Kamis, 23 April 2020

Syarifahku Bukan Habibmu - Long Story


    Aku duduk di sudut lingkaran perkumpulan, menyimak pembahasan rapat yang diadakan pagi ini dalam diam. Di ujung barisan ikhwan, seseorang berbicara panjang lebar mengenai rencana diadakannya perkumpulan ini.
Jamaah Syiar Islam Al Mukarrom, yang biasa disingkat SISMU, menjadi naungan kami berkumpul. Semua remaja ikhwan maupun akhwat yang ingin ikut andil dalam khidmah Abah, Syekhuna Al Mukarrom Habib Abdullah Al Kaffa, hadir disini. Salah seorang ikhwan yang dekat dengan beliau mengetuai kami, Mas Ali. Beliau menjelaskan apa yang bisa kita lakukan sebagai khidmah kepada Rasulullah lewat naungan jamaah cucu beliau, Habib Abdullah. 

    Aku sedari tadi memperhatikan Mas Ali yang berbicara dengan penuh wibawa dan kepercayaan diri. Sesekali aku menunduk kala dia memandang para akhwat. Siapalah aku? Lancang sekali jika kami sampai bertubrukan mata. 
Kemudian, Mas Ali menyuruh kami untuk memperkenalkan diri satu persatu, demi menciptakan ukhuwah di antara kami. Agar jika ada kegiatan jamaah, kami mengenal satu sama lain meski hanya nama.

    Mulai dari ikhwan, kami menyebut nama, umur, dan instansi saat ini. Giliranku, segera kudongakkan kepala menghadap akhwat. 

    "Aisyah Annisa Alawy. Umur 20. Saya sudah lulus sekolah asrama aliyah di Malang, sekarang saya totalitas di rumah, bantu Umi mengelola Masjid Komplek Al Izzah." sekilas aku tersenyum. 

    Kemudian perkenalan lima belas orang selesai. Mas Ali memberikan penjabaran kegiatan kami setidaknya sebulan ke depan. Beberapa ikhwan bertanya setelah Mas Ali selesai menerangkan, dia menjawab dengan santai dan luwes. Aku tersenyum kecil, kagum. 

    Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku bertemu Mas Ali. 

    Tahun terakhir di sekolah asrama aliyah di Malang, Ayah dan Ibu tidak bisa mengantarku seperti biasa. Alhasil, aku harus naik bis sendiri dari Surabaya. Karena pengalaman pertama, aku banyak mengandalkan hp-ku dalam situasi ini. Untungnya Ayah sudah membelikan tiket, sehingga aku tidak perlu bingung memesan lagi.

    Aku berdiri di terminal dengan tas ransel di punggung. Hp tak lepas dari tangan kananku, seraya kulihat cermat ciri-ciri bis yang harus kunaiki. 

    "Mbak, mau ke mana, Mbak?"

    Seseorang menyentuh lenganku, reflek aku menoleh dan mundur. Ternyata seorang wanita dewasa dengan jaket dongker. 

    "Ke Malang, Bu." Jawabku dengan senyum ramah. Kita harus ramah terhadap sesama, bukan? 

    "Bisa pinjam uang nggak, Mbak? Uang saya habis tadi di jalan buat beli tiket, lima puluh lima ribu dari Madura. Waktu saya cari makan, ternyata dompet saya tertinggal di rumah, Mbak. Saya nggak bawa uang banyak." Jelas wanita itu memelas. "Buat beli tiket aja kok, Mbak."

    Aku tertegun, mengiba. "Ibu mau ke mana?"

    "Ke Mojokerto, Mbak. Anak saya yang kuliah di sana sakit, Mbak. Saya kasihan dia sendirian di sana, saya mau jenguk dia. Mau lihat keadaannya." Si Ibu makin bersedih. 

    Aku meraba sakuku, aku juga tidak bawa uang lebih. Dengan enggan, aku memberinya dua lembar dua puluh ribu. "Saya juga nggak bawa uang banyak, Bu. Saya hanya bisa kasih segini, nggak apa ya, Bu? Apa cukup?"

    "Ya Allah, Mbak." wanita itu terdiam sebentar. "Nggak apa, makasih banyak. Ini sudah cukup."

    Aku mengangguk pelan. Kemudian beliau berlalu, menuju pojok terminal. Aku yang berdiri di pemberhentian bis ini menghela nafas memandangnya, kasihan. Jika saja tidak ada orang yang peduli padanya, bagaimana cara dia pergi ke Mojokerto? Atau tidak, bagaimana cara dia pulang? Aku berdo'a semoga ibu tadi dimudahkan oleh Allah. 

    "Sampean orang baru, ya? Pertama kali ke terminal ini?"

    Aku sedikit terkejut mendengar suara laki-laki dari sebelahku. Aku menoleh waspada, "Ehm, iya."

    Lelaki berkaus hitam itu mendengus, tersenyum kecil. "Pantas saja."

    Emang kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana dia bisa tau ini pertama kalinya aku ke terminal? Tunggu, kalau dia bisa tau orang-orang baru sekali lihat, berarti dia sering berada di sini. Bisa jadi dia pencopet yang sering Ayah ceritakan! 

    Aku mendadak menjadi sangat waspada, melirik tajam ke arahnya. Kaus hitam, jamper diikat di pinggang, sepatu boot, topi hitam, dan ransel pendaki di punggung. Dari penampilan memang tidak tampak seperti pencopet, tapi siapa tau? pencopet tidak ingin terlihat seperti pencopet kan? 

    Tapi aku masih penasaran bagaimana dia bisa tau aku orang baru di sini? Akhirnya kuberanikan diri bertanya, "Bagaimana anda bisa tau?"

    Dia menatapku sekilas, lantas melirik arah lain. "Sampean lihat Ibu itu?"

    Aku memandang ke arah yang ditunjuk lelaki di sebelahku. Kulihat wanita dewasa yang tadi kuberi uang untuk tiket tengah duduk di kursi tunggu dan memohon kepada gadis remaja yang duduk di sampingnya. Tak lama, gadis itu memberikan uang lima puluh ribu kepada si Ibu. Aku terkejut melihatnya. 

    "Loh, tadi aku sudah kasih uang buat tiket. Apa kurang, ya? Semahal itukah tiket ke Mojokerto?" gumamku pelan, tapi sepertinya si lelaki kaus hitam mendengarku. 

    "Dia tidak akan pernah cukup meminta uang." katanya pelan, hingga hanya bisa didengar olehku saja.

    Aku meliriknya, "Kenapa begitu?"

    "Dia memang begitu, meminta-minta uang ke orang lain dengan alasan beli tiket lah, atau belum makan lah, dompet ketinggalan. Dan tidak hanya satu orang dia mintai, sehari dia bisa dapat sejuta dua juta, loh." jelasnya tanpa memandang ke arahku, dia masih memperhatikan ibu tadi di ujung bangku. 

    Aku membelalakkan mata. Dua juta! 

    "Iya, targetnya pasti orang baru, bagus-bagus kalau kelihatan kaya. Soalnya orang-orang yang sudah biasa di sini pasti sudah tau dia bagaimana dan tidak mungkin memberinya uang. Dia tau mana orang sini, dan yang bukan." lanjutnya lagi.

    Aku terdiam mendengar semua kabar mengagetkan ini. Kuperhatikan orang-orang sekitar, banyak yang melirik sirik ke arah Ibu di ujung bangku tunggu. Sepertinya apa yang dikatakan lelaki ini benar adanya. Kenapa dia tidak memperingatiku sebelum Ibu tadi meminta uang? Kan aku jadi rugi! Batinku kesal. Tiba-tiba saja aku merasa marah. Kulihat gadis yang juga menjadi korban penipuan, dia tampak santai saja. Aku menghela nafas, pasti dia tidak tau kalau sudah ditipu.

    TOOOT! 

    Sebuah bis memasuki terminal. Aku cepat-cepat mencocokkan bis tersebut dengan gambar bis yang Ayah kirim ke hp. Cocok! Aku segera mendekat.

    "Awas!" 

    Tas ranselku ditarik dari belakang, tepat sebelum hidungku menabrak bapak-bapak gemuk yang turun dari bis. Lelaki kaus hitam itu lagi. 

    "Hati-hati! Biarkan penumpang bisnya turun dulu. Biasanya memang begitu, kan?" katanya. 

    Aku merutuki diri sendiri, memalukan saja! Meski tidak tau apa-apa, harusnya aku memperhatikan calon penumpang lain dan mengikuti mereka. 

    Setelah para penumpang yang bertujuan Surabaya turun semua, barulah aku menaiki tangga masuk bis. Kulihat sebagian besar kursi sudah terduduki. Segera kumencari kursi kosong. Di barisan tengah, kulihat seorang gadis remaja duduk sendiri. Dia adalah gadis korban penipuan wanita dewasa tadi. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya. 

    Sepanjang perjalanan, aku beristighfar dan membaca shalawat pelan. Gadis di sampingku tertidur pulas dengan earphone di telinga, wajahnya polos sekali. Sepertinya dia masih SMA. 

    Sesampai di terminal Malang, aku beserta beberapa penumpang lain turun. Panas matahari dan asap-asap tak sehat segera menerpa wajahku tanpa tedeng aling-aling. Segera kuberlari kecil ke tepi seraya menutupi mulut dengan kerah jaket. Aku membuka hp, mencari tau setelah ini bagaimana. 

    Ayah bilang, aku harus naik angkot. Aku mengedarkan pandangan, di sini banyak sekali angkot! Kucoba menghubungi teman-teman asramaku, tapi mereka sedari tadi slow respon. Mungkin mereka juga sibuk. Ah, mungkin semua angkot ini sama saja, aku hanya harus bilang tujuanku ke mana, kan?

    "Katanya mau ke Malang? Kok, naik angkot ini?" ini suara yang baru-baru ini kukenal. Aku menoleh, lelaki kaus hitam dengan ransel pendaki di punggung.

    Aku mulai kesal padanya yang suka sekali membuatku malu. Aku memalingkan muka, "Terserah aku kan, mau naik angkot yang mana?"

    "Angkot ini ke Dinoyo, yang itu ke Landungsari, yang di ujung sana ke Tidar. Sampean mau ke mana?" jelasnya, menunjuk angkot demi angkot yang berbeda.

    "Sekolah Asrama Aliyah Al Mukarrom." jawabku masih sedikit ketus. 

    Lelaki itu tertegun, "Oh, santri di sana? Kebetulan saya juga mau ke sana, mau sowan ke Abah Habib Abdullah, dan beberapa ustad senior. Jaket almamaternya sudah beda, ya? Di zaman saya dalamnya warna hijau, sekarang hitam, ya."

    Aku diam tidak menanggapi, dia seperti ingin sok kenal sok dekat denganku.

    "Kalau ke sana, ada angkot jalur sendiri. Ayo, ikut saya." 

    Dia berjalan menuju angkot dengan garis badan bawahnya berwarna biru muda. Aku mengikuti langkahnya yang kokoh, cepat, dan tegas. Seperti figur seorang pemimpin. 

    Tunggu, apa yang aku pikirkan?! 

    Di dalam angkot hanya ada tiga ibu dengan dua anak kecil, dua pemuda berkacamata, si lelaki kaus hitam, dan aku. Angkot berjalan tidak cepat, namun tidak lambat. Aku membaca shalawat dalam hati. Di bangku pojok, sang ibu berusaha menenangkan anaknya yang menangis.

    Angkot beberapa kali berhenti di tempat-tempat ramai. Tak lama angkot ini berhenti di depan sekolah asramaku. Aku mengucap syukur dan lekas turun. Lelaki berkaus hitam turun setelahku. Aku membayar ongkos dan berterima kasih pada supir.

    "Oke, dari sini sudah tau ke mana, kan? Saya masih ada perlu ke rumah ustad senior agak jauh dari sini, jadi nggak masuk." 

    Lelaki bertas ransel pendaki itu balik badan, menuju garis menyebrang dengan banyak mobil berseliweran. Aku masih diam seribu kata. Menatap punggung itu di tengah bising klakson. Sejenak kuberpikir, betapa tidak berakhlaknya diriku. Ada orang yang bersedia membantu tapi aku tidak berterima kasih sama sekali. Malah sebaliknya, aku bersikap ketus dan sempat berpikir bahwa dia adalah pencopet. 

    Aku malu sekali pada Allah! Allah pasti yang mengirimnya untuk membantuku! Astaghfirullahal adzim, aku beristighfar dalam hati. 

    "Jazakallah!"

    Aku mengapit dua telapak tangan ke sisi pipi, sedikit berteriak. Berharap lelaki itu mendengarnya. Alhamdulillah, dia menoleh. Menatapku. 

    "Jazakallah, Mas! Eh--" Aku bingung, takut salah ucap. Aku lupa kalau aku tidak tau namanya. Dan aku tidak begitu mengenalnya. 

    Di antara keramaian, di bawah teriknya mentari yang menyiram wajah, dia tertawa. Sebuah tawa rendah halus menenangkan. Matanya menyipit, menarik ujung bibir hingga menampakkan deretan gigi putih rata. Anak rambutnya bergerak mengikuti ayunan kepalanya. Aku baru sadar bahwa ia memiliki alis tebal dan lesung di pipi. 

    "Baarakallah 'alayk! Assalamu'alaikum!" serunya, membelakangiku dengan tangan kanan melambai. 

    Untungnya, dia tidak menghadap ke sini. Untungnya, dia tidak melihat ke arahku saat ini. 

    Aku, yang mematung, merasakan alam semesta ini terhenti. Angin berhenti berhembus. Kelima panca indraku mendadak menajam. Kebisingan memudar. Tiba-tiba saja matahari siang terasa lebih hangat. Dadaku bergemuruh menjerat. Tanganku terlipat, bersedekap di depan dada. 

    Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakannya. 

    Astaghfirullah, Maha Suci Allah yang sudi mengampuni dosa.

    Allahumma shalli 'ala Muhammad, oh Allah, apakah ini sebuah rasa? Atau apakah ini, ulah syetan sang penipu daya? Ya Allah, jangan biarkan rasa ini mengalahkan rasa cinta dan kagumku padaMu. 

    Aku bergumam lirih, sangat lirih hingga hanya bisa didengar angin. 

    "Wa'alaikumussalam warahmatullah."

***

    Di lain waktu, aku akhirnya tau namanya. 

    Orang-orang memanggilnya Mas Ali. Dia aktif di beberapa organisasi religius di kampus, masjid komplek, maupun jamaah Islam Al Mukarrom sendiri. Aku sempat datang ke dua seminar Islam dimana Mas Ali menjadi salah satu narasumber di sana. Pintar, alim, dan ramah. Senang membantu siapa saja. Dihormati yang muda, disenangi yang tua. 

    "Subhanallah walhamdulillah. Sungguh nikmat yang besar bisa bertemu cucu Rasulullah." 

    Aku menoleh, Mas Ali tersenyum penuh arti padaku. Aku segera memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah. "Mas Ali... Tau?"

    "Tau. Dulu pertama kali kamu naik bis, di jaket almamatermu ada name tag nya. Tulisannya Syarifah Aisyah Annisa, ternyata masih ada Alawiy-nya, ya?" jawab Mas Ali seraya mengambil sendok di mangkuk. 

    Aku menunduk malu, tidak sadar kalau Mas Ali melihat name tag ku kala itu dan masih mengingatnya. Beberapa kawan akhwat duduk di kursi pinggir. Rumah Nana memang sering dipakai untuk kegiatan jamaah SISMU. Beliau juga dengan senang hati akan menyediakan konsumsi usai kumpul. Seperti sekarang, Ibu Nana menyiapkan sup iga untuk kami. Aku duduk di sebelah para akhwat, di ujung. Mas Ali duduk dua kursi dariku. 

    "Marga apa Syarifah Aisyah?" Mas Ali bertanya lagi. 

    Aku sedikit tertegun Mas Ali tau tentang marga, jarang ada yang paham hal ini di Surabaya. Aku sejenak menelan suapan pertamaku sebelum menjawab, "Bin kutbhah. Binti kutbhah, kalau saya."

    "Kenapa tadi tidak bilang Syarifah Aisyah Annisa Alawiy binti Kutbhah saat perkenalan? Itu kan, bukan sesuatu yang memalukan? Mulia, malah. Subhanallah." Mas Ali berkata seraya mengaduk kaldu di mangkuknya. 

    Aku terdiam sejenak, tersenyum. "Biar mereka tau sendiri saja nanti."

    Mas Ali memanggut paham. Kemudian kami makan dalam diam. Aku tidak tau bahwa salah satu dari kawan akhwat memperhatikan kami. 

    Marga dalam keturunan Nabi Muhammad ada banyak jumlahnya, seperti Assegaf, Al Jufri, bin Yahya, Al Kaff, Ba'bud, dan lain sebagainya. Kami secara umum disebut Ba'alawiy, Bani 'Alawiy, yaitu keturunan 'Alawiy bin Ubaidullah bin Ahmad yang merupakan cucu keturunan murni Husain putra Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah binti Muhammad. Dzurriyyah, sebutan lain keturunan Nabi, masih banyak tersebar di dunia, pun Indonesia. Habib untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan. 

    Garis keturunan ini terus berlanjut hingga sekarang. Namun bukan untuk main-main, semua keturunan laki-laki wajib memiliki buku khusus Dzurriyyah yang berisi daftar garis keturunan dari Baginda Nabi hingga dirinya. Lalu, si laki-laki tersebut harus menuliskan nama anak-anaknya dan distempel secara resmi, sebagai tanda bahwa mereka memang cucu keturunan Rasulullah. 

    Berbicara tentang keturunan, para Dzurriyyah memiliki peraturan khusus bagi mereka dalam hal pernikahan. Semua keturunan laki-laki Habib diperbolehkan menikahi gadis manapun, Syarifah atau bukan. Karena garis keturunan akan tetap menurun dari si laki-laki, bukan perempuan. Namun bagi para Syarifah, menikahi lelaki Habib seakan-akan menjadi kewajiban bagi mereka jika tidak ingin garis keturunannya putus. Sedangkan, sebagian besar Dzurriyyah fanatik terhadap garis keturunan mereka. Mereka tidak ingin garis keturunan Rasul putus begitu saja hanya karena anak perempuan mereka tidak menikahi Habib. Mereka ingin nasab Rasul terus berlanjut. 

    Minggu berjalan minggu, kami anggota jamaah remaja SISMU mulai aktif di keorganisasian SISMU sentral dan mulai diakui serta dipandang. Sebenarnya kami hanya mengikuti instruksi Mas Ali saja. Jika ada panggilan khidmah, kami selalu berusaha hadir ke tempat. Seperti membagi sembako pada para yatim, membantu membagikan konsumsi di pengajian Abah Habib Abdullah, bahkan menjadi panitia sanlat (pesantren kilat) di asrama tsanawiyah dan aliyah naungan Abah Habib Abdullah di Malang. 

    Semua ini berkat Mas Ali yang memiliki korelasi dengan orang dalam di SISMU. kami sangat terbantu olehnya. 
Suatu hari di bulan Ramadhan, kami para akhwat sedang berkumpul setelah selesai membagikan jajanan untuk buka puasa gratis di perempatan besar dekat rumah Nana. Ibu Nana menyiapkan makanan buka puasa untuk kami, jadi kami memutuskan untuk menetap sebentar. 

    Mereka membahas Mas Ali. Aku tau mereka sering membahasnya, Mas Ali memang tipe idaman para akhwat. Biasanya aku tidak tertarik pembicaraan mereka, tapi kali ini ada sesuatu yang membuatku penasaran. 

    Mas Ali keturunan Arab. Dan ibunya seorang Syarifah. 

***

    Sejak mendengar kabar 'ibunya seorang Syarifah' sepertiku, perasaan itu tumbuh semakin dalam. Perasaan yang sungguh menyiksa di malam temaram bulan, atau pagi di kala fajar, atau siang di bawah rimbun dedaunan, atau petang di kala senja memampang. 

    Betapa aku merasa sangat berdosa, telah lancang memikirkan lelaki asing yang tak memiliki hubungan darah apapun denganku. Aku malu sekali pada Allah yang seharusnya kuingat setiap waktu, atau Rasulullah yang seharusnya kurindu di setiap tidurku. Mas Ali itu suci hatinya. Aku tidak mau hanya karenaku, dia menjadi ternoda. 

    Ya Allah, jika dia adalah yang terbaik untukku, maka dekatkan dia padaku dengan caraMu. Ya Allah, tapi jika dia belum yang terbaik bagiku untuk saat ini, untuk hari ini, untuk detik ini juga Ya Allah, aku mohon jangan biarkan dia mengambil hatiku, menyelimuti hatiku, menggetarkan hatiku dengan perasaan yang seharusnya kualamatkan padaMu Ya Allah. Aku tidak ingin buta dan jauh dariMu, karena Engkau lebih penting untuk saat ini. Namun, jika dia memang yang terbaik untukku nanti, jatuhkanlah hatiku padanya di saat yang tepat, di waktu yang Engkau ridloi. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tau, dan hanya Engkaulah yang tau apa-apa yang terbaik bagiku. Amin. 

***

    "Ummah, Ummah tau Mas Ali?"

    Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada Ummah. Selama ini aku tidak pernah menyebut satu nama lelakipun pada Ummah, yang sangat dekat denganku. Alhasil, Ummah yang sedang menggoreng ikan sedikit terkejut mendengarnya, menatapku yang santai memotong wortel. 

    "Mas Ali ketua jamaah remaja SISMU itu?" tanya Ummah memastikan. "Iya, ibu-ibu jamaah sering cerita."

    "Ibunya Mas Ali Syarifah, Ummah." aku berkata, tanpa sadar sudut bibirku sedikit tertarik membentuk sungging. 

    Dan Ummah melihatnya. Beliau kembali fokus pada wajan. "Tapi kenapa dia tidak dipanggil Habib atau Sayyid kalau memang Dzurriyyah?"

    Gerakan tanganku terhenti, aku tidak pernah memikirkannya. Sejenak kutercenung. "Mungkin Mas Ali punya alasan sendiri, Ummah?"

    "Semua Habib itu, pasti dipanggil Habib. Tidak ada alasan menyembunyikannya." Nada bicara Ummah sedikit dingin. Beliau lalu memandangku, "Kamu ini juga, sering menghilangkan Syarifahmu sendiri. Jangan begitu, Ifah. Itu namamu dan takdir muliamu. Apa kamu tidak bangga menjadi keturunan Rasulullah? Semua orang menginginkannya, kenapa kamu malah menyembunyikannya?"

    Aku hanya diam. Aku memang tidak tau Mas Ali dari marga apa, dan kenapa dia tidak dipanggil Habib. Abah seorang Habib, Ummah juga Syarifah. Keduanya sangat fanatik pada garis keturunan. Ummah sangat keras mendidikku dengan aturan-aturan keluarga, terutama masalah laki-laki non-Dzurriyyah. Kulihat wajah Ummah dingin dan datar, aku menghela nafas. 

***

    "Aisyah! Hu.. Hu.."

    Mbak Yasmin, salah satu anggota jamaah remaja SISMU senior mampir ke rumah setelah selesai kuliah. Katanya, dia sedang galau dan ingin curhat. Ia melemparkan diri ke kasur dan menabrakkan wajahnya ke bantal. 

    Aku dan Mbak Yasmin memang dekat sejak SD, sering main bareng ketika pengajian dulu. Mbak Yasmin lulusan pondok, pintar, anggun, punya hafalan meski belum khatam, dan amat cantik. Kulitnya kuning langsat, bibirnya merah alami. Matanya besar, bening. Tapi meski terlihat kalem dan tidak banyak omong, Mbak Yasmin aktif dalam organisasi. Ia selalu ceria di dalam keadaan apapun, pencerah keruh suasana, pencair kebekuan antar personal member. Banyak ikhwan yang meliriknya. Meski begitu, dia tidak sungkan berteman dengan siapa saja. 

    Aku mendekati Mbak Yasmin, "Kenapa, sih, Mbak Yas? Sampai nangis, loh. Tumben."

    "Syah, aku banyak dosa!" serunya teredam permukaan bantal. 

    Aku tertawa, "Dih, memangnya aku? Semua orang punya dosa, Mbak Yas. Hanya Rasulullah yang nggak, kan?"

    Mbak Yasmin bangkit duduk, balik badan menghadapku. Ia mendekap bantal. Aku beringsut duduk di hadapannya, siap mendengarkan cerita. Jarang sekali mendapatkan Mbak Yasmin jatuh begini. Biasanya hanya masalah akhirat yang bisa membuatnya sedih, itupun tidak sampai menangis di depanku. 

    "Kamu tau kan, selama ini aku nggak pernah berurusan sama ikhwan manapun, Syah? Aku berusaha keras nggak dekat-dekat sama mereka, biar nggak tenggelam ke 'masalah hati' kayak anak jaman sekarang." dia masih terisak.

    Aku mengangkat alis. "Terus?"

    "Aku," Mbak Yasmin menggenggam tanganku, menunduk dalam. "Suka sama orang, Syah."

    Sepersekian detik kuterdiam, lantas tertawa terbahak. Mbak Yasmin menatapku kesal, bibirnya manyun. 

    "Ih, kok ketawa? Serius ini!" ketusnya, memukulku dengan bantal.

    "Mbak Yasmin nggak pernah kayak gini, loh. Langka ini!" ujarku di sela tawa. 

    "Oke, terus masalahnya apa?"

    Mbak Yasmin membisu, membuat tawaku perlahan memudar. "Gimana kalau ini dosa, Syah? Memikirkan yang bukan muhrim kita itu, kan dosa? Apalagi tanpa ada tujuan yang jelas, atau disengaja. Hatiku rasanya kotor banget, Syah. Kamu paham kan, maksudku?"

    Aku mengangguk, aku pernah merasakan hal yang sama. "Siapa ikhwannya? Aku boleh tau?"

    Samar namun jelas, wajah Mbak Yasmin yang amat cantik memerah polos. Ia melirik ke arah lain, jarinya memainkan ujung seprai malu. Aku sedikit tersenyum, ternyata Mbak Yasmin yang alim ini bisa salah tingkah juga karena ikhwan. Ini kali pertama. 

    "Dia itu agamanya bagus, Syah. Alim, santun, anaknya ustad. Beberapa kali aku bicara sama dia, tapi dia hampir nggak pernah liat ke aku. Malah aku yang liat ke dia terus, hehe. Ya, tapi aku langsung istighfar, sih. Terus ikut nggak liat ke dia. Habisnya kan, awalnya aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia, Syah. Jadi aku biasa aja kayak temen itu, loh." Mbak Yasmin bercerita. 

    "Pernah aku tanya hafalannya sampai mana, dia nggak mau jawab. Tapi waktu aku suruh dia sambung ayat yang aku baca, kamu tau? Tajwidnya, makhrajnya, bener semua, Syah. Jarang kan, ada orang yang menghafal pakai tajwid yang bener? Jaman sekarang main asal aja kalau hafalin Qur'an, yang penting hafal. Padahal dosa." Mbak Yasmin memandang seprai, tersenyum lembut. "Aku kagum sama dia, Syah. Kagum banget sama agamanya. Yang kamu denger ini hanya secuil kebaikan dia aja. Masih banyak yang lain."

    Aku mengulum senyum. Ikhwan yang bisa membobol hati Mbak Yasmin ini pasti bukan ikhwan sembarangan. "Gimana bisa kenal?"

    "Mm.. Sebenernya kamu mungkin kenal, karena dia anak jamaah SISMU. Lulus kuliah tahun lalu. Tapi aku kenal dia waktu terakhir kali ikut pesantren kilat sama akhwat-akhwat yang lain di Malang, dan dia jadi panitia baru." Mbak Yasmin berkata. 

    Aku mengingat-ingat para ikhwan yang aku tau. Sebenarnya takut dosa sih, tapi aku penasaran. Ikhwan yang lulus kuliah tahun kemarin, alim, pinter, mengajinya bagus... Mas Azam? Mas Fahmi? Mas Qoyyum? Atau sepupuku Habib Razaq? Hmm... Tak ada seorangpun yang sesuai muncul di kepalaku. Entahlah, aku tidak terlalu kenal ikhwan senior. 

    Tiba-tiba muncul pertanyaan di kepalaku. 

    "Dia tau kalau Mbak Yasmin suka?" tanyaku penasaran.

    Di luar dugaanku, gadis cantik tersebut mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Tapi, dia pernah sekali membahas pernikahan seingatku, Syah."

    Mataku berbinar, "Oya? Dia bilang apa? Akan melamar Mbak Yasmin?"

    "Hush! Bukan, astaghfirullah!" Mbak Yasmin tertawa, mukanya merah. "Dia bilang kalau mau menikah di umur ketika Rasulullah menikahi Khadijah."

    "Umur empat puluh?"

    "Umur dua lima, Aisyah Syarifahku, Ya Allah! Umur empat puluh itu ketika beliau menjadi nabi!" seru Mbak Yasmin gemas. 

    Aku menyengir polos. "Oiya, lupa."

    "Iya, sedangkan dia lahir tahun 1992. Jadi, dia umur dua lima itu tahun depan."

    "Dan tahun depan, Mbak Yasmin wisuda, lulus kuliah. Dilamar, deh!" aku bertepuk tangan, senang dengan prediksiku. 

    "Istighfar kamu, Aisyah, masya Allah. Nggak boleh gitu. Siapa tau Mas-nya sudah punya akhwat yang dia pilih." Mbak Yasmin memukulku dengan bantal kedua kalinya. 

    Aku tersenyum menatapnya. "Ikhwan kayak gitu, nggak mungkin bicara tentang pernikahan ke sembarang akhwat, Mbak Yas. Dia pasti kasih kode ke Mbak Yasmin."

    Mbak Yasmin menghela nafas. "Aku nggak pernah memikirkan dia untuk main-main, Syah. Pernah terlintas pikiran seperti katamu itu, tapi aku nggak mau yakin dulu. Kan, masih belum ada kata serius. Aku ingin jaga hati dulu sebelum ada kepastian, Syah. Dosa."

     "Mbak Yasmin banyak do'a aja ke Allah, Mbak. Aku pernah kayak Mbak Yasmin, bucin gitu, hehe. Tapi aku selalu berdo'a setelah shalat tahajjud, kalau dia memang yang terbaik untukku di masa depan, maka jangan jatuhkan hatiku sekarang. Terserah Mbak Yasmin kata-katanya, tapi intinya gitu." aku berkata pelan. 

    Dulu ketika perasaanku pada Mas Ali semakin dalam, aku selalu menambahkan do'a itu setiap selesai shalat, terutama shalat tahajjud. Alhamdulillah. Allahu Muqollibul Qulub. Sekarang hanya bekasnya, tidak separah dulu hingga membuatku merasa terhina karena tenggelam dalam hasut syetan. Meski rasa kagum itu masih ada, namun dalam batas wajar. 

    Mbak Yasmin terdiam mendengar kalimat yang keluar dari bibirku. Aku ikut bungkam, tersenyum canggung padanya. Bingung mengapa dia malah diam menatapku seperti itu.

    Lalu ia tersenyum, "Syarifah ternyata sudah dewasa, ya?"

    Wajahku memerah malu, lantas memukul-mukulnya dengan guling. Mbak Yasmin hanya tertawa-tawa, puas menggodaku. 

    Ah, Mas Ali. Jika Mas Ali bukan yang terbaik bagiku untuk saat ini, jangan jatuhkan hatiku padanya sekarang Ya Allah. Amin. 

***

    Bulan Ramadhan ini, kami anggota jamaah remaja SISMU diamanahi Ustad Muntaza, ketua umum jamaah SISMU Malang, untuk menjadi panitia pesantren kilat di sekolah asrama Aliyah Al Mukarrom Malang lagi. Mungkin beliau melihat kinerja kami yang cukup bagus di lapangan. Padahal di belakang kesuksesan acara itu, aku masih ingat beberapa anggota jamaah remaja yang cekcok dan tidak mau ikut andil. Untungnya Mas Ali bisa menengahi hingga akar masalah tuntas. 

    Aku yang dulu hanya menjadi anggota sesi acara, sekarang diangkat menjadi koordinator acara dari pihak akhwat. Tugas koor acara mempersiapkan, mengawasi, dan menjamin acara berjalan lancar tanpa masalah. Meski ada koor bidang di bawahnya, koor acara harus memantau kerja mereka secara maksimal. Aku sedikit protes dengan keputusan ini, tapi tak ada seorangpun yang menolak keputusan final.

    Kami baru saja selesai rapat di rumah Nana, dan seperti biasa pula, Ibu Nana selalu menyediakan 'sesuatu' untuk kami. Cap cay kali ini menjadi pilihan beliau.

    Aku duduk di sofa ruang tamu, bersama tiga akhwat lain. Mbak Yasmin duduk di kursi dekat dinding, bersama teman kampusnya. Kulirik ke belakang, Mas Ali makan di kursi plastik sedikit jauh di belakangku, dekat dinding. Aku memberanikan diri menoleh ke arahnya. 

    "Mas Ali kenapa milih aku jadi koor acaranya? Masih banyak jamaah senior yang lain, kan?" tanyaku berbisik. 

    Mas Ali menatapku sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya. "Kami yang senior ingin melatih kalian para junior agar bisa mengembangkan jamaah remaja ini. Kami nggak selamanya sama kalian terus, kan? Kita semua nggak selamanya remaja, Syarifah Aisyah juga."

    Sejak tau margaku, Mas Ali selalu memanggil dengan Syarifah. Sehingga semua kawan jamaah menjadi tau dan mengikutinya. 

    "Tapi kenapa aku? Masih ada Mbak Safika, Mbak Dania, Mbak Yasmin.." aku berbisik lagi, masih tidak mengerti.

    "Agar Syarifah bisa belajar dan mengembangkan organisasi ini nantinya." jawab Mas Ali. 

    Aku diam sejenak, sebenarnya bukan perihal itu yang ingin aku tanyakan padanya. "Ibu Mas Ali katanya Syarifah, tapi kenapa Mas Ali tidak dipanggil--"

    "Habib Ali!"

    Aku terkejut mendengar kawan Mas Ali memanggil. Kulihat Mas Ali yang sudah selesai makan berdiri mendekati kawannya itu dan memukul ringan lengannya. 

    "Siapa yang kamu panggil Habib, hah?" katanya pura-pura marah. 

    "Lah, kamu kan, Habib Ali memang!" teman Mas Ali tertawa. 

    "Iya, iya!" timpal yang lain. 

    Aku tertegun. Jika Mas Ali memang Habib, kenapa dia mengelak ketika temannya memanggil 'Habib'? Bukannya dia pernah bilang bahwa itu julukan yang mulia dan tidak seharusnya disembunyikan? 

    Ingin sekali aku bertanya alasannya pada Mas Ali ketika di Malang saat menjadi panitia sanlat. Akan tetapi selalu saja ada hal lain yang membuatku batal bertanya. Hingga acara pesantren kilat selesai dan kami semua pulang. 

    Dua hari sebelum lebaran, sebuah kabar datang dari Mbak Yasmin. Dia menelponku setelah isya, ketika aku hendak tadarrus. Dia berjanji hanya bicara sebentar. 

    "Sebenarnya lima hari lalu orangtuaku bilang aku akan dijodohkan, Syah. Aku sudah berniat melepas ikhwan yang pernah kuceritakan. Tapi entah bagaimana, aku tidak tau dia dengar dari siapa, dia langsung menelponku dan bilang akan datang ke rumah! Dugaanmu benar! Malam ini juga, dia akan melamarku, Syah! Masya Allah!"

    Aku tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Mbak Yas. Alhamdulillah. Allah memang Maha Baik dan Maha Tau apa yang ada di dalam hati Mbak Yasmin. Jadi, kapan, nih?"

    "Lamarannya insya Allah malam ini, Syah. Mungkin biar aku nggak jadi dijodohin, hehe. Tapi akadnya tahun depan, setelah aku lulus kuliah. Do'akan aku, ya, Syarifah?" ada nada bahagia dari suara Mbak Yasmin. 

    "Yang terbaik buat Mbak Yasmin aja. Amin."

    Mbak Yasmin mengucap salam dengan riang dan menutup telpon. Aku terkikik kecil, menjawab salamnya. 

    Usai satu juz membaca Qur'an, aku keluar kamar untuk makan kolak yang tadi belum kuhabiskan. Ummah tampak duduk di meja makan, meminum jus mangga seraya mengecek hp. Abah sepertinya masih berdiam di masjid komplek. Aku mengambil mangkuk kolak dari dalam kulkas. 

    "Ifah, Ummah tadi sudah tanya sepupumu Habib Razaq." 

    Ummah berkata. Aku menoleh, menghentikan langkah sejenak. "Tanya apa, Ummah?"

    "Ali itu bukan Habib, Fah."

    Demi mendengarnya, duniaku serasa berguncang. Aku berpegangan pada ujung meja, kepalaku tiba-tiba pusing. Ummah yang sadar menatapku heran. Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. Kakiku seakan menancap di tempat dengan lutut yang lunglai lemas.

    "Mas Ali keturunan Arab, Ummah. Ibunya Syarifah sepertiku, seperti Ummah. Temannya juga pernah memanggilnya Habib." kataku membela. Masa Habib Razaq tidak pernah dengar? Jelas-jelas dia itu kawan Mas Ali. 

    Ummah meletakkan gelas jus ke meja. Beliau memandangku serius, 

    "Ifah, seorang Dzurriyyah itu sangat mulia derajatnya, keturunan Nabi Muhammad. Banyak yang ingin berada di posisi tersebut, dan banyak yang mengaku-ngaku. Seperti katamu tadi, keturunan Arab, belum tentu Dzurriyyah. Ada keturunan para sahabat juga, namanya Masaih. Ada juga Dzurriyyah yang membiarkan anak-anaknya menikahi selain Dzurriyyah. Nanti anak gadisnya yang Syarifah ketika menikahi Masaih atau selain Dzurriyyah, kadang suaminya mengaku-ngaku bahwa anaknya adalah Dzurriyyah. Padahal kamu tau sendiri kan, kalau garis keturunan itu menurun dari laki-laki."

    Aku bungkam lama, mendengarkan kalimat Ummah. Jika ada yang berbicara maka tidak boleh dipotong, beliau selalu keras mendidik akhlak mu'amalah ma'an nas. 

    "Nah, Ali itu Masaih. Ibunya memang Syarifah, tapi ayahnya Masaih. Ayahnya mengaku-ngaku kalau anaknya itu seorang Habib, tapi Ali-nya sendiri yang selalu mengelak orang-orang jika memanggilnya begitu." jelas Ummah lagi. 

    Aku ingat ketika Mas Ali dipanggil Habib, dia seakan tidak mau. Ternyata dia memang bukan Habib. Kenapa tadi tidak bilang Syarifah Aisyah Annisa Alawiy binti Kutbhah saat perkenalan? Itu kan, bukan sesuatu yang memalukan? Mulia, malah. Subhanallah. Kalimat Mas Ali kala itu terngiang di kepalaku. 

    Aku terdiam. Lama. Aku tidak bisa berharap pada Mas Ali lagi. Dia bukan seorang Habib. Dia bukan Dzurriyyah. 

    "Syarifah sayang..." 

    Ummah memanggil pelan penuh kasih, menarikku lembut untuk duduk di sebelahnya. Ia menggenggam tanganku. 

    "Menjadi seorang Dzurriyyah itu karunia Allah, sayang. Kamu dipilih oleh Allah menjadi salah satu keturunan Rasulullah, manusia paling mulia di muka bumi yang kemuliaannya bahkan diistimewakan Allah sendiri dalam Al-Qur'an. Kamu seharusnya bersyukur. Kamu juga harus mengerti, kenapa Ummah sama Abah tidak mau kamu menikah selain Dzurriyyah. Ini semua demi Rasulullah, sayang. Kami tidak ingin keturunan beliau putus. Kami ingin anak cucu beliau saling terus berhubungan keluarga. Pahami dan syukuri itu."

    Ummah menasihati lembut. "Jika saja Ali itu seorang Dzurriyyah, Fah. Ummah dan Abah rela datang ke rumahnya demi kamu, melamarnya untukmu. Kami sayang padamu, tapi Ali bukan Habib. Ummah tidak mau kamu sama Ali bukan berarti Ummah tidak sayang kamu. Kamu paham, kan?"

    Aku masih diam. Entah mengapa, air mataku dengan lancangnya jatuh membasahi pipi. Aku tidak mengerti apa jelasnya yang kutangisi. Aku hanya ingin menangis. Ummah mendekapku erat, penuh cinta. 

    Minggu berganti minggu. 

    Setelah lama kulupakan rasa itu, aku akhirnya tau sesuatu. Mas Ali bukan yang terbaik bagiku. Karena dia adalah yang terbaik untuk Mbak Yasmin. 

    Dan hari ini akan menjadi saksinya. []

Minggu, 19 April 2020

Ku Tak Ingin Gus (ep. 1) - Long Continued Story

    Namaku Mohammad. Biasanya sebagian besar orang memanggilku Gus Moh. Ya, ayahku adalah seorang kyai besar. Ayah sering bepergian dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Jember, bahkan Sulawesi dan Kalimantan. Terkadang Ayah juga diundang ke beberapa haflah nihaieyah di jamiah (universitas) Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, di Timur Tengah sana, karena beliau dulu sering berguru dan menggurui di banyak kota tersebut. Ayah adalah pengasuh sebuah pondok pesantren yang cukup besar di pedaleman Malang. Beliau juga menaungi sebuah ikatan jamaah di Surabaya, Malang, dan Jember.

    Rumahku di Surabaya, aku tinggal berdua bersama Ibu, istri ketiga Ayah. Istri pertama beliau orang Jember, tapi sudah lama meninggal. Kemudian istri kedua yang ayah nikahi setelah wafatnya istri pertama menetap di Malang, membantu Ayah mengelola pesantren. Dan yang ketiga adalah Ibu, yang kini membantu Ayah menghidupkan jamaah di Surabaya dan mengawasi Rumah Tahfidz yang dibangun Ayah lima tahun lalu.

    Ayah dulu sering bilang padaku yang masih tidak mengerti apa-apa. "Le (jawa : nak), kamu ini anak seorang Ayah. Ayah yang menjadi Ayah banyak orang, 'Abah' banyak orang. Seperti kamu menghormati Abah, banyak orang yang juga akan menghormati kamu. Kamu harus mengerti, tapi kamu tidak boleh sombong. Mentang-mentang kamu dihormati, kamu manfaatno ketaatan mereka ke awakmu (jawa : kamu). Mereka itu orang-orang yang mencari berkah lewat orang sholeh."

    Aku tidak paham maksud Ayah, aku hanya mengangguk sok paham saja kala itu.

    Saat aku mulai masuk MTs di sebuah pondok di Pasuruan, aku semakin tidak mengerti kalimat Ayah.

    Kawan-kawanku rata-rata orang Jawa. Mereka tau siapa Ayah, bahwa Ayah seorang kyai di pondok besar. Mereka memang memanggilku 'gus' (sebutan untuk anak seorang kyai), tapi mereka menyebutnya seolah-olah panggilan itu hina dan menjijikkan. Mereka memanggil namaku sambil tertawa sinis, atau memutar bola mata muak. Aku bukan berasumsi atau berandai-andai. Tapi jujur saja aku merasa diasingkan, dan mereka tidak pernah memanggilku kecuali ada keperluan yang amat sangat penting dan mendesak. Misalnya ketika kepala sekolah, atau guru BK, atau wali kelas sedang mencariku.

    Sekali mereka memanggil, sikap mereka akan seperti itu. Melotot padaku, seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar terhadap mereka. Bagaimana aku tidak bisa sadar jika mereka melakukannya dengan sangat terang-terangan sekali?

    Sebenarnya aku cukup terganggu dengan panggilan 'gus'-'gus' yang mereka pakai untukku. Di sekolah SD, aku dipanggil Hammad, tanpa 'gus'. Mungkin hanya beberapa guru yang mengenal Ayah yang memanggilku Gus Hammad. Tapi tanpa melotot padaku. Aku terkadang berpikir, kenapa karena aku anak kyai harus dipanggil gus? Apa bedanya dengan anak laki-laki lainnya?

    Belakangan aku tau, ternyata teman-teman Jawaku berpikir bahwa aku masuk ke pondok Pasuruan itu tanpa biaya, tanpa tes, dibebaskan dari tunggakan bulanan, karena Ayah adalah seorang kyai besar. Aku tidak pernah melanggar sampai tercatat di buku sangsi guru BK, karena aku anak kyai. Aku diistimewakan dari yang lain, karena posisi Ayah.

    Padahal hampir setiap minggu aku menelpon Ayah untuk mengingatkan tunggakan bulanan, karena Ayah sering lupa membayarnya sebab banyak jadwal janji temu yabg harus beliau ingat. Sampai aku merasa tidak enak mengganggu Ayah dan akhirnya menelpon Ibu. Aku memang masuk tanpa tes, karena masuk lewat jalur rapot yang memang baik nilainya, bukan karena Ayah pengasuh pondok besar. Aku tidak pernah masuk catatan sangsi guru BK karena memang aku takut sekali melanggar di pondok ini. Ini kali pertama aku mondok dan aku tidak mau membuat kesan buruk, itu saja. Lagi-lagi bukan karena Ayahku. Lalu, diistimewakan? Hahaha. Malah, ketika aku mendaftar, Pak Kyai bilang padaku, "Le, meskipun kamu anaknya Abah (sebutan orang-orang ke Ayah), kamu tidak akan kami perlakukan spesial. Mau anak siapapun kamu, kamu tetap santri disini, santri Bapak."

    Ah, ingin sekali aku berteriak kepada orang-orang Jawa itu yang sebenarnya, tapi mereka tidak akan mau mendengarkan. Aku pernah curhat pada Ibu sambil menangis. Beliau hanya diam, dan berkata satu kata yang selalu menjadi senjatanya ketika aku mengeluh; sabar. Kata yang sangat mudah diucapkan, namun sulit direalisasikan.

    Saat liburan, aku hanya diam di rumah. Ayah kebetulan sedang menetap di Surabaya kala itu. Banyak orang datang sowan ke Ayah, aku hanya menemani beliau di ruang tamu melayani selusin tamu sehari. Mereka meminta doa, minta diistikhorohkan (bahkan Ayah punya buku khusus untuk permintaan istikhoroh, aku tau karena disuruh mencatat permintaan salah seorang jamaah oleh Ayah), minta pendapat tentang suatu keputusan, minta amalan, bahkan ada ikhwan yang minta dicarikan akhwat untuk dikhitbah.

    Aku disana tidak jarang menjadi objek pembicaraan juga. Hampir semua tamu menanyakanku, dan hampir semua jamaah menanyakan hal yang sama. Ayah menjawab dengan jawaban yang sama, dengan ekspresi yang sama pula. Ayah tidak membedakan tamunya, semua seakan dekat dengan Ayah.

    Sampai suatu saat, ibu menyuruhku menemani Ayah melayani tamu di ruang depan. Aku yang baru saja selesai shalat dhuha segera menuju ke sana. Ketika kuintip dari balik tirai yang sedikit transparan, betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang. Dia adalah Fikri, salah satu anak yang suka sekali melotot padaku meski tidak memanggilku. Bahkan aku pernah diejek habis-habisan olehnya di depan kelas hanya karena aku ingin membantunya piket. Dia bilang aku sok suci, pencitraan.

    "Loh, Gus? Ayo temani Abah, Le."

    Pak Sugi menepuk pundakku pelan dari belakang, tersenyum padaku dengan nampan berisi cangkir-cangkir teh di tangan satunya. Beliau adalah supir pribadi Ayah yang setia mengantar Ayah bolak-balik Surabaya-Malang-Jember. Beliau sering menetap disini membantu Ibu jika perlu keluar-keluar. Pak Sugi sering membantu Ibu melayani tamu-tamu juga selain menyupir, karena itu aku kenal dekat beliau.

    Aku menghela nafas berat, melirik Fikri yang diam di sofa. Dia pasti sirik padaku nanti.

    "Loh, kok belum keluar, Sayang? Kenapa?" Ibu juga muncul di belakang Pak Sugi, membawa toples camilan. "Kasihan Ayah, Nak, sendirian."

    Aku memandang ruang tamu dari balik tirai nanar, kemudian menghela nafas panjang. Ini akan terjadi sebentar lantas berlalu, "Oke."

    Aku menyibak tirai, hendak duduk di sofa tunggal sebelah Ayah. Pak Sugi sigap menahanku, membersihkan sofa itu terlebih dahulu, membenarkan bantalan sofanya, lantas mendudukkanku lembut di atasnya. Pak Sugi selalu seperti itu dari dulu, tapi dengan adanya Fikri di sini membuatku merasa risih juga dengan sikap beliau. Kulihat Fikri berdecak samar dari pantulan kaca akuarium yang dipajang di sudut ruangan. Ayah berbincang hangat dengan orang tua Fikri, sesekali dia tersenyum jika ditanya Ayah. Aku hanya diam.

    "Kalau Gus Moh, nanti mau lanjut ke mana, Bah?" Ayahnya Fikri bertanya.

    Biasanya aku langsung menjawab, tapi yang kulakukan hanya tersenyum canggung, melirik Ayah.

    Ayah diam sebentar, sepertinya menungguku menjawab. Lalu beliau angkat bicara mewakiliku yang tak kunjung buka mulut, "Insya Allah ke Jakarta. Di sana ada pondok yang kalau mau ke Mesir gampang jalurnya, biar Mohammad nanti bisa ke Mesir dan... "

    Ayah menjabarkan jawaban sebagaimana jamaah lain bertanya hal yang sama. Kuperhatikan Fikri diam mendengarkan, namun dengan setengah hati. Aku yang biasanya bertahan karena kasihan Ayah, kini jadi tidak betah dan ingin cepat-cepat masuk ke kamar.

    Kemudian Ibu keluar dari dalam bersama Pak Sugi, membawa nampan berisi roti maryam. Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan kesal. Ya Allah, sabarkan diriku...

    Pak Sugi menghampiriku, berbisik dengan suara keras. "Gus Moh juga mau, ya? Saya ambilkan."

    Aku segera menahan lengannya, "Nggak usah, Pak. Makasih."

    "Loh, Gus, ayo ikut makan! Ini, ayo!" Ayah Fikri mengambilkan satu roti di atas piring dan disodorkannya padaku. "Ayo, Gus..."

    "Mad," Ayah melirikku tajam. Aku paham, aku harus menghargai Ayah Fikri. Segera aku mengambil piring dari tangan beliau.

    "Makasih, Pak." aku tersenyum canggung. Kulihat Fikri mengambil roti sendiri, seraya memandang sinis ke arahku.

    Aku masih duduk beberapa menit sebelum mereka akhirnya pamit pulang. Aku menghela nafas lega, bersyukur dalam hati.

    "Sayang, bisa minta tolong buangkan sampah ke depan? Nanti kalau dibuang di dalam baunya kemana-mana."

    Baru saja hendak menuju kamar, Ibu menyuruhku membuang sampah. Segera, aku memenuhi permintaannya karena Pak Sugi sedang membereskan ruang tamu.
Di depan rumah ternyata Fikri dan keluarganya belum pulang, masih berbincang di sebelah mobil mereka. Aku berpura-pura tidak lihat seraya menuju tempat sampah. Mendadak tanganku dicekal, ternyata oleh Pak Sugi.

    "Ya Allah, Gus! Nggak perlu buang sampah itu, biar Bapak aja! Sini! Masa Gus Moh yang buang--"

    "Cih. Kan, dia dimanja kayak pangeran di istana.. " gumaman Fikri yang terdengar oleh telinga seketika membuatku mendidih.

    "Aku bisa buang sendiri!" tanpa sadar aku meninggikan suara mencegah Pak Sugi mengambil alih kresek dari tanganku dan melempar asal kresek itu ke tempat sampah.

    Aku berlari kecil masuk ke dalam. Sekilas kulihat Fikri menatapku, entah dengan ekspresi apa aku tak peduli. Dia ada benarnya, Pak Sugi terlalu menganggapku berlebihan. Beliau terlalu menghormatiku. Rasa-rasanya aku menjadi manusia gila hormat kalau kayak gini!

    Aku tidak sadar bahwa ternyata aku telah membuat sebuah hati koyak karena kelakuanku. Yang aku pedulikan sekarang adalah diriku yang sudah tenggelam dalam kehormatan, dan aku jadi benci diriku sendiri.

Sabtu, 18 April 2020

Mantan Pejuang Berontel - True Story

     Aku tengah naik mobil bersama keluargaku menuju rumah Abina, Abi Ihya Ulumiddin untuk bersilaturrahmi bareng anggota jamaah yang lain. Kala itu pagi menjelang siang, sekitar jam sepuluh. Ayah menyetir mobil dengan kecepatan biasa. Kemudian, ketika melewati persimpangan, kami melihat ada sebuah mobil putih berhenti jauh di depan garis putih batas berhenti lampu merah. Ada beberapa lelaki berdiri di depan mobil, tampaknya sedang bersitegang. Di antara mereka ada seorang bapak tua berambut putih dengan sepeda ontel.

    "Ada apa itu, ya?" salah satu dari kami menyuarakan isi kepala.

    Ibu memperhatikan kejadian. "Oh, aku tau Bapak itu. Dia itu sering keliling pake sepeda ontelnya itu, menegur orang-orang yang melanggar rambu lalu lintas. Orang-orang yang berhenti melewati garis itu pasti dibentak sama dia."

    Aku mengingat-ingat kembali sosok pria tua tadi.

    "Ibu ketemu bapak itu di daerah Pucang. Untung saja Ibu waktu itu nggak melewati garis. Soalnya di sebelahnya Ibu rodanya cuma melewati garis sedikit, sudah dimarahin. He kon iku gak ndelok garise ta? Iku lo garise! " Ibu tertawa. "Bapak itu orangnya tegas banget. Kayaknya beliau mantan-mantan pejuang gitu, deh. Nggak tau lagi."

    Aku membayangkan Si Bapak berambut putih berkeliling dengan sepeda ontel tuanya, mengawasi lalu lintas seraya membatin betapa generasi milineal saat ini butuh ditegasi. Kemajuan bangsa ini tentang kedisiplinan. Tidak perlu menambah anggota TNI atau polisi, semua disiplin bisa diterapkan jika setiap individu memulai dari diri sendiri. Jika setiap orang sadar akan tugasnya mendisiplinkan diri, maka bangsa ini akan maju dan berkembang. Si Bapak Tua ingin menyadarkan setiap kepala yang ia temui dengan teguran kerasnya. Ia tidak salah, tapi terkadang ada orang masa bodoh yang malah menyalahkan dia. Padahal, benar dan salah itu beda tipis. Tergantung dari sidut pandang mana kita melihat.


Sabtu, 18 April 2020

Buku di Tengah Laut - True Story


 Buku di Tengah Laut
  
    "Mbak Aisy, sudah siap? "

    Budhe berseru dari pintu belakang, aku mengangkat tas kecilku lantas sedikit berlari menghampiri. "Sudah! "

    Usai menyalimi nenek, aku, Budhe, Paman, dan Tegar berjalan menyusuri trotoar untuk mencari tempat berteduh di pinggir jalan. Tegar duduk di trotoar, Budhe mengambil alih tas dari tanganku, dan Paman berdiri di pinggir jalan mencari taxi.

    Taxi yang kumaksud adalah kendaraan sejenis van mini bermuatan sekitar 10 orang yang berseliweran tanpa alur tertentu. Sopir bisa siapa saja, tidak ada syarat tertentu. Asal punya mobil van mini, punya SIM, dan mengerti tarif umum yang berlaku, boleh saja. Tarif taxi ini tergolong sangat murah. Pernah sekali aku menemani temanku dari pondok ke pelabuhan, melewati dua pasar Prenduan dan Rabuan, kami hanya membayar masing-masing lima ribu rupiah. Di Surabaya, taxi ini disebut angkot.

    Sesampai di pelabuhan, Paman membayar ongkos dan membeli tiket. Aku, Budhe, dan Tegar berjalan menuju ujung pelabuhan. Kami menunggu kapal sekitar 15 menit. Segera, kami melangkah naik ke lantai dua kapal setelah menurunkan penumpang.

    "Tegar jangan ke pagar loh,  ya! " Budhe memperingati putra kecilnya yang berlarian di sekitar kursi tunggu.

    Namun tampaknya Tegar tidak mengindahkan peringatan ibunya. Aku hanya tersenyum kecil.

    Aku mukanya memberi kabar Ayah, bahwa aku sudah di atas kapal. Aku juga meminta do'a teman-teman agar selamat di jalan, ini pertama kalinya aku naik kapal sendiri. Dulu pernah, tapi naik mobil bersama keluarga. Aku membuka chat Royyan, salah satu temanku yang saat ini sedang mengabdi di Banten. Dia tadi berkeluh kesah padaku tentang orang tuanya yang ingin menjodohkannya dengan wanita tidak dicintainya. Aku tersenyum, membalas chatnya, menasihati agar percaya saja pada orang tuanya. Pilihan orang tua pasti yang terbaik.
Aku memperhatikan sekitar. Orang-orang Madura tampak banyak berjualan air, kacang, telur puyuh, tahu. Mengapa bisa aku tau mereka orang Madura? Karena mereka meletakkan jualannya di sebuah bakul besar yang digendong di atas kepala. Itu ciri khas orang Madura, aku sering melihatnya.

    "Eh, kembalikan bukunya! Ambil di mana tadi, Tegar? " Budhe berseru panik.

    Aku menoleh. Tegar tengah membawa sebuah buku bacaan 'Kisah Dongeng Pilihan Nusantara'. Aku tercenung, Tegar dapat buku dari mana?

    "Aku mau baca sebentar, Bu! Boleh, ya? " Tegar merajuk, duduk di kursi dan mulai membaca buku.

    "Eh, buka halamannya pelan-pelan! Kayak gini, sini Ibu contohkan! " Budhe memberi contoh Tegar membuka halaman dengan pelan. "Itu kamu baca satu jam, bayar seribu. Bayar sendiri, ya! "

    "Nggak mau! " Tegar tertawa menangggapi candaan ibunya.

    Aku melihat sekitar, mungkin memang ada tempat untuk membaca seperti perpustakaan mini. Tampak sebuah kardus teronggok di pojok ruang penumpang, penuh dengan buku. Tak ada penunggunya, mungkin memang untuk umum. Aku tersenyum, ternyata transportasi bebas seperti ini memperhatikan pendidikan anak-anak.

    Namun setelah beberapa saat, ternyata seorang bapak-bapak duduk di dekat kardus buku tersebut. Tegar segera mengembalikan buku yang diambilnya. Aku menghela nafas kecewa, ternyata buku itu dijual.

    Tapi aku masih terkejut dengan ide bapak ini. Ketika kawan-kawan sepenjual membawa bakul berisi minuman dan kacang, si bapak malah membawa buku bacaan anak-anak. Kulihat beliau berkeliling membagikan buku-buku di dalam kardus kepada para penumpang yang duduk. Beberapa penjual masker dan slayer juga melakukan hal yang sama.

    "Nanti itu diambil lagi ya, Budhe? " tanyaku pada Budhe.

    "Iyalah, Mbak Aisy." jawab Budhe seraya memakan pentol.

    "Tinggal ditaruh di kursi ini?" tanyaku lagi.

    "Iya."

    Seorang penjual slayer memberikan salah satu jualannya pada Budhe. Aku ikut melihat.

    "Biasanya ini sepuluh ribu, Mbak Aisy." jelasnya.

    Speaker mengumumkan bahwa kapal akan segera sampai. Aku, Paman, Budhe, dan Tegar segera turun menuju geladak bawah yang penuh kendaraan roda dua dan empat.

    Setelah berdesakan bersama penumpang dan sepeda motor lain, akhirnya kami keluar juga dari pelabuhan. Budhe terus menggiringku agar tidak terlalu jauh darinya, sedangkan Tegar digandeng bapaknya.

    "Itu ayahmu, Mbak Aisy! Ternyata sudah sampai duluan." seru Budhe menunjuk Ayah.

    Tampak di sudut jalan di bawah atap, Ayah berdiri menunggu dengan baju koko putih dan celana kremnya. Tatapan matanya memperhatikan sekeliling dengan jeli. Aku tersenyum, aku suka mata teduhnya dan pembawaannya yang tenang itu. Kami menghampiri Ayah cepat-cepat, sepertinya beliau tidak menyadari kedatangan kami. Padahal aku sudah melambaikan tangan sejak tadi.

    "Ayah!" panggilku sedikit kencang.
Pria bersepatu itu menoleh, lantas tersenyum melihatku. Aku sumringah, berlari menghampirinya. Budhe dan Ayah bersalaman dan berbasa basi sebentar, karena Budhe mengejar bis menuju Jombang.

    Aku membawa tasku mengikuti langkah Ayah. Kami menuju mobil putih yang biasa Ayah bawa.

    "Kalau kira-kira Mbak Aisy naik kapal sendiri, berani?" tanya Ayah tiba-tiba.
Aku menimbang-nimbang. "Nggak! Hehehe..."

    "Kan gampang, Mbak Aisy. Siang bolong juga. "

    "Tapi kan, aku pertama kali! Masih belum tau!" aku membela diri.

    "Ah, gampang! Malah Nenek yang ngelarang Mbak Aisy kemarin, ya? Kok, Aisy disuruh naik kapal sendirian?!" Ayah meniru gaya bicara nenek.

    Aku hanya tertawa.


Ruang kerja Ayah,
Surabaya, 15 November 2019

Orang Besar - Short Story

     Orang Besar


     Aku termenung menatap jalanan ramai Malioboro Jogjakarta sejak turun dari hotel tempatku, suamiku, dan rekan kerja sekaligus teman seangkatanku di pondok janji temu. Zaidan, temanku itu, adalah seorang direktur manager perusahaan makanan tradisional yang membawahi tempat-tempat makan khas nusantara yang ramai dan terkenal di daerah Jogja. Betapa panglingnya aku ketika melihatnya setelah dua belas tahun tidak pernah bertemu. Dia, yang dulu suka sok mengajariku cara menggoreng telur mata sapi yang enak namun tak berhasil, kini berubah menjadi sosok figur pemimpin yang keren sekali. Memakai jas, berambut klimis, dan bersepatu mengkilap. Padahal dulu dia diantara teman-teman geng-nya paling tidak peduli masalah penampilan dan selalu bercanda, tidak bisa diajak serius sedikit. Tapi ketika diskusi dengan suamiku tadi, cara bicaranya tampak seolah sangat terlatih dan memiliki banyak pengalaman di bidang investasi dan publikasi. Sungguh tidak kusangka Zaidan bisa berubah sedrastis itu.

     Angin sore menerpa wajahku. Keramaian kota oleh para pejalan kaki dan penjual dagangan terdengar akrab dan menenangkan di telinga. Aku membenarkan kerudung, menyipitkan mata menatap matahari sore yang sudah hampir menyentuh cakrawala. Burung-burung camar terbang berkelompok secara indah dengan latar langit jingga. Hawa ini hangat, memunculkan sesimpul senyum di bibirku.

     Aku jadi teringat sebuah sosok yang selalu menjadi figur 'orang besar' bagiku, yang kupikir bisa mengalahkan imej Zaidan barusan.

     Namanya Muhammad Ihsan. Laki-laki yang tidak banyak bicara namun mencolok di antara yang lain. Dari wajahnya tampak pengendalian diri dan kebijaksanaan yang jelas tergurat. Mata tajamnya seperti menatap masa depan penuh optimis. Kepalan tangannya kokoh, seakan beban seberat apapun bisa dipikulnya tanpa mengeluh. Posturnya tinggi dan berparas tampan. Benar-benar contoh fisik seorang pemimpin hebat.

     Aku pertama kali bertemu dengannya saat kumpul panitia HIKBAH (Himpunan Keluarga Besar Al Hikmah) Surabaya di mushalla kampung yang dibangun Mbah Kakungku. Kami hanya terdiri dari alumni angkatan 2018 dan 2019, beberapa alumni ikhwan dan akhwat. Ihsan awalnya hanya diam menyimak rencana yang disusun sekretaris, koordinator acara, dan ketua. Namun ketika sesi usul, saran, dan pendapat, hanya dia berbicara. Lainnya tidak. Dan dari sikap pembawaannya dalam menyampaikan pemikiran itulah, aku menjadi kagum. Kukira dia hanya menang fisik saja.

     Siangnya, Mbah Kakung menyuruh teman-teman panitia untuk makan di rumah beliau. Untungnya ruang tengah berukuran cukup luas hingga bisa menampung semua teman dan kakak kelas. Kursi-kursi dipinggirkan, meja panjang disejajarkan. Nampan dan panci besar diletakkan di tengah meja dengan tumpukan piring serta sendok. Aku tengah duduk berbincang bersama temanku kala Ihsan tanpa kusadari berjalan ke arah kami.

     "Mbak ini nggak makan? " tanyanya menunjukku dengan sendok.

     Kami berdua menoleh. Aku menggeleng,  "nggak. Kalau kamu mau makan, sana makan nggak apa."

    "Iya, ini. Ibumu dokter, ya? Teman ibuku?" tanya Ihsan lagi.

    Aku mengangkat bahu. "Nggak tau. Ibu memang dokter, tapi nggak tau kalau ibuku teman ibumu."

    "iya, loh. Namamu Aisyah, kan?"

     Aku berkedip. "Iya." kok, dia bisa tau?

     "Ibuku yang kasih tau," jawabnya tersenyum simpul seraya berlalu dari kami dan bergabung dengan kawan-kawan ikhwan lainnya.

     Aku sedikit tercenung, kukira dia tipe orang yang sedikit gengsi terhadap perempuan.

     Suatu saat di acara yang sejenis, Ihsan berada dalam satu anggota kepanitiaan yang sama sepertiku. Kulihat dia memang tidak banyak melakukan pekerjaan lapangan, tapi setiap ada masalah yang muncul, semua berkonsultasi dan bertanya jalan keluar padanya. Benar-benar figur pemimpin!

     "Aku yakin kamu nanti pasti jadi orang besar." kataku padanya kala kami sedang beristirahat sebentar di base camp panitia.

     Ihsan menoleh, "oya? Lihat dari mana?"

    "Insting aja. Kelihatan, kok." jawabku singkat, meneguk es teh.

    "Karena aku ganteng, ya?" katanya bercanda. Aku hanya tertawa menanggapi, ternyata dia juga suka bercanda.

    Aku menghela nafas. Aku penasaran bagaimana kabar pria itu. Apa dia sudah menjadi 'orang besar' seperti kataku? Atau bahkan lebih hebat dari itu?

    Aku tenggelam dalam lamunanku kala sebuah teriakan menghebohkan keramaian.

    "Pencuri!! Pencuri!! Tas saya diambil!!"

    Kulihat sesosok berjamper jeans menyelinap licin di antara keramaian, lari kabur dengan cepat. Aku menatap suamiku khawatir, "Mas, tolong mbak itu, Mas. Kasihan!"

    "Kamu hati-hati, ya. Tunggu di sini." pesan suamiku sebelum berlari cepat menembus keramaian.

    Aku percaya suamiku bisa menanganinya dengan mudah, dulu dia anggota Regu Khusus Pramuka dan pencak silat Cimande. Aku memutuskan untuk menghampiri wanita yang menangis di tengah jalan Malioboro itu.

    Hening. Kantor pos polisi tersebut senyap. Keputusan sudah diambil, hukuman sudah jatuh. Namun yang menjadi alasanku dan suamiku masih duduk di sana adalah, pencuri itu ternyata adalah teman lamaku.

    "Kenapa kamu mencuri? Apa kamu tidak takut memalukan nama baik pondokmu? Yang terpaku di dahimu? Yang mendidikmu selama ini?" aku mulai berkata segala yang ingin kutumpahkan sedari tadi.

    Lelaki beborgol di seberang meja tampak menunduk dalam ketika kubawa kata 'pondok' dalam kalimatku.
   
    "Ihsan!"

     Aku gemetar menyeru namanya, nama laki-laki yang selama ini menjadi panutanku menjadi seorang pemimpin yang baik. Suamiku merengkuhku makin erat, dia pasti paham perasaan kecewaku karena aku memang beberapa kali bercerita tentang Ihsan padanya. Ihsan sedikit mengangkat kepala, memandangku dengan ekspresi yang susah ditebak.

    "Maaf, Aisyah. Maaf. Aku--" suara Ihsan terputus. "Nama baik pondok, aku tidak bermaksud--"

    "Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu, San? Aku tidak mengenalimu sama sekali! Jangan minta maaf ke aku!" aku makin emosi. Suamiku memijat bahuku pelan, berbisik untuk sabar dan istighfar.

    "Aku bingung, Syah. Ayah dan Ibu tiba-tiba meninggal dalam pesawat yang lima bulan lalu dikabarkan jatuh ke laut. Uang kompensasi dibawa kabur bibi tiriku dari pihak Ayah. Lalu manajer kantor Ayah menagih uang kantor yang Ayah pinjam, aku lihat sendiri surat perjanjian hutangnya. Aku menjual tanah warisan kakek untuk membayarnya, tapi pemilik rumah yang sekarang kukontrak menagih uang sewa bulanan. Ayah ternyata menunggak 3 bulan, Bapak pemilik rumah itu mengancamku kasar. Aku sudah bekerja serabutan, berdo'a siang malam! Tapi apa? Tidak ada keajaiban, Syah! Aku putus asa!" Ihsan berbicara panjang lebar.

    Aku terdiam mendengar penjelasan memilukan itu, bahkan polisi yang berjaga di pintu memutuskan untuk keluar ruangan agar tidak mendengar. Tubuh Ihsan memang tampak sangat kurus, berantakan, dan kotor. Matanya redup, tak ada lagi semangat di sana. Aku jadi iba padanya. Ya Allah, sayangilah temanku. Beri dia hidayahMu.

     Aku tersenyum. "San, itu tandanya Allah sedang menguji, apakah imanmu kuat? Atau agar imanmu menjadi kuat? Jika lulus kamu mendapat derajat, jika belum lulus berarti imanmu masih lemah. Dan jika saja paru-parumu atau jantungmu tidak berfungsi detik ini, bukankah sudah merupakan keajaiban kau masih bisa bernafas? Jika saja kaki dan tanganmu lumpuh, bukankah merupakan keajaiban meski kamu menggunakannya untuk maksiat?"

    Kali ini Ihsan yang terdiam. Ruangan kembali sunyi.

    "Ingat, San. Kamu lahir memang tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Semuanya hanya titipan dari Allah! Kapan saja bisa diambil kembali darimu. Seandainya semua milikmu sudah diambil, ingatlah, kamu masih punya Allah, San. Kamu adalah milik Allah, kamu memiliki kewajiban kembali padaNya. Kembali pada Allah, San. Aku yakin Allah tidak pernah melupakan milikNya, meski yang dimiliki telah melupakanNya."

    Tangis Ihsan pecah. Ia jatuh ke lantai, bersujud di sana. Aku tanpa sadar meneteskan air mata, terharu melihat semua ini. Suamiku merengkuhku erat, tersenyum padaku dengan bangga.

    "Sekarang yang hebat adalah kamu, Istriku." katanya pelan. Aku hanya tersipu.
Allah akan selalu menguji hambaNya, siapa, kapan,  dan dimana saja. Anggap saja untuk menguji iman kita. Iman bahwa kita selalu percaya padaNya. Aku berdo'a, semoga Ihsan benar-benar terbuka hatinya dan kembali kepada Allah dengan segenap hati,  jiwa, dan raga secara kaffah. Menyebarkan kebaikan kepada sekitarnya semisal dulu. Seperti namanya 'Ihsan' yang berarti 'kebaikan'. Semoga Allah selalu menerangi jalannya.


Bangkalan, 11 / 10 / 2019

Penjual Es Cendol - True Story

Penjual Es Cendol

Ketika itu saya masih duduk di kelas 5 MA, salah satu anggota reporter Al-Amien Post bersama beberapa kawan seangkatan saya. Dengan memakai kalung tanda pengenal, kami diizinkan menggunakan kamera, duduk di barisan terdepan dekat tim dokumentasi pondok di setiap acara, mewawancarai mudir-mudir dan ustadzah, melembur di perpustakaan ISTAMA (organisasi seperti OSIS) untuk menyelesaikan berita dan edit koran. Biasanya kami menerbitkan koran Al-Amien Post sekali seminggu, setiap hari jumat.
Tapi hari ini, kami yang biasanya hanya berkeliling memperhatikan sekitar mencari bahan untuk dijadikan berita berbekal kamera dan notes kecil, kami memiliki tugas tambahan. Karena saat apel tahunan banyak wali santri, alumni, bahkan tetangga pondok ikut hadir melihat pertunjukkan yang disuguhkan para santri, kami ditugaskan menjajakan majalah Qanita yang bertumpuk di perpustakaan ISTAMA. Dengan dibagi menjadi beberapa kelompok, berkelilinglah kami dengan nampan kardus berisi majalah Qanita berbagai tahun terbit. Selagi memperhatikan sekitar, kami menawarkan majalah Qanita kesana kemari.
Beberapa saat berkeliling di bawah siraman matahari yang semakin panas, saya dan kawan saya memutuskan untuk menepi dan membeli minuman di antara pedagang-pedagang di pinggir jalan yang memang diperbolehkan pondok berjualan hari itu di sana. Selagi saya memesan cappuchino-cincau, saya melirik teman sekelompok saya yang asyik minum.
“Sst.. al-majalah! Jarrib bii ila al-bai! (majalahnya! Coba jajakan ke penjual!)” bisik saya dengan Bahasa Arab.
Dia berkedip. “Laa! Ana astahii! Anti faqod! (nggak! Aku malu! Kamu aja!)”
“Pak,” aku mencoba menyapa bapak penjual es cendol di sebelahku. “sudah lama jualan es ya, Pak?”
Bapak tersebut menoleh. “Lumayan, dek. Sekitar tujuh-sembilan tahunan.”
“Wah. Oiya Bapak, mau beli majalah Qanita, nggak, Pak? Di majalah ini banyak karya-karya pilihan santriwati, Pak. Bagus-bagus, loh!” saya memberi si bapak salah satu majalah dari nampan.
Beliau menerimanya, membuka-buka halaman perlahan seraya melirik ke arah penjual minuman di kanan-kirinya. Beliau berbisik pada temannya dengan Bahasa Madura yang saya paham, ini cara bacanya gimana? Penjual yang dilirik hanya mengangkat bahu dan tertawa.
Saya mengerutkan alis heran karena bapak penjual cendol membaca-baca majalah yang terbalik atas-bawahnya. Saya membalik majalah tersebut dengan senyum canggung, “begini Pak, cara bacanya.”
“Oh,” si bapak tertawa pahit. “Saya nggak tau baca, Dek! Tapi saya mau beli satu buat putri saya, biar nanti bisa jadi kayak adek-adek ini.”
“Putri bapak kelas berapa?” mata saya berbinar.
“Iya, sudah. Baru lulus SD, dek. Sekarang ada di rumah, belum bisa lanjut sekolah. Maunya sih, masuk ke pondok Al-Amien kayak adek.” kata bapak itu seraya tersenyum ke arah kami berdua. “doakan, ya, Dek? Saya masih ngumpulin uang sama istri, biar putri saya bisa sekolah tahun depan.”
Saya dan kawan saya bertatapan haru, “Amin.”
“Tapi saya beli majalahnya nanti ya, Dek? Saya belum dapat penghasilan pagi ini. Mungkin agak siangan, baru ada. Berapa harganya, Dek?” tanya Pak cendol.
“Dua puluh empat ribu, Pak.” Jawab saya pelan, tiba-tiba merasa harga itu terlalu mahal bagi bapak ini.
“Berarti, empat pelanggan, ya?” si bapak menghitung-hitung. “Nanti kesini lagi ya, Dek? Sisakan satu buat bapak.”
“Siap, Pak!” jawab kami.
Kemudian, bos kami memanggil. Kami berkumpul sebentar untuk berfoto dengan salah satu alumni beranak dua yang dulu pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Qanita tahun 2007. Setelah itu, bos menyuruh kami istirahat sebentar sebelum duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan pertunjukkan demi pertunjukkan.
Pikiran saya saat itu melayang pada bapak penjual cedol, saya berdoa dalam hati agar cendol beliau laris manis tak bersisa hari ini.
Usai apel tahunan, saya lihat kawan-kawan reporter saya mewawancarai beberapa subjek. Saya memutuskan untuk berlari ke area pedagang berjualan dengan satu majalah Qanita terbaru di tangan, mencari bapak penjual cendol yang tadi minta disisakan majalah. Setelah berlari-lari di antara keramaian, saya tidak menemukan bapak tadi di tempat semula. Saya berkeliling, mungkin beliau berpindah tempat. Nihil, saya kembali ke titik awal, memutuskan untuk bertanya pada ibu penjual cappuchino-cincau yang seharusnya berjualan di sebelah beliau.
“Oh, dia sudah pergi dari tadi, Dek. Sebelum acara selesai.” jawab si ibu.
“Oh,” ada rasa kecewa dan bersalah di dada. Seharusnya saya datang lebih cepat. “Makasih, Bu.”
Dengan langkah lunglai saya kembali ke kawanan reporter. Kawan saya yang tadi ikut membeli minuman dekat pak cendol merangkul saya, sudah menduga apa yang terjadi dari raut wajah murung saya. Saya meletakkan kembali majalah Qanita ke nampan. Seharusnya saya datang lebih cepat tadi.

KLIMAKS COVID-19 - Artikel