Sabtu, 18 April 2020

Orang Besar - Short Story

     Orang Besar


     Aku termenung menatap jalanan ramai Malioboro Jogjakarta sejak turun dari hotel tempatku, suamiku, dan rekan kerja sekaligus teman seangkatanku di pondok janji temu. Zaidan, temanku itu, adalah seorang direktur manager perusahaan makanan tradisional yang membawahi tempat-tempat makan khas nusantara yang ramai dan terkenal di daerah Jogja. Betapa panglingnya aku ketika melihatnya setelah dua belas tahun tidak pernah bertemu. Dia, yang dulu suka sok mengajariku cara menggoreng telur mata sapi yang enak namun tak berhasil, kini berubah menjadi sosok figur pemimpin yang keren sekali. Memakai jas, berambut klimis, dan bersepatu mengkilap. Padahal dulu dia diantara teman-teman geng-nya paling tidak peduli masalah penampilan dan selalu bercanda, tidak bisa diajak serius sedikit. Tapi ketika diskusi dengan suamiku tadi, cara bicaranya tampak seolah sangat terlatih dan memiliki banyak pengalaman di bidang investasi dan publikasi. Sungguh tidak kusangka Zaidan bisa berubah sedrastis itu.

     Angin sore menerpa wajahku. Keramaian kota oleh para pejalan kaki dan penjual dagangan terdengar akrab dan menenangkan di telinga. Aku membenarkan kerudung, menyipitkan mata menatap matahari sore yang sudah hampir menyentuh cakrawala. Burung-burung camar terbang berkelompok secara indah dengan latar langit jingga. Hawa ini hangat, memunculkan sesimpul senyum di bibirku.

     Aku jadi teringat sebuah sosok yang selalu menjadi figur 'orang besar' bagiku, yang kupikir bisa mengalahkan imej Zaidan barusan.

     Namanya Muhammad Ihsan. Laki-laki yang tidak banyak bicara namun mencolok di antara yang lain. Dari wajahnya tampak pengendalian diri dan kebijaksanaan yang jelas tergurat. Mata tajamnya seperti menatap masa depan penuh optimis. Kepalan tangannya kokoh, seakan beban seberat apapun bisa dipikulnya tanpa mengeluh. Posturnya tinggi dan berparas tampan. Benar-benar contoh fisik seorang pemimpin hebat.

     Aku pertama kali bertemu dengannya saat kumpul panitia HIKBAH (Himpunan Keluarga Besar Al Hikmah) Surabaya di mushalla kampung yang dibangun Mbah Kakungku. Kami hanya terdiri dari alumni angkatan 2018 dan 2019, beberapa alumni ikhwan dan akhwat. Ihsan awalnya hanya diam menyimak rencana yang disusun sekretaris, koordinator acara, dan ketua. Namun ketika sesi usul, saran, dan pendapat, hanya dia berbicara. Lainnya tidak. Dan dari sikap pembawaannya dalam menyampaikan pemikiran itulah, aku menjadi kagum. Kukira dia hanya menang fisik saja.

     Siangnya, Mbah Kakung menyuruh teman-teman panitia untuk makan di rumah beliau. Untungnya ruang tengah berukuran cukup luas hingga bisa menampung semua teman dan kakak kelas. Kursi-kursi dipinggirkan, meja panjang disejajarkan. Nampan dan panci besar diletakkan di tengah meja dengan tumpukan piring serta sendok. Aku tengah duduk berbincang bersama temanku kala Ihsan tanpa kusadari berjalan ke arah kami.

     "Mbak ini nggak makan? " tanyanya menunjukku dengan sendok.

     Kami berdua menoleh. Aku menggeleng,  "nggak. Kalau kamu mau makan, sana makan nggak apa."

    "Iya, ini. Ibumu dokter, ya? Teman ibuku?" tanya Ihsan lagi.

    Aku mengangkat bahu. "Nggak tau. Ibu memang dokter, tapi nggak tau kalau ibuku teman ibumu."

    "iya, loh. Namamu Aisyah, kan?"

     Aku berkedip. "Iya." kok, dia bisa tau?

     "Ibuku yang kasih tau," jawabnya tersenyum simpul seraya berlalu dari kami dan bergabung dengan kawan-kawan ikhwan lainnya.

     Aku sedikit tercenung, kukira dia tipe orang yang sedikit gengsi terhadap perempuan.

     Suatu saat di acara yang sejenis, Ihsan berada dalam satu anggota kepanitiaan yang sama sepertiku. Kulihat dia memang tidak banyak melakukan pekerjaan lapangan, tapi setiap ada masalah yang muncul, semua berkonsultasi dan bertanya jalan keluar padanya. Benar-benar figur pemimpin!

     "Aku yakin kamu nanti pasti jadi orang besar." kataku padanya kala kami sedang beristirahat sebentar di base camp panitia.

     Ihsan menoleh, "oya? Lihat dari mana?"

    "Insting aja. Kelihatan, kok." jawabku singkat, meneguk es teh.

    "Karena aku ganteng, ya?" katanya bercanda. Aku hanya tertawa menanggapi, ternyata dia juga suka bercanda.

    Aku menghela nafas. Aku penasaran bagaimana kabar pria itu. Apa dia sudah menjadi 'orang besar' seperti kataku? Atau bahkan lebih hebat dari itu?

    Aku tenggelam dalam lamunanku kala sebuah teriakan menghebohkan keramaian.

    "Pencuri!! Pencuri!! Tas saya diambil!!"

    Kulihat sesosok berjamper jeans menyelinap licin di antara keramaian, lari kabur dengan cepat. Aku menatap suamiku khawatir, "Mas, tolong mbak itu, Mas. Kasihan!"

    "Kamu hati-hati, ya. Tunggu di sini." pesan suamiku sebelum berlari cepat menembus keramaian.

    Aku percaya suamiku bisa menanganinya dengan mudah, dulu dia anggota Regu Khusus Pramuka dan pencak silat Cimande. Aku memutuskan untuk menghampiri wanita yang menangis di tengah jalan Malioboro itu.

    Hening. Kantor pos polisi tersebut senyap. Keputusan sudah diambil, hukuman sudah jatuh. Namun yang menjadi alasanku dan suamiku masih duduk di sana adalah, pencuri itu ternyata adalah teman lamaku.

    "Kenapa kamu mencuri? Apa kamu tidak takut memalukan nama baik pondokmu? Yang terpaku di dahimu? Yang mendidikmu selama ini?" aku mulai berkata segala yang ingin kutumpahkan sedari tadi.

    Lelaki beborgol di seberang meja tampak menunduk dalam ketika kubawa kata 'pondok' dalam kalimatku.
   
    "Ihsan!"

     Aku gemetar menyeru namanya, nama laki-laki yang selama ini menjadi panutanku menjadi seorang pemimpin yang baik. Suamiku merengkuhku makin erat, dia pasti paham perasaan kecewaku karena aku memang beberapa kali bercerita tentang Ihsan padanya. Ihsan sedikit mengangkat kepala, memandangku dengan ekspresi yang susah ditebak.

    "Maaf, Aisyah. Maaf. Aku--" suara Ihsan terputus. "Nama baik pondok, aku tidak bermaksud--"

    "Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu, San? Aku tidak mengenalimu sama sekali! Jangan minta maaf ke aku!" aku makin emosi. Suamiku memijat bahuku pelan, berbisik untuk sabar dan istighfar.

    "Aku bingung, Syah. Ayah dan Ibu tiba-tiba meninggal dalam pesawat yang lima bulan lalu dikabarkan jatuh ke laut. Uang kompensasi dibawa kabur bibi tiriku dari pihak Ayah. Lalu manajer kantor Ayah menagih uang kantor yang Ayah pinjam, aku lihat sendiri surat perjanjian hutangnya. Aku menjual tanah warisan kakek untuk membayarnya, tapi pemilik rumah yang sekarang kukontrak menagih uang sewa bulanan. Ayah ternyata menunggak 3 bulan, Bapak pemilik rumah itu mengancamku kasar. Aku sudah bekerja serabutan, berdo'a siang malam! Tapi apa? Tidak ada keajaiban, Syah! Aku putus asa!" Ihsan berbicara panjang lebar.

    Aku terdiam mendengar penjelasan memilukan itu, bahkan polisi yang berjaga di pintu memutuskan untuk keluar ruangan agar tidak mendengar. Tubuh Ihsan memang tampak sangat kurus, berantakan, dan kotor. Matanya redup, tak ada lagi semangat di sana. Aku jadi iba padanya. Ya Allah, sayangilah temanku. Beri dia hidayahMu.

     Aku tersenyum. "San, itu tandanya Allah sedang menguji, apakah imanmu kuat? Atau agar imanmu menjadi kuat? Jika lulus kamu mendapat derajat, jika belum lulus berarti imanmu masih lemah. Dan jika saja paru-parumu atau jantungmu tidak berfungsi detik ini, bukankah sudah merupakan keajaiban kau masih bisa bernafas? Jika saja kaki dan tanganmu lumpuh, bukankah merupakan keajaiban meski kamu menggunakannya untuk maksiat?"

    Kali ini Ihsan yang terdiam. Ruangan kembali sunyi.

    "Ingat, San. Kamu lahir memang tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Semuanya hanya titipan dari Allah! Kapan saja bisa diambil kembali darimu. Seandainya semua milikmu sudah diambil, ingatlah, kamu masih punya Allah, San. Kamu adalah milik Allah, kamu memiliki kewajiban kembali padaNya. Kembali pada Allah, San. Aku yakin Allah tidak pernah melupakan milikNya, meski yang dimiliki telah melupakanNya."

    Tangis Ihsan pecah. Ia jatuh ke lantai, bersujud di sana. Aku tanpa sadar meneteskan air mata, terharu melihat semua ini. Suamiku merengkuhku erat, tersenyum padaku dengan bangga.

    "Sekarang yang hebat adalah kamu, Istriku." katanya pelan. Aku hanya tersipu.
Allah akan selalu menguji hambaNya, siapa, kapan,  dan dimana saja. Anggap saja untuk menguji iman kita. Iman bahwa kita selalu percaya padaNya. Aku berdo'a, semoga Ihsan benar-benar terbuka hatinya dan kembali kepada Allah dengan segenap hati,  jiwa, dan raga secara kaffah. Menyebarkan kebaikan kepada sekitarnya semisal dulu. Seperti namanya 'Ihsan' yang berarti 'kebaikan'. Semoga Allah selalu menerangi jalannya.


Bangkalan, 11 / 10 / 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KLIMAKS COVID-19 - Artikel