Minggu, 12 Juli 2020

TOXIC FAMILY: RELASI BURUK SELARAS DENGAN RESIKO DEPRESI - Artikel


     Bagaimana perasaan orang tua ketika anaknya membuat kesalahan. Kecewa? Pasti. Namun rasa kecewa itu yang terkadang disikapi dengan cara yang salah oleh beberapa orang tua. Lebih-lebih ketika sang anak diberi kepercayaan penuh atas sesuatu, sungguh rasa kecewa itu seakan menghantam dada amat keras.
     Tidak ada yang sempurna di dunia ini, itu sudah pasti sebagai kodrat manusia. Maka melakukan sebuah kesalahan merupakan hal yang wajar, tapi bukan berarti tidak patut disalahkan. Semua orang pasti memiliki kesalahan, dan pernah disalahkan. Jadi, semua orang juga pernah merasakan “ketika dia disalahkan” seperti apa.
     Ketika seorang anak menyadari bahwa kelakuannya yang salah membuat orang tua kecewa, menurut kalian apa yang mereka rasakan? Pasti mereka merasa amat sangat bersalah, menyesal, gelisah di dalam hatinya walau sedikit, walau tidak ditampakkan di depan kedua orang tuanya. Di tengah perasaannya yang berkecamuk ini, dia akan berpikir. Kondisi anak yang berada di dalam fase ini sangat amat sensitif; ketika dia merasa mengecewakan orang tuanya.
     Berpikir di sini bukan hanya berujung pada mencari letak kesalahannya, apa yang seharusnya dia lakukan. Namun, jika anak tersebut berkarakter “tidak suka disalahkan”, dia akan mencari kesalahan orang lain yang menyebabkan dirinya melakukan kesalahan itu. Seperti mencari sumber yang membuatnya melakukan kesalahan.
     Apakah kalian tahu istilah “toxic family”? Toxic family atau keluarga disfungsional adalah situasi di mana keluarga yang seharusnya menciptakan “rumah” bagi anak malah menjadi penghambat terhadap perkembangan dirinya. Hal ini disebabkan oleh relasi antar suami-istri, orang tua-anak, antar saudara kandung, atau kerabat. Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah ketika memikirkan akan berinteraksi dengan keluarganya, maka inilah salah satu indikasi yang menunjukkan toxic family.
     Ketika seorang anak melakukan sebuah kesalahan, dia disalahkan, kemudian merasa cemas, bingung, marah, alih-alih sadar dan meminta maaf, maka perlu dipertanyakan. Apakah dia mengalami toxic family? Hal ini menunjukkan bahwa dia merasa bingung bagaimana harus bereaksi pada orang tua yang menyalahkannya. Yang mana menampakkan adanya “sesuatu” di dalam “relasi”-nya dengan orang tuanya. Perasaan ini, di tengah kondisinya yang sensitif, tidak menutup kemungkinan akan menyeret sang anak kepada hal-hal yang negatif.
     Misalnya ketika kurang kasih sayang orang tua, maka seorang anak akan cenderung mencari perhatian pada orang lain. Lebih-lebih anak perempuan yang kurang kasih sayang dari sosok ayah, dia akan mencari perhatian dari banyak laki-laki sebagai gantinya. Ketika berprestasi tidak ada apresiasi, tapi sedikit berbuat salah akan dibentak tak berujung, maka jangan salahkan anak jika suatu hari dia merasa takut berlebihan, merasa harga diri rendah, dan menyimpan amarah yang dia salurkan secara depresif.
     Dalam agama, melawan orang tua adalah sebuah larangan. Kedurhakaan. Maka ketika anak dimarahi sekeras apapun oleh orang tuanya, boleh jadi dia hanya bisa diam menyimpan emosinya. Dia tidak ingin durhaka. Apalagi orangtua yang bersikap otoriter kepada anaknya. Otoriter memang terkadang perlu diterapkan untuk membangun kedisiplinan, tapi terlalu sering juga tidak baik. Dr. Mai Stafford dari University College London mengatakan, pola asuh otoriter akan membuat orang tua cenderung berkuasa dan dominan terhadap anak. Sehingga, anak menyalurkan amarahnya secara tidak benar. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa penyelewengan anak terjadi karena dia menahan diri untuk tidak durhaka kepada orang tuanya. Sekeras apapun keduanya.
     Menceritakan masalah kepada orang lain boleh jadi mengurangi beban emosi, akan tetapi jika yang diceritakan adalah masalah keluarga, tidak semua orang bisa terbuka. Lagi-lagi pemikiran “durhaka” mencegahnya, membuatnya disalahkan. Sehingga dia hanya diam dan berharap suatu saat sikap mereka yang toxic akan berubah tanpa bisa melakukan apa-apa.
     Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang ingin anaknya nyeleweng. Namun, terkadang beberapa bahkan bisa jadi banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap nyeleweng tersebut timbul atas sikap beliau sendiri. Akan tetapi, anak yang dimanjakan juga tidak baik akibatnya. Metode pola asuh yang ideal memang hakikatnya tidak ada, tapi orang tua bisa menggabungkan beberapa metode, disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
     Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention, dikatakan ada berbagai konsekuensi negatif yang bisa dirasakan seorang anak yang pernah menghadapi keluarga disfungsional. Ketika bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya. Ia juga akan terus menerus merasa cemas, gugup, kehilangan kendali, atau menyangkal perasaannya. Penumpukkan emosi negatif ini yang akan mempengaruhi kondisi mental anak dalam jangka panjang. Kemudian, dia akan mengulang perbuatan toxic ini pada orang lain. Dengan kata lain, dia akan tumbuh dan mengembangkan sifat-sifat toxic-nya. Sehingga, tidak menutup kemungkinan dia akan memperlakukan anaknya, keluarganya, secara toxic pula. Lihat, betapa tidak baiknya jika kita bersikap kurang tepat terhadap orang lain. Terutama pada anak.
     Sekarang, sebagai anak, jika kamu memiliki perasaan yang sama, maka teruskan membaca tulisan ini. Insya Allah saya berusaha membantu kamu menemukan jalan keluar, meski belum tentu yang terbaik. Karena hanya Allah semata yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi kamu. Oke?
     Sejumlah pakar psikologi menyarankan bagi anak-anak yang mengalami disfungsional keluarga untuk tidak terus menerus diam, sesekali mereka harus mengambil tindakan berani demi kebahagiaan diri sendiri. Sejatinya kebahagiaan itu sebuah pilihan, pilihan yang membutuhkan tindakan. Secara tidak sadar, mereka akan mencari cara membahagiakan diri untuk melampiaskan “penderitaan” emosi akibat toxic family. Jika dilihat dari kaca anak remaja zaman now; hang out bareng teman-teman, main game, nonton drakor, dan lain-lain.
     Menurut saya, mengambil tindakan yang seperti itu masih lebih mending daripada anak yang menyimpan lama emosinya, akhirnya meledak dengan amarah tak terbendung. Melawan perkataan orang tua. Membentak. Karena sekali berani melakukannya, maka tidak ada jaminan dia tidak akan mengulangi untuk yang kedua-ketiga kalinya.
     Guys, ini bukan tentang siapa menyalahkan siapa, ya. Ini sebagai pembelajaran bagi semuanya. Dan, kamu sebagai yang tahu, harus mengambil sikap yang lebih tepat dan bijak terhadap masalah yang kamu alami. Hindari berpikir pendek, pertimbangkan jangka panjangnya. Kalau misalnya kamu sudah tau bahwa keluargamu disfungsional, maka jadikanlah itu pelajaran saja. Jangan diambil hati, apalagi su’udzon pada Ilahi. Benar-benar hindari prasangka buruk terhadap Tuhan, ya, Kawan. Kembali pada kutipan yang paling saya sukai; likulli syai’in hikmatun. Tiap-tiap sesuatu pasti ada hikmahnya, tinggal kita saja yang perlu membuka mata.
     Perbanyak istigfar, shalawat, membaca al-Qur’an. Tiga hal yang bisa membuat kita lebih dekat pada Allah. Ketika kita sudah dekat, maka tidak ada tujuan lain atas apa-apa yang kita lakukan kecuali hanya untuk-Nya. Sehingga, ketika kita berada di tengah kebimbangan, goyah, insya Allah, Allah akan mencegah kita tergelincir ke arah yang salah. Jangan lupa iringi dengan kesadaran untuk menghindari sifat negatif dan terus memperbaiki diri.
     Untuk para orang tua, bukan maksud menggurui, saya hanya orang biasa dengan ilmu yang masih dangkal. Saya hanya ingin mencegah terjadinya “toxic” yang berakibat buruk ini. Anda juga berpikir disfungsional keluarga ini hal yang tidak bagus untuk dipelihara, bukan? Mari kita sama-sama perbaiki bangsa, dengan dimulai dari diri sendiri. Ketika anda melihat anak anda ingin jalan-jalan dengan kawan-kawannya, maka hormati keputusannya dengan mempertimbangkan “keberanian” mereka untuk izin. Ini masih lebih baik daripada anak yang memutuskan ikut jalan tanpa izin. Pengawasan itu perlu, tapi jangan sampai anak-anak merasa terintimidasi. Anak juga punya hak, maka berikan hak mereka sewajarnya. Beri batasan boleh, perlu malah. Namun, jangan sampai mengekang.
     Kemudian, bangun relasi yang baik antar anggota keluarga. Relasi yang buruk akan memperburuk anggota yang lain. Jangan sampai anak merasa “menderita” di dalam keluarga yang seharusnya bisa menjadi “rumah” baginya. Coba berbicara dari hati ke hati dengan anak-anak, berusaha memahaminya, cari tau pola pikirnya. Insya Allah, jika anak berani terbuka apa saja dengan orang tuanya, maka tercipta rasa “saling memahami” hingga membentuk relasi yang baik. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KLIMAKS COVID-19 - Artikel