pola pikirnya. Insya Allah, jika anak berani terbuka
apa saja dengan orang tuanya, maka tercipta rasa “saling memahami” hingga
membentuk relasi yang baik. Wallahu
a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar