Sabtu, 01 Agustus 2020

KLIMAKS COVID-19 - Artikel


            
     Berita COVID-19 selalu berada paling atas di internet, berita terhangat. Padahal sejak awal kemunculannya pertama kali, bisa dibilang tidak bisa dikatakan up to date lagi. meski banyak berita-berita menggemparkan lainnya, COVID-19 tetap menduduki posisi teratas. Update penduduk setempat yang tertular virus, cara pencegahan, kabar penelitian obat yang bisa menyembuhkan, terapi alami untuk pasien, rahasia kesembuhan, dan semacamnya.
     Seakan menjadi konsumsi sehari-hari, perubahan fitur dan aturan terjadi dimana-mana, terutama pada sarana publik. Jangka yang cukup lama dihitung dari awal penyebarannya, membuat sebuah pertanyaan muncul; kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
     Andai sebuah diagram yang di dalamnya ada tanjakan dan landaian, maka akan ada klimaks atau titik tertinggi dari suatu data. Jika sudah ditemukan suatu klimaks, maka setelahnya akan ada “penurunan”. Jadi, kapan klimaks COVID-19 ini akan terjadi?
     Profesor Sosiologi Bencana Nanyang Techlonogical University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir menyatakan di akun Youtube pribadinya, SOCIOTALKING, yang diunggah Jum’at 31 Juli 2020 bahwa kurva Corona akan terus naik di Indonesia selama masih ada orang yang bisa tertular virus Corona di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa “klimaks” COVID-19 masih belum bisa diprediksi, mengingat masih banyak penduduk yang tertular. Bahkan di Indonesia.
     Kata kunci yang bisa kita ambil dari kutipan beliau adalah “masih ada orang yang bisa tertular”. Kemungkinan masyarakat yang tertular memang tidak bisa diprediksi secara tepat dan valid, mengingat persentase per-individu pasti berbeda. Namun, kesimpulannya tetap bisa diambil; masih ada orang yang bisa tertular. Entah itu berkurang, bertambah, atau tetap dari sebelumnya. Meski dilakukan pencegahan, tidak menjamin tidak tertular 100%. Naudzubillah, wallahu a’lamu.
     Daripada variabel pemerintah yang bertanggung jawab atas penduduk se-kabupaten, akan lebih baik jika masyarakat memiliki kesadaran masing-masing. Pemerintah hanya bisa membuat aturan, mencegah pelanggaran, melakukan program-program protokol, menghukum pelanggar. Akan tetapi, jika rakyatnya tidak memiliki kesadaran untuk berupaya mencegah juga, maka tidak akan tercipta kerjasama antar variabel. Lebih baik berusaha mencegah meski tidak bisa menjamin 100% tidak tertular, daripada tidak ada pencegahan sama sekali. Dengan mencegah, setidaknya kita bisa mengurangi resiko tertular.
     Tertular-tidak tertular memang tidak ada yang tahu, hal tersebut merupakan perkara langit. Tapi bukan berarti kita seenaknya mengesampingkan protokol pemerintah, atau malah meremehkan dan melanggarnya. Memang dengan bersikap seenaknya akan mengurangi resiko tertular? Tidak juga. Meski misalnya tidak tertular, tidak melaksanakan perintah pemimpin juga tidak dibenarkan selama bertujuan untuk kemaslahatan bersama.
     Jadilah masyarakat yang bijak, yang taat pada pemimpin. Sebuah kelompok akan damai dan sejahtera jika ada kerjasama antar variabel dalam kelompok tersebut. Tidak perlu komentar sana-sini, mengurus hidup orang lain, akan tetapi fokus pada diri sendiri. Apakah kita sudah sadar hal-hal apa saja yang sudah kita lakukan sebagai pencegahan? Wallahu a’lam.

Senin, 20 Juli 2020

Ku Tak Ingin Gus (ep. 2) - long continued story



            Sejak “bentakkanku” hari itu, aku merasa Pak Sugi sedikit berhati-hati berkomunikasi denganku. Beberapa kali kutangkap beliau takut salah tingkah, gagap, dan canggung di depanku. Tidak seperti biasanya. Dan, Abah menangkap gesture beliau. Maka dipanggillah aku usai Abah mengisi pengajian di ruang tengah menjelang dhuhur karena masih ada beberapa jama’ah yang sowan ke Abah.
            “Mad,”
            Aku masih menunduk, duduk di atas karpet di depan Abah. Diam tak menyahut kalimat Abah.
            “Kamu bilang apa ke Pak Sugi?” tanya Abah.
            “Bilang apa, Bah?” tanyaku. Mungkin Abah mendengar sesuatu selain “bentakanku” kemarin.
            Abah menghela napas panjang. “Le,”
            Aku terdiam lama. Apa aku harus menceritakan kejadiannya, atau mengutarakan ketidaknyamananku?
            “Bah,” akhirnya aku berkata, “aku tidak suka terlalu dilayani, dihormati, seperti itu, Bah. Aku bukan Abah yang sudah banyak ilmu, berdakwah ke mana-mana, punya banyak murid. Aku … masih bukan siapa-siapa dibanding Abah, tidak pantas dibegitukan sama Pak Sugi, sama jama’ah Abah, sama semuanya. Aku tidak suka.”
            Abah diam sejenak. “Abah sudah bilang, Le, mereka itu orang-orang yang mencari ridlo lewat perantara guru. Mereka yang menghormati kita itu mendapat pahala, kita yang dihormati tidak mendapat apa-apa. Kamu menolak mereka mendapat wasilah pahala dari kamu itu, tapi kamu tolak, awas kamu menjadi sombong, Mad. Kamu itu anak Abah, wajar mereka berlaku begitu padamu. Jangan sombong, jangan sombong.”
            Dadaku mendadak serasa terhantam sesuatu yang keras dan tajam. Astaghfirullahal adzim. Apa penolakanku selama ini salah? Aku akhirnya bercerita kegundahan yang kurasakan selama di pondok. Maka setelah lulus tiga tahun dari pondok di Pasuruan itu, aku pindah ke pondok yang jauh dari bau-bau Jawa. Abah mendaftarkanku ke sebuah pondok di Madura. Pulau kecil seberang Jawa dengan jembatan Suramadu sebagai penyambungnya. Kudengar, banyak podok salafy di sana, tersebar di desa-desa. Namun, Abah mendaftarkanku di salah satu pondok besar di sana.
            Di pondok, aku banyak bertemu orang-orang yang sepertiku; gus-gus dari berbagai pondok. Bahkan, ada putra bungsu kyai yang berasal dari Kalimantan Tengah. Jauh sekali. Hari pertama menjadi santri baru di sini, aku segera betah. Semua dipandang rata, tidak ada yang diunggul-unggulkan, tidak ada yang direndah-rendahkan. Aku benar-benar memperkenalkan diri sebagai “Hammad”. Tanpa “Gus”. Seminggu setelah berbaur dengan kawan-kawan di pondok, aku tahu bahwa salah satu putra pimpinan dan pengasuh pondok ini adalah kakak kelas satu tahun di atasku. Kulihat ia bercanda dan tertawa seperti biasa dengan yang lain, malah pernah tertangkap adu pukul dan dihukum sebagaimana kawan-kawan yang ikut serta juga. Tidak tampak bahwa dia putra pengasuh pondok, ia tampak seperti yang lain. Betapa banyak syukur yang kupanjatkan, aku merasa hidup seperti “aku” di pondok ini. Tidak banyak yang tahu bahwa diriku putra salah satu pondok di Jawa, hanya beberapa. Terkadang mereka memanggilku “Gus”, tapi hanya sebatas candaan sesama kawan, bukan sindiran pun ejekan.
            Pulang dari pondok, Pak Sugi masih ber-khidmah di rumah. Aku sudah memantapkan hati untuk meminta maaf pada beliau. Kemarin, aku belum sempat meminta maaf karena beliau sedang mengantar Abah ke Jember. Aku mendaftar pondok hanya diantar Ibu dan pamanku.
            “Em … Amit, nggeh, Gus. Sampiyan dipanggil Umi. Disuruh makan kata Umi,” kata Pak Sugi, berdiri di pintu kamarku. Biasanya beliau langsung masuk.
            Aku bangkit dari kasur, “Oiya, Pak. Jazakumullah.
            Nggeh, Gus. Bapak amit, nggeh.
            “Pak Sugi,” cegahku cepat.
            Beliau segera berbalik. “Nggeh, Gus?”
            “Saya minta maaf, ya, Pak. Dulu itu saya nggak maksud marahin Pak Sugi. Saya lagi emosi sama teman saya, jadi kebawa marah. Maaf, Pak. Afwan,” ujarku pelan, menyesal.
            Tak diduga, Pak Sugi segera menghampiriku, terduduk di depanku. Menggenggam tanganku. Aku yang duduk di tepi kasur reflek duduk menjajari beliau, terkejut atas reaksi Pak Sugi. Beliau menangis.
            “Ya Allah, Gus. Bapak yang harusnya minta maaf! Bapak nggak tahu, kalau Gus nggak nyaman sama perlakuan bapak! Bapak kepikiran, nggak tahu harus apa waktu Gus sudah balik pondok, bapak minta maaf, Gus!” Pak Sugi tersedu-sedu.
            Hatiku seketika meleleh, Pak Sugi memang berkhidmah dengan tulus dan ikhlas. Betapa jahatnya aku telah melukai hati beliau yang semata-mata mengharap ridlo Allah dari khidmahnya. Aku melepas genggaman beliau, menepuk-nepuk bahunya lembut.
            “Saya yang salah, Pak. Pondok pesantren mengajarkan banyak hal pada saya, saya selalu merasa malu kalau ingat kejadian itu, Pak. Saya tidak pantas berlaku begitu pada Pak Sugi,” kataku dengan senyum.
            Di pondok, aku bisa melihat betapa mulianya seorang guru di mata santri. Betapa hormatnya kami terhadap beliau dan keluarganya. Kalian akan mengerti bahagianya bisa dapat shif jaga di ndalem beliau, haris namanya. Kalau ada yang absen karena tugas saat haris, banyak yang berebut ingin menggantikan posisinya. Tak peduli tengah malam dan tidak tidur. Lebih-lebih mengantar beliau dengan mobil ke luar kota, bahkan luar Madura. Semua ingin dekat dan dikenal oleh Pak Kyai, ustadz-ustadz, Ibu Nyai. Bahkan berebut menawarkan diri menjaga putra-putri kecil beliau kala sedang repot. Aku bisa melihat “rasa ingin berkhidmah” seorang santri, murid, pada gurunya. Jadi begini rasanya.
            Aku jadi paham perasaan Pak Sugi.
            Mungkin karena pondok di Pasuruan itu banyak yang su’udzon padaku, aku jadi buta dari melihat betapa mulianya seorang guru. Astaghfirullahal adzim. Memang terkadang kita perlu berada di bawah untuk memahami apa yang mereka rasakan.[]


Minggu, 12 Juli 2020

TOXIC FAMILY: RELASI BURUK SELARAS DENGAN RESIKO DEPRESI - Artikel


     Bagaimana perasaan orang tua ketika anaknya membuat kesalahan. Kecewa? Pasti. Namun rasa kecewa itu yang terkadang disikapi dengan cara yang salah oleh beberapa orang tua. Lebih-lebih ketika sang anak diberi kepercayaan penuh atas sesuatu, sungguh rasa kecewa itu seakan menghantam dada amat keras.
     Tidak ada yang sempurna di dunia ini, itu sudah pasti sebagai kodrat manusia. Maka melakukan sebuah kesalahan merupakan hal yang wajar, tapi bukan berarti tidak patut disalahkan. Semua orang pasti memiliki kesalahan, dan pernah disalahkan. Jadi, semua orang juga pernah merasakan “ketika dia disalahkan” seperti apa.
     Ketika seorang anak menyadari bahwa kelakuannya yang salah membuat orang tua kecewa, menurut kalian apa yang mereka rasakan? Pasti mereka merasa amat sangat bersalah, menyesal, gelisah di dalam hatinya walau sedikit, walau tidak ditampakkan di depan kedua orang tuanya. Di tengah perasaannya yang berkecamuk ini, dia akan berpikir. Kondisi anak yang berada di dalam fase ini sangat amat sensitif; ketika dia merasa mengecewakan orang tuanya.
     Berpikir di sini bukan hanya berujung pada mencari letak kesalahannya, apa yang seharusnya dia lakukan. Namun, jika anak tersebut berkarakter “tidak suka disalahkan”, dia akan mencari kesalahan orang lain yang menyebabkan dirinya melakukan kesalahan itu. Seperti mencari sumber yang membuatnya melakukan kesalahan.
     Apakah kalian tahu istilah “toxic family”? Toxic family atau keluarga disfungsional adalah situasi di mana keluarga yang seharusnya menciptakan “rumah” bagi anak malah menjadi penghambat terhadap perkembangan dirinya. Hal ini disebabkan oleh relasi antar suami-istri, orang tua-anak, antar saudara kandung, atau kerabat. Saat seseorang merasa cemas, sedih, dan marah ketika memikirkan akan berinteraksi dengan keluarganya, maka inilah salah satu indikasi yang menunjukkan toxic family.
     Ketika seorang anak melakukan sebuah kesalahan, dia disalahkan, kemudian merasa cemas, bingung, marah, alih-alih sadar dan meminta maaf, maka perlu dipertanyakan. Apakah dia mengalami toxic family? Hal ini menunjukkan bahwa dia merasa bingung bagaimana harus bereaksi pada orang tua yang menyalahkannya. Yang mana menampakkan adanya “sesuatu” di dalam “relasi”-nya dengan orang tuanya. Perasaan ini, di tengah kondisinya yang sensitif, tidak menutup kemungkinan akan menyeret sang anak kepada hal-hal yang negatif.
     Misalnya ketika kurang kasih sayang orang tua, maka seorang anak akan cenderung mencari perhatian pada orang lain. Lebih-lebih anak perempuan yang kurang kasih sayang dari sosok ayah, dia akan mencari perhatian dari banyak laki-laki sebagai gantinya. Ketika berprestasi tidak ada apresiasi, tapi sedikit berbuat salah akan dibentak tak berujung, maka jangan salahkan anak jika suatu hari dia merasa takut berlebihan, merasa harga diri rendah, dan menyimpan amarah yang dia salurkan secara depresif.
     Dalam agama, melawan orang tua adalah sebuah larangan. Kedurhakaan. Maka ketika anak dimarahi sekeras apapun oleh orang tuanya, boleh jadi dia hanya bisa diam menyimpan emosinya. Dia tidak ingin durhaka. Apalagi orangtua yang bersikap otoriter kepada anaknya. Otoriter memang terkadang perlu diterapkan untuk membangun kedisiplinan, tapi terlalu sering juga tidak baik. Dr. Mai Stafford dari University College London mengatakan, pola asuh otoriter akan membuat orang tua cenderung berkuasa dan dominan terhadap anak. Sehingga, anak menyalurkan amarahnya secara tidak benar. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa penyelewengan anak terjadi karena dia menahan diri untuk tidak durhaka kepada orang tuanya. Sekeras apapun keduanya.
     Menceritakan masalah kepada orang lain boleh jadi mengurangi beban emosi, akan tetapi jika yang diceritakan adalah masalah keluarga, tidak semua orang bisa terbuka. Lagi-lagi pemikiran “durhaka” mencegahnya, membuatnya disalahkan. Sehingga dia hanya diam dan berharap suatu saat sikap mereka yang toxic akan berubah tanpa bisa melakukan apa-apa.
     Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang ingin anaknya nyeleweng. Namun, terkadang beberapa bahkan bisa jadi banyak orang tua yang tidak sadar bahwa sikap nyeleweng tersebut timbul atas sikap beliau sendiri. Akan tetapi, anak yang dimanjakan juga tidak baik akibatnya. Metode pola asuh yang ideal memang hakikatnya tidak ada, tapi orang tua bisa menggabungkan beberapa metode, disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
     Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention, dikatakan ada berbagai konsekuensi negatif yang bisa dirasakan seorang anak yang pernah menghadapi keluarga disfungsional. Ketika bertumbuh dewasa, ia bisa memiliki kecenderungan untuk berperilaku merusak diri seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol sebagai bentuk pelarian dari trauma masa kecilnya. Ia juga akan terus menerus merasa cemas, gugup, kehilangan kendali, atau menyangkal perasaannya. Penumpukkan emosi negatif ini yang akan mempengaruhi kondisi mental anak dalam jangka panjang. Kemudian, dia akan mengulang perbuatan toxic ini pada orang lain. Dengan kata lain, dia akan tumbuh dan mengembangkan sifat-sifat toxic-nya. Sehingga, tidak menutup kemungkinan dia akan memperlakukan anaknya, keluarganya, secara toxic pula. Lihat, betapa tidak baiknya jika kita bersikap kurang tepat terhadap orang lain. Terutama pada anak.
     Sekarang, sebagai anak, jika kamu memiliki perasaan yang sama, maka teruskan membaca tulisan ini. Insya Allah saya berusaha membantu kamu menemukan jalan keluar, meski belum tentu yang terbaik. Karena hanya Allah semata yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik bagi kamu. Oke?
     Sejumlah pakar psikologi menyarankan bagi anak-anak yang mengalami disfungsional keluarga untuk tidak terus menerus diam, sesekali mereka harus mengambil tindakan berani demi kebahagiaan diri sendiri. Sejatinya kebahagiaan itu sebuah pilihan, pilihan yang membutuhkan tindakan. Secara tidak sadar, mereka akan mencari cara membahagiakan diri untuk melampiaskan “penderitaan” emosi akibat toxic family. Jika dilihat dari kaca anak remaja zaman now; hang out bareng teman-teman, main game, nonton drakor, dan lain-lain.
     Menurut saya, mengambil tindakan yang seperti itu masih lebih mending daripada anak yang menyimpan lama emosinya, akhirnya meledak dengan amarah tak terbendung. Melawan perkataan orang tua. Membentak. Karena sekali berani melakukannya, maka tidak ada jaminan dia tidak akan mengulangi untuk yang kedua-ketiga kalinya.
     Guys, ini bukan tentang siapa menyalahkan siapa, ya. Ini sebagai pembelajaran bagi semuanya. Dan, kamu sebagai yang tahu, harus mengambil sikap yang lebih tepat dan bijak terhadap masalah yang kamu alami. Hindari berpikir pendek, pertimbangkan jangka panjangnya. Kalau misalnya kamu sudah tau bahwa keluargamu disfungsional, maka jadikanlah itu pelajaran saja. Jangan diambil hati, apalagi su’udzon pada Ilahi. Benar-benar hindari prasangka buruk terhadap Tuhan, ya, Kawan. Kembali pada kutipan yang paling saya sukai; likulli syai’in hikmatun. Tiap-tiap sesuatu pasti ada hikmahnya, tinggal kita saja yang perlu membuka mata.
     Perbanyak istigfar, shalawat, membaca al-Qur’an. Tiga hal yang bisa membuat kita lebih dekat pada Allah. Ketika kita sudah dekat, maka tidak ada tujuan lain atas apa-apa yang kita lakukan kecuali hanya untuk-Nya. Sehingga, ketika kita berada di tengah kebimbangan, goyah, insya Allah, Allah akan mencegah kita tergelincir ke arah yang salah. Jangan lupa iringi dengan kesadaran untuk menghindari sifat negatif dan terus memperbaiki diri.
     Untuk para orang tua, bukan maksud menggurui, saya hanya orang biasa dengan ilmu yang masih dangkal. Saya hanya ingin mencegah terjadinya “toxic” yang berakibat buruk ini. Anda juga berpikir disfungsional keluarga ini hal yang tidak bagus untuk dipelihara, bukan? Mari kita sama-sama perbaiki bangsa, dengan dimulai dari diri sendiri. Ketika anda melihat anak anda ingin jalan-jalan dengan kawan-kawannya, maka hormati keputusannya dengan mempertimbangkan “keberanian” mereka untuk izin. Ini masih lebih baik daripada anak yang memutuskan ikut jalan tanpa izin. Pengawasan itu perlu, tapi jangan sampai anak-anak merasa terintimidasi. Anak juga punya hak, maka berikan hak mereka sewajarnya. Beri batasan boleh, perlu malah. Namun, jangan sampai mengekang.
     Kemudian, bangun relasi yang baik antar anggota keluarga. Relasi yang buruk akan memperburuk anggota yang lain. Jangan sampai anak merasa “menderita” di dalam keluarga yang seharusnya bisa menjadi “rumah” baginya. Coba berbicara dari hati ke hati dengan anak-anak, berusaha memahaminya, cari tau pola pikirnya. Insya Allah, jika anak berani terbuka apa saja dengan orang tuanya, maka tercipta rasa “saling memahami” hingga membentuk relasi yang baik. Wallahu a’lam.

Sabtu, 11 Juli 2020

MINDSET: KEKUATAN PENDIDIKAN - Opini


“Don’t protect your children, but educate them.”
     Adalah sebuah kewajaran apabila orang tua mengkhawatirkan anaknya, malah jika tidak, maka ada tanda tanya besar di sana. Khawatir tentang pergaulan anaknya, pendidikannya, masa depannya, tentang apa saja. Beliau senantiasa memikirkan semua hal itu, sehingga muncullah sikap “menjaga, menghindari, melindungi”.
     Manusia memang berbeda-beda satu dengan lainnya, oleh karena itu masing-masing memiliki cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu, tergantung faktor genetik dan lingkungannya. Misalnya perbedaan suku, gadis yang besar di Bandung cenderung lebih lembut sifatnya dari gadis yang besar di Madura. Hal itu memang relatif, namun lingkungan memang salah satu faktor kuat yang dapat membentuk karakter manusia, terutama anak-anak. Seperti yang tertera dalam kitab “Mabadi’ Ilmu Tarbiyah”, ada 2 faktor yang membuat karakter setiap anak berbeda; keturunan dan lingkungan.
     Ketika setiap orang tua yang berkarakter berbeda-beda “berusaha membentuk karakter” anaknya, maka berbeda pula respon yang mereka dapatkan. Anak yang tumbuh atas didikan yang keras, boleh jadi yang satu menurut, yang satu berontak. Tidak ada yang bisa menebak seorang anak akan memiliki sifat keturunan dari siapa. Dari ibunya kah, ayahnya kah, nenek dari ibu, kakek dari bapak, atau malah buyut. Tidak menutup kemungkinan juga, anak yang tumbuh atas didikan lembut nantinya akan berontak. Merespon negatif.
     Respon negatif tersebut yang akhirnya menumbuhkan rasa “ingin menjaga” yang lebih kuat. Semakin negatif, semakin kuat pula rasa itu.
     Sebagai manusia biasa, orang tua memang tidak bisa menjaga anak-anaknya 24 jam sehari, ada kalanya mereka lepas dari pengawasan. Dan ketika mereka beranjak remaja atau dewasa, tentu orang tua tidak bisa sepenuhnya ikut campur urusan mereka, bukan? Meskipun rasa “ingin menjaga” itu semakin besar.
     Sebenarnya ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menjaga mereka dari hal-hal negatif seperti kemaksiatan. Saya pernah membaca sebuah tulisan dan saya menyimpulkannya dalam satu kalimat: “Don’t protect your children, but educate them”. Jangan lindungi anak-anakmu, tapi didiklah/berilah pendidikan pada mereka. Saya akhirnya berpikir, di sinilah pentingnya peran “pendidikan”.
     Sebagai seorang remaja pelajar, saya terkadang berpikir, mengapa orang tua menyuruh kita belajar? Untuk sekadar cap lulus? Untuk mencari pekerjaan? Ternyata semua itu semata-mata untuk “menjaga” saya. Pendidikan tidak hanya materi yang diajarkan di kelas, tapi juga di luar kelas atau lingkungan. “Ilmu hal” namanya. Itulah mengapa terkadang kita mendengar banyak kisah inspiratif dari anak miskin desa, tapi memiliki budi luhur. Mereka memang tidak sekolah, tapi mereka mengenyam banyak ilmu hal, sebuah pendidikan yang didapat dari pengalaman hidup. Likulli syai’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mengapa ada orang miskin, pesakitan, yatim piatu, pecandu narkoba, perindu Tuhan, penyebar dakwah? Tak lain dan tak bukan untuk “pelajaran” bagi yang lain, “pendidikan” bagi yang lain. Pendidikan yang didapat dari lingkungan inilah, yang akan membentuk karakter.
     Ketika seseorang tumbuh di lingkungan berpendidikan baik, maka dia akan berpendidikan baik pula. Sehingga, tumbuhlah dalam dirinya karakter yang baik. Maka muncul slogan: “jika kau ingin melihat perilaku seseorang, maka lihatlah kawannya”. Kawan juga bagian dari lingkungan, bukan? Maka benar adanya.
     Pendidikan ini akan mempengaruhi pola pikir seseorang, yang akhirnya menciptakan “budi”. Semakin berilmu seseorang, maka ia akan banyak berpikir, memiliki prinsip-prinsip, membentuk mindset. Dalam buku berjudul “MINDSET: The New Psychology of Success” karya seorang psikolog Universitas Stanford Carol S. Dweck, Ph.D., beliau menuliskan bahwa beliau menemukan ide sederhana namun inovatif pada kekuatan pola pikir setelah melakukan penelitian selama beberapa dekade. Dalam buku yang brilian ini, beliau menunjukkan bagaimana kesuksesan di sekolah, pekerjaan, olahraga, seni, dan hampir setiap bidang usaha manusia dapat dipengaruhi oleh bagaimana kita berpikir (mindset) tentang bakat dan kemampuan kita. Dengan pola pikir yang benar, anda dapat memotivasi mereka yang anda pimpin, ajarkan, dan cintai—untuk mengubah hidup dan kehidupan mereka”.
     Mindset yang benar akan membantu seseorang bergerak ke arah yang benar dengan sendirinya. Karena dia memiliki prinsip yang didasari oleh mindset yang kokoh. Maka tidak perlu diarahkan, dicegah, dilindungi, dan dijaga lagi. Apa kalian sudah melihat pentingnya pendidikan sekarang?
     Sebagai remaja, sudah sepatutnya kita sadar akan pentingnya pendidikan. Sebagai penjagaan diri sendiri, juga bekal bagi kita dewasa nanti. Dari mana seorang anak mendapatkan pendidikan pertama kali jika bukan dari ibunya? Orang tuanya? Keluarganya? Jika setiap manusia menyadari betapa pentingnya sebuah pendidikan, maka tidak ada seorang pun yang nyeleweng. Ketika ada seseorang yang nyeleweng, mari kita lihat, bagaimana “pendidikannya”?
     Mari kita perbaiki pendidikan kita, mari kita perbaiki mindset kita. Don’t protect your children, but educate them.

Kamis, 23 April 2020

Syarifahku Bukan Habibmu - Long Story


    Aku duduk di sudut lingkaran perkumpulan, menyimak pembahasan rapat yang diadakan pagi ini dalam diam. Di ujung barisan ikhwan, seseorang berbicara panjang lebar mengenai rencana diadakannya perkumpulan ini.
Jamaah Syiar Islam Al Mukarrom, yang biasa disingkat SISMU, menjadi naungan kami berkumpul. Semua remaja ikhwan maupun akhwat yang ingin ikut andil dalam khidmah Abah, Syekhuna Al Mukarrom Habib Abdullah Al Kaffa, hadir disini. Salah seorang ikhwan yang dekat dengan beliau mengetuai kami, Mas Ali. Beliau menjelaskan apa yang bisa kita lakukan sebagai khidmah kepada Rasulullah lewat naungan jamaah cucu beliau, Habib Abdullah. 

    Aku sedari tadi memperhatikan Mas Ali yang berbicara dengan penuh wibawa dan kepercayaan diri. Sesekali aku menunduk kala dia memandang para akhwat. Siapalah aku? Lancang sekali jika kami sampai bertubrukan mata. 
Kemudian, Mas Ali menyuruh kami untuk memperkenalkan diri satu persatu, demi menciptakan ukhuwah di antara kami. Agar jika ada kegiatan jamaah, kami mengenal satu sama lain meski hanya nama.

    Mulai dari ikhwan, kami menyebut nama, umur, dan instansi saat ini. Giliranku, segera kudongakkan kepala menghadap akhwat. 

    "Aisyah Annisa Alawy. Umur 20. Saya sudah lulus sekolah asrama aliyah di Malang, sekarang saya totalitas di rumah, bantu Umi mengelola Masjid Komplek Al Izzah." sekilas aku tersenyum. 

    Kemudian perkenalan lima belas orang selesai. Mas Ali memberikan penjabaran kegiatan kami setidaknya sebulan ke depan. Beberapa ikhwan bertanya setelah Mas Ali selesai menerangkan, dia menjawab dengan santai dan luwes. Aku tersenyum kecil, kagum. 

    Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku bertemu Mas Ali. 

    Tahun terakhir di sekolah asrama aliyah di Malang, Ayah dan Ibu tidak bisa mengantarku seperti biasa. Alhasil, aku harus naik bis sendiri dari Surabaya. Karena pengalaman pertama, aku banyak mengandalkan hp-ku dalam situasi ini. Untungnya Ayah sudah membelikan tiket, sehingga aku tidak perlu bingung memesan lagi.

    Aku berdiri di terminal dengan tas ransel di punggung. Hp tak lepas dari tangan kananku, seraya kulihat cermat ciri-ciri bis yang harus kunaiki. 

    "Mbak, mau ke mana, Mbak?"

    Seseorang menyentuh lenganku, reflek aku menoleh dan mundur. Ternyata seorang wanita dewasa dengan jaket dongker. 

    "Ke Malang, Bu." Jawabku dengan senyum ramah. Kita harus ramah terhadap sesama, bukan? 

    "Bisa pinjam uang nggak, Mbak? Uang saya habis tadi di jalan buat beli tiket, lima puluh lima ribu dari Madura. Waktu saya cari makan, ternyata dompet saya tertinggal di rumah, Mbak. Saya nggak bawa uang banyak." Jelas wanita itu memelas. "Buat beli tiket aja kok, Mbak."

    Aku tertegun, mengiba. "Ibu mau ke mana?"

    "Ke Mojokerto, Mbak. Anak saya yang kuliah di sana sakit, Mbak. Saya kasihan dia sendirian di sana, saya mau jenguk dia. Mau lihat keadaannya." Si Ibu makin bersedih. 

    Aku meraba sakuku, aku juga tidak bawa uang lebih. Dengan enggan, aku memberinya dua lembar dua puluh ribu. "Saya juga nggak bawa uang banyak, Bu. Saya hanya bisa kasih segini, nggak apa ya, Bu? Apa cukup?"

    "Ya Allah, Mbak." wanita itu terdiam sebentar. "Nggak apa, makasih banyak. Ini sudah cukup."

    Aku mengangguk pelan. Kemudian beliau berlalu, menuju pojok terminal. Aku yang berdiri di pemberhentian bis ini menghela nafas memandangnya, kasihan. Jika saja tidak ada orang yang peduli padanya, bagaimana cara dia pergi ke Mojokerto? Atau tidak, bagaimana cara dia pulang? Aku berdo'a semoga ibu tadi dimudahkan oleh Allah. 

    "Sampean orang baru, ya? Pertama kali ke terminal ini?"

    Aku sedikit terkejut mendengar suara laki-laki dari sebelahku. Aku menoleh waspada, "Ehm, iya."

    Lelaki berkaus hitam itu mendengus, tersenyum kecil. "Pantas saja."

    Emang kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana dia bisa tau ini pertama kalinya aku ke terminal? Tunggu, kalau dia bisa tau orang-orang baru sekali lihat, berarti dia sering berada di sini. Bisa jadi dia pencopet yang sering Ayah ceritakan! 

    Aku mendadak menjadi sangat waspada, melirik tajam ke arahnya. Kaus hitam, jamper diikat di pinggang, sepatu boot, topi hitam, dan ransel pendaki di punggung. Dari penampilan memang tidak tampak seperti pencopet, tapi siapa tau? pencopet tidak ingin terlihat seperti pencopet kan? 

    Tapi aku masih penasaran bagaimana dia bisa tau aku orang baru di sini? Akhirnya kuberanikan diri bertanya, "Bagaimana anda bisa tau?"

    Dia menatapku sekilas, lantas melirik arah lain. "Sampean lihat Ibu itu?"

    Aku memandang ke arah yang ditunjuk lelaki di sebelahku. Kulihat wanita dewasa yang tadi kuberi uang untuk tiket tengah duduk di kursi tunggu dan memohon kepada gadis remaja yang duduk di sampingnya. Tak lama, gadis itu memberikan uang lima puluh ribu kepada si Ibu. Aku terkejut melihatnya. 

    "Loh, tadi aku sudah kasih uang buat tiket. Apa kurang, ya? Semahal itukah tiket ke Mojokerto?" gumamku pelan, tapi sepertinya si lelaki kaus hitam mendengarku. 

    "Dia tidak akan pernah cukup meminta uang." katanya pelan, hingga hanya bisa didengar olehku saja.

    Aku meliriknya, "Kenapa begitu?"

    "Dia memang begitu, meminta-minta uang ke orang lain dengan alasan beli tiket lah, atau belum makan lah, dompet ketinggalan. Dan tidak hanya satu orang dia mintai, sehari dia bisa dapat sejuta dua juta, loh." jelasnya tanpa memandang ke arahku, dia masih memperhatikan ibu tadi di ujung bangku. 

    Aku membelalakkan mata. Dua juta! 

    "Iya, targetnya pasti orang baru, bagus-bagus kalau kelihatan kaya. Soalnya orang-orang yang sudah biasa di sini pasti sudah tau dia bagaimana dan tidak mungkin memberinya uang. Dia tau mana orang sini, dan yang bukan." lanjutnya lagi.

    Aku terdiam mendengar semua kabar mengagetkan ini. Kuperhatikan orang-orang sekitar, banyak yang melirik sirik ke arah Ibu di ujung bangku tunggu. Sepertinya apa yang dikatakan lelaki ini benar adanya. Kenapa dia tidak memperingatiku sebelum Ibu tadi meminta uang? Kan aku jadi rugi! Batinku kesal. Tiba-tiba saja aku merasa marah. Kulihat gadis yang juga menjadi korban penipuan, dia tampak santai saja. Aku menghela nafas, pasti dia tidak tau kalau sudah ditipu.

    TOOOT! 

    Sebuah bis memasuki terminal. Aku cepat-cepat mencocokkan bis tersebut dengan gambar bis yang Ayah kirim ke hp. Cocok! Aku segera mendekat.

    "Awas!" 

    Tas ranselku ditarik dari belakang, tepat sebelum hidungku menabrak bapak-bapak gemuk yang turun dari bis. Lelaki kaus hitam itu lagi. 

    "Hati-hati! Biarkan penumpang bisnya turun dulu. Biasanya memang begitu, kan?" katanya. 

    Aku merutuki diri sendiri, memalukan saja! Meski tidak tau apa-apa, harusnya aku memperhatikan calon penumpang lain dan mengikuti mereka. 

    Setelah para penumpang yang bertujuan Surabaya turun semua, barulah aku menaiki tangga masuk bis. Kulihat sebagian besar kursi sudah terduduki. Segera kumencari kursi kosong. Di barisan tengah, kulihat seorang gadis remaja duduk sendiri. Dia adalah gadis korban penipuan wanita dewasa tadi. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya. 

    Sepanjang perjalanan, aku beristighfar dan membaca shalawat pelan. Gadis di sampingku tertidur pulas dengan earphone di telinga, wajahnya polos sekali. Sepertinya dia masih SMA. 

    Sesampai di terminal Malang, aku beserta beberapa penumpang lain turun. Panas matahari dan asap-asap tak sehat segera menerpa wajahku tanpa tedeng aling-aling. Segera kuberlari kecil ke tepi seraya menutupi mulut dengan kerah jaket. Aku membuka hp, mencari tau setelah ini bagaimana. 

    Ayah bilang, aku harus naik angkot. Aku mengedarkan pandangan, di sini banyak sekali angkot! Kucoba menghubungi teman-teman asramaku, tapi mereka sedari tadi slow respon. Mungkin mereka juga sibuk. Ah, mungkin semua angkot ini sama saja, aku hanya harus bilang tujuanku ke mana, kan?

    "Katanya mau ke Malang? Kok, naik angkot ini?" ini suara yang baru-baru ini kukenal. Aku menoleh, lelaki kaus hitam dengan ransel pendaki di punggung.

    Aku mulai kesal padanya yang suka sekali membuatku malu. Aku memalingkan muka, "Terserah aku kan, mau naik angkot yang mana?"

    "Angkot ini ke Dinoyo, yang itu ke Landungsari, yang di ujung sana ke Tidar. Sampean mau ke mana?" jelasnya, menunjuk angkot demi angkot yang berbeda.

    "Sekolah Asrama Aliyah Al Mukarrom." jawabku masih sedikit ketus. 

    Lelaki itu tertegun, "Oh, santri di sana? Kebetulan saya juga mau ke sana, mau sowan ke Abah Habib Abdullah, dan beberapa ustad senior. Jaket almamaternya sudah beda, ya? Di zaman saya dalamnya warna hijau, sekarang hitam, ya."

    Aku diam tidak menanggapi, dia seperti ingin sok kenal sok dekat denganku.

    "Kalau ke sana, ada angkot jalur sendiri. Ayo, ikut saya." 

    Dia berjalan menuju angkot dengan garis badan bawahnya berwarna biru muda. Aku mengikuti langkahnya yang kokoh, cepat, dan tegas. Seperti figur seorang pemimpin. 

    Tunggu, apa yang aku pikirkan?! 

    Di dalam angkot hanya ada tiga ibu dengan dua anak kecil, dua pemuda berkacamata, si lelaki kaus hitam, dan aku. Angkot berjalan tidak cepat, namun tidak lambat. Aku membaca shalawat dalam hati. Di bangku pojok, sang ibu berusaha menenangkan anaknya yang menangis.

    Angkot beberapa kali berhenti di tempat-tempat ramai. Tak lama angkot ini berhenti di depan sekolah asramaku. Aku mengucap syukur dan lekas turun. Lelaki berkaus hitam turun setelahku. Aku membayar ongkos dan berterima kasih pada supir.

    "Oke, dari sini sudah tau ke mana, kan? Saya masih ada perlu ke rumah ustad senior agak jauh dari sini, jadi nggak masuk." 

    Lelaki bertas ransel pendaki itu balik badan, menuju garis menyebrang dengan banyak mobil berseliweran. Aku masih diam seribu kata. Menatap punggung itu di tengah bising klakson. Sejenak kuberpikir, betapa tidak berakhlaknya diriku. Ada orang yang bersedia membantu tapi aku tidak berterima kasih sama sekali. Malah sebaliknya, aku bersikap ketus dan sempat berpikir bahwa dia adalah pencopet. 

    Aku malu sekali pada Allah! Allah pasti yang mengirimnya untuk membantuku! Astaghfirullahal adzim, aku beristighfar dalam hati. 

    "Jazakallah!"

    Aku mengapit dua telapak tangan ke sisi pipi, sedikit berteriak. Berharap lelaki itu mendengarnya. Alhamdulillah, dia menoleh. Menatapku. 

    "Jazakallah, Mas! Eh--" Aku bingung, takut salah ucap. Aku lupa kalau aku tidak tau namanya. Dan aku tidak begitu mengenalnya. 

    Di antara keramaian, di bawah teriknya mentari yang menyiram wajah, dia tertawa. Sebuah tawa rendah halus menenangkan. Matanya menyipit, menarik ujung bibir hingga menampakkan deretan gigi putih rata. Anak rambutnya bergerak mengikuti ayunan kepalanya. Aku baru sadar bahwa ia memiliki alis tebal dan lesung di pipi. 

    "Baarakallah 'alayk! Assalamu'alaikum!" serunya, membelakangiku dengan tangan kanan melambai. 

    Untungnya, dia tidak menghadap ke sini. Untungnya, dia tidak melihat ke arahku saat ini. 

    Aku, yang mematung, merasakan alam semesta ini terhenti. Angin berhenti berhembus. Kelima panca indraku mendadak menajam. Kebisingan memudar. Tiba-tiba saja matahari siang terasa lebih hangat. Dadaku bergemuruh menjerat. Tanganku terlipat, bersedekap di depan dada. 

    Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakannya. 

    Astaghfirullah, Maha Suci Allah yang sudi mengampuni dosa.

    Allahumma shalli 'ala Muhammad, oh Allah, apakah ini sebuah rasa? Atau apakah ini, ulah syetan sang penipu daya? Ya Allah, jangan biarkan rasa ini mengalahkan rasa cinta dan kagumku padaMu. 

    Aku bergumam lirih, sangat lirih hingga hanya bisa didengar angin. 

    "Wa'alaikumussalam warahmatullah."

***

    Di lain waktu, aku akhirnya tau namanya. 

    Orang-orang memanggilnya Mas Ali. Dia aktif di beberapa organisasi religius di kampus, masjid komplek, maupun jamaah Islam Al Mukarrom sendiri. Aku sempat datang ke dua seminar Islam dimana Mas Ali menjadi salah satu narasumber di sana. Pintar, alim, dan ramah. Senang membantu siapa saja. Dihormati yang muda, disenangi yang tua. 

    "Subhanallah walhamdulillah. Sungguh nikmat yang besar bisa bertemu cucu Rasulullah." 

    Aku menoleh, Mas Ali tersenyum penuh arti padaku. Aku segera memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah. "Mas Ali... Tau?"

    "Tau. Dulu pertama kali kamu naik bis, di jaket almamatermu ada name tag nya. Tulisannya Syarifah Aisyah Annisa, ternyata masih ada Alawiy-nya, ya?" jawab Mas Ali seraya mengambil sendok di mangkuk. 

    Aku menunduk malu, tidak sadar kalau Mas Ali melihat name tag ku kala itu dan masih mengingatnya. Beberapa kawan akhwat duduk di kursi pinggir. Rumah Nana memang sering dipakai untuk kegiatan jamaah SISMU. Beliau juga dengan senang hati akan menyediakan konsumsi usai kumpul. Seperti sekarang, Ibu Nana menyiapkan sup iga untuk kami. Aku duduk di sebelah para akhwat, di ujung. Mas Ali duduk dua kursi dariku. 

    "Marga apa Syarifah Aisyah?" Mas Ali bertanya lagi. 

    Aku sedikit tertegun Mas Ali tau tentang marga, jarang ada yang paham hal ini di Surabaya. Aku sejenak menelan suapan pertamaku sebelum menjawab, "Bin kutbhah. Binti kutbhah, kalau saya."

    "Kenapa tadi tidak bilang Syarifah Aisyah Annisa Alawiy binti Kutbhah saat perkenalan? Itu kan, bukan sesuatu yang memalukan? Mulia, malah. Subhanallah." Mas Ali berkata seraya mengaduk kaldu di mangkuknya. 

    Aku terdiam sejenak, tersenyum. "Biar mereka tau sendiri saja nanti."

    Mas Ali memanggut paham. Kemudian kami makan dalam diam. Aku tidak tau bahwa salah satu dari kawan akhwat memperhatikan kami. 

    Marga dalam keturunan Nabi Muhammad ada banyak jumlahnya, seperti Assegaf, Al Jufri, bin Yahya, Al Kaff, Ba'bud, dan lain sebagainya. Kami secara umum disebut Ba'alawiy, Bani 'Alawiy, yaitu keturunan 'Alawiy bin Ubaidullah bin Ahmad yang merupakan cucu keturunan murni Husain putra Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah binti Muhammad. Dzurriyyah, sebutan lain keturunan Nabi, masih banyak tersebar di dunia, pun Indonesia. Habib untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan. 

    Garis keturunan ini terus berlanjut hingga sekarang. Namun bukan untuk main-main, semua keturunan laki-laki wajib memiliki buku khusus Dzurriyyah yang berisi daftar garis keturunan dari Baginda Nabi hingga dirinya. Lalu, si laki-laki tersebut harus menuliskan nama anak-anaknya dan distempel secara resmi, sebagai tanda bahwa mereka memang cucu keturunan Rasulullah. 

    Berbicara tentang keturunan, para Dzurriyyah memiliki peraturan khusus bagi mereka dalam hal pernikahan. Semua keturunan laki-laki Habib diperbolehkan menikahi gadis manapun, Syarifah atau bukan. Karena garis keturunan akan tetap menurun dari si laki-laki, bukan perempuan. Namun bagi para Syarifah, menikahi lelaki Habib seakan-akan menjadi kewajiban bagi mereka jika tidak ingin garis keturunannya putus. Sedangkan, sebagian besar Dzurriyyah fanatik terhadap garis keturunan mereka. Mereka tidak ingin garis keturunan Rasul putus begitu saja hanya karena anak perempuan mereka tidak menikahi Habib. Mereka ingin nasab Rasul terus berlanjut. 

    Minggu berjalan minggu, kami anggota jamaah remaja SISMU mulai aktif di keorganisasian SISMU sentral dan mulai diakui serta dipandang. Sebenarnya kami hanya mengikuti instruksi Mas Ali saja. Jika ada panggilan khidmah, kami selalu berusaha hadir ke tempat. Seperti membagi sembako pada para yatim, membantu membagikan konsumsi di pengajian Abah Habib Abdullah, bahkan menjadi panitia sanlat (pesantren kilat) di asrama tsanawiyah dan aliyah naungan Abah Habib Abdullah di Malang. 

    Semua ini berkat Mas Ali yang memiliki korelasi dengan orang dalam di SISMU. kami sangat terbantu olehnya. 
Suatu hari di bulan Ramadhan, kami para akhwat sedang berkumpul setelah selesai membagikan jajanan untuk buka puasa gratis di perempatan besar dekat rumah Nana. Ibu Nana menyiapkan makanan buka puasa untuk kami, jadi kami memutuskan untuk menetap sebentar. 

    Mereka membahas Mas Ali. Aku tau mereka sering membahasnya, Mas Ali memang tipe idaman para akhwat. Biasanya aku tidak tertarik pembicaraan mereka, tapi kali ini ada sesuatu yang membuatku penasaran. 

    Mas Ali keturunan Arab. Dan ibunya seorang Syarifah. 

***

    Sejak mendengar kabar 'ibunya seorang Syarifah' sepertiku, perasaan itu tumbuh semakin dalam. Perasaan yang sungguh menyiksa di malam temaram bulan, atau pagi di kala fajar, atau siang di bawah rimbun dedaunan, atau petang di kala senja memampang. 

    Betapa aku merasa sangat berdosa, telah lancang memikirkan lelaki asing yang tak memiliki hubungan darah apapun denganku. Aku malu sekali pada Allah yang seharusnya kuingat setiap waktu, atau Rasulullah yang seharusnya kurindu di setiap tidurku. Mas Ali itu suci hatinya. Aku tidak mau hanya karenaku, dia menjadi ternoda. 

    Ya Allah, jika dia adalah yang terbaik untukku, maka dekatkan dia padaku dengan caraMu. Ya Allah, tapi jika dia belum yang terbaik bagiku untuk saat ini, untuk hari ini, untuk detik ini juga Ya Allah, aku mohon jangan biarkan dia mengambil hatiku, menyelimuti hatiku, menggetarkan hatiku dengan perasaan yang seharusnya kualamatkan padaMu Ya Allah. Aku tidak ingin buta dan jauh dariMu, karena Engkau lebih penting untuk saat ini. Namun, jika dia memang yang terbaik untukku nanti, jatuhkanlah hatiku padanya di saat yang tepat, di waktu yang Engkau ridloi. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tau, dan hanya Engkaulah yang tau apa-apa yang terbaik bagiku. Amin. 

***

    "Ummah, Ummah tau Mas Ali?"

    Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada Ummah. Selama ini aku tidak pernah menyebut satu nama lelakipun pada Ummah, yang sangat dekat denganku. Alhasil, Ummah yang sedang menggoreng ikan sedikit terkejut mendengarnya, menatapku yang santai memotong wortel. 

    "Mas Ali ketua jamaah remaja SISMU itu?" tanya Ummah memastikan. "Iya, ibu-ibu jamaah sering cerita."

    "Ibunya Mas Ali Syarifah, Ummah." aku berkata, tanpa sadar sudut bibirku sedikit tertarik membentuk sungging. 

    Dan Ummah melihatnya. Beliau kembali fokus pada wajan. "Tapi kenapa dia tidak dipanggil Habib atau Sayyid kalau memang Dzurriyyah?"

    Gerakan tanganku terhenti, aku tidak pernah memikirkannya. Sejenak kutercenung. "Mungkin Mas Ali punya alasan sendiri, Ummah?"

    "Semua Habib itu, pasti dipanggil Habib. Tidak ada alasan menyembunyikannya." Nada bicara Ummah sedikit dingin. Beliau lalu memandangku, "Kamu ini juga, sering menghilangkan Syarifahmu sendiri. Jangan begitu, Ifah. Itu namamu dan takdir muliamu. Apa kamu tidak bangga menjadi keturunan Rasulullah? Semua orang menginginkannya, kenapa kamu malah menyembunyikannya?"

    Aku hanya diam. Aku memang tidak tau Mas Ali dari marga apa, dan kenapa dia tidak dipanggil Habib. Abah seorang Habib, Ummah juga Syarifah. Keduanya sangat fanatik pada garis keturunan. Ummah sangat keras mendidikku dengan aturan-aturan keluarga, terutama masalah laki-laki non-Dzurriyyah. Kulihat wajah Ummah dingin dan datar, aku menghela nafas. 

***

    "Aisyah! Hu.. Hu.."

    Mbak Yasmin, salah satu anggota jamaah remaja SISMU senior mampir ke rumah setelah selesai kuliah. Katanya, dia sedang galau dan ingin curhat. Ia melemparkan diri ke kasur dan menabrakkan wajahnya ke bantal. 

    Aku dan Mbak Yasmin memang dekat sejak SD, sering main bareng ketika pengajian dulu. Mbak Yasmin lulusan pondok, pintar, anggun, punya hafalan meski belum khatam, dan amat cantik. Kulitnya kuning langsat, bibirnya merah alami. Matanya besar, bening. Tapi meski terlihat kalem dan tidak banyak omong, Mbak Yasmin aktif dalam organisasi. Ia selalu ceria di dalam keadaan apapun, pencerah keruh suasana, pencair kebekuan antar personal member. Banyak ikhwan yang meliriknya. Meski begitu, dia tidak sungkan berteman dengan siapa saja. 

    Aku mendekati Mbak Yasmin, "Kenapa, sih, Mbak Yas? Sampai nangis, loh. Tumben."

    "Syah, aku banyak dosa!" serunya teredam permukaan bantal. 

    Aku tertawa, "Dih, memangnya aku? Semua orang punya dosa, Mbak Yas. Hanya Rasulullah yang nggak, kan?"

    Mbak Yasmin bangkit duduk, balik badan menghadapku. Ia mendekap bantal. Aku beringsut duduk di hadapannya, siap mendengarkan cerita. Jarang sekali mendapatkan Mbak Yasmin jatuh begini. Biasanya hanya masalah akhirat yang bisa membuatnya sedih, itupun tidak sampai menangis di depanku. 

    "Kamu tau kan, selama ini aku nggak pernah berurusan sama ikhwan manapun, Syah? Aku berusaha keras nggak dekat-dekat sama mereka, biar nggak tenggelam ke 'masalah hati' kayak anak jaman sekarang." dia masih terisak.

    Aku mengangkat alis. "Terus?"

    "Aku," Mbak Yasmin menggenggam tanganku, menunduk dalam. "Suka sama orang, Syah."

    Sepersekian detik kuterdiam, lantas tertawa terbahak. Mbak Yasmin menatapku kesal, bibirnya manyun. 

    "Ih, kok ketawa? Serius ini!" ketusnya, memukulku dengan bantal.

    "Mbak Yasmin nggak pernah kayak gini, loh. Langka ini!" ujarku di sela tawa. 

    "Oke, terus masalahnya apa?"

    Mbak Yasmin membisu, membuat tawaku perlahan memudar. "Gimana kalau ini dosa, Syah? Memikirkan yang bukan muhrim kita itu, kan dosa? Apalagi tanpa ada tujuan yang jelas, atau disengaja. Hatiku rasanya kotor banget, Syah. Kamu paham kan, maksudku?"

    Aku mengangguk, aku pernah merasakan hal yang sama. "Siapa ikhwannya? Aku boleh tau?"

    Samar namun jelas, wajah Mbak Yasmin yang amat cantik memerah polos. Ia melirik ke arah lain, jarinya memainkan ujung seprai malu. Aku sedikit tersenyum, ternyata Mbak Yasmin yang alim ini bisa salah tingkah juga karena ikhwan. Ini kali pertama. 

    "Dia itu agamanya bagus, Syah. Alim, santun, anaknya ustad. Beberapa kali aku bicara sama dia, tapi dia hampir nggak pernah liat ke aku. Malah aku yang liat ke dia terus, hehe. Ya, tapi aku langsung istighfar, sih. Terus ikut nggak liat ke dia. Habisnya kan, awalnya aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia, Syah. Jadi aku biasa aja kayak temen itu, loh." Mbak Yasmin bercerita. 

    "Pernah aku tanya hafalannya sampai mana, dia nggak mau jawab. Tapi waktu aku suruh dia sambung ayat yang aku baca, kamu tau? Tajwidnya, makhrajnya, bener semua, Syah. Jarang kan, ada orang yang menghafal pakai tajwid yang bener? Jaman sekarang main asal aja kalau hafalin Qur'an, yang penting hafal. Padahal dosa." Mbak Yasmin memandang seprai, tersenyum lembut. "Aku kagum sama dia, Syah. Kagum banget sama agamanya. Yang kamu denger ini hanya secuil kebaikan dia aja. Masih banyak yang lain."

    Aku mengulum senyum. Ikhwan yang bisa membobol hati Mbak Yasmin ini pasti bukan ikhwan sembarangan. "Gimana bisa kenal?"

    "Mm.. Sebenernya kamu mungkin kenal, karena dia anak jamaah SISMU. Lulus kuliah tahun lalu. Tapi aku kenal dia waktu terakhir kali ikut pesantren kilat sama akhwat-akhwat yang lain di Malang, dan dia jadi panitia baru." Mbak Yasmin berkata. 

    Aku mengingat-ingat para ikhwan yang aku tau. Sebenarnya takut dosa sih, tapi aku penasaran. Ikhwan yang lulus kuliah tahun kemarin, alim, pinter, mengajinya bagus... Mas Azam? Mas Fahmi? Mas Qoyyum? Atau sepupuku Habib Razaq? Hmm... Tak ada seorangpun yang sesuai muncul di kepalaku. Entahlah, aku tidak terlalu kenal ikhwan senior. 

    Tiba-tiba muncul pertanyaan di kepalaku. 

    "Dia tau kalau Mbak Yasmin suka?" tanyaku penasaran.

    Di luar dugaanku, gadis cantik tersebut mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Tapi, dia pernah sekali membahas pernikahan seingatku, Syah."

    Mataku berbinar, "Oya? Dia bilang apa? Akan melamar Mbak Yasmin?"

    "Hush! Bukan, astaghfirullah!" Mbak Yasmin tertawa, mukanya merah. "Dia bilang kalau mau menikah di umur ketika Rasulullah menikahi Khadijah."

    "Umur empat puluh?"

    "Umur dua lima, Aisyah Syarifahku, Ya Allah! Umur empat puluh itu ketika beliau menjadi nabi!" seru Mbak Yasmin gemas. 

    Aku menyengir polos. "Oiya, lupa."

    "Iya, sedangkan dia lahir tahun 1992. Jadi, dia umur dua lima itu tahun depan."

    "Dan tahun depan, Mbak Yasmin wisuda, lulus kuliah. Dilamar, deh!" aku bertepuk tangan, senang dengan prediksiku. 

    "Istighfar kamu, Aisyah, masya Allah. Nggak boleh gitu. Siapa tau Mas-nya sudah punya akhwat yang dia pilih." Mbak Yasmin memukulku dengan bantal kedua kalinya. 

    Aku tersenyum menatapnya. "Ikhwan kayak gitu, nggak mungkin bicara tentang pernikahan ke sembarang akhwat, Mbak Yas. Dia pasti kasih kode ke Mbak Yasmin."

    Mbak Yasmin menghela nafas. "Aku nggak pernah memikirkan dia untuk main-main, Syah. Pernah terlintas pikiran seperti katamu itu, tapi aku nggak mau yakin dulu. Kan, masih belum ada kata serius. Aku ingin jaga hati dulu sebelum ada kepastian, Syah. Dosa."

     "Mbak Yasmin banyak do'a aja ke Allah, Mbak. Aku pernah kayak Mbak Yasmin, bucin gitu, hehe. Tapi aku selalu berdo'a setelah shalat tahajjud, kalau dia memang yang terbaik untukku di masa depan, maka jangan jatuhkan hatiku sekarang. Terserah Mbak Yasmin kata-katanya, tapi intinya gitu." aku berkata pelan. 

    Dulu ketika perasaanku pada Mas Ali semakin dalam, aku selalu menambahkan do'a itu setiap selesai shalat, terutama shalat tahajjud. Alhamdulillah. Allahu Muqollibul Qulub. Sekarang hanya bekasnya, tidak separah dulu hingga membuatku merasa terhina karena tenggelam dalam hasut syetan. Meski rasa kagum itu masih ada, namun dalam batas wajar. 

    Mbak Yasmin terdiam mendengar kalimat yang keluar dari bibirku. Aku ikut bungkam, tersenyum canggung padanya. Bingung mengapa dia malah diam menatapku seperti itu.

    Lalu ia tersenyum, "Syarifah ternyata sudah dewasa, ya?"

    Wajahku memerah malu, lantas memukul-mukulnya dengan guling. Mbak Yasmin hanya tertawa-tawa, puas menggodaku. 

    Ah, Mas Ali. Jika Mas Ali bukan yang terbaik bagiku untuk saat ini, jangan jatuhkan hatiku padanya sekarang Ya Allah. Amin. 

***

    Bulan Ramadhan ini, kami anggota jamaah remaja SISMU diamanahi Ustad Muntaza, ketua umum jamaah SISMU Malang, untuk menjadi panitia pesantren kilat di sekolah asrama Aliyah Al Mukarrom Malang lagi. Mungkin beliau melihat kinerja kami yang cukup bagus di lapangan. Padahal di belakang kesuksesan acara itu, aku masih ingat beberapa anggota jamaah remaja yang cekcok dan tidak mau ikut andil. Untungnya Mas Ali bisa menengahi hingga akar masalah tuntas. 

    Aku yang dulu hanya menjadi anggota sesi acara, sekarang diangkat menjadi koordinator acara dari pihak akhwat. Tugas koor acara mempersiapkan, mengawasi, dan menjamin acara berjalan lancar tanpa masalah. Meski ada koor bidang di bawahnya, koor acara harus memantau kerja mereka secara maksimal. Aku sedikit protes dengan keputusan ini, tapi tak ada seorangpun yang menolak keputusan final.

    Kami baru saja selesai rapat di rumah Nana, dan seperti biasa pula, Ibu Nana selalu menyediakan 'sesuatu' untuk kami. Cap cay kali ini menjadi pilihan beliau.

    Aku duduk di sofa ruang tamu, bersama tiga akhwat lain. Mbak Yasmin duduk di kursi dekat dinding, bersama teman kampusnya. Kulirik ke belakang, Mas Ali makan di kursi plastik sedikit jauh di belakangku, dekat dinding. Aku memberanikan diri menoleh ke arahnya. 

    "Mas Ali kenapa milih aku jadi koor acaranya? Masih banyak jamaah senior yang lain, kan?" tanyaku berbisik. 

    Mas Ali menatapku sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya. "Kami yang senior ingin melatih kalian para junior agar bisa mengembangkan jamaah remaja ini. Kami nggak selamanya sama kalian terus, kan? Kita semua nggak selamanya remaja, Syarifah Aisyah juga."

    Sejak tau margaku, Mas Ali selalu memanggil dengan Syarifah. Sehingga semua kawan jamaah menjadi tau dan mengikutinya. 

    "Tapi kenapa aku? Masih ada Mbak Safika, Mbak Dania, Mbak Yasmin.." aku berbisik lagi, masih tidak mengerti.

    "Agar Syarifah bisa belajar dan mengembangkan organisasi ini nantinya." jawab Mas Ali. 

    Aku diam sejenak, sebenarnya bukan perihal itu yang ingin aku tanyakan padanya. "Ibu Mas Ali katanya Syarifah, tapi kenapa Mas Ali tidak dipanggil--"

    "Habib Ali!"

    Aku terkejut mendengar kawan Mas Ali memanggil. Kulihat Mas Ali yang sudah selesai makan berdiri mendekati kawannya itu dan memukul ringan lengannya. 

    "Siapa yang kamu panggil Habib, hah?" katanya pura-pura marah. 

    "Lah, kamu kan, Habib Ali memang!" teman Mas Ali tertawa. 

    "Iya, iya!" timpal yang lain. 

    Aku tertegun. Jika Mas Ali memang Habib, kenapa dia mengelak ketika temannya memanggil 'Habib'? Bukannya dia pernah bilang bahwa itu julukan yang mulia dan tidak seharusnya disembunyikan? 

    Ingin sekali aku bertanya alasannya pada Mas Ali ketika di Malang saat menjadi panitia sanlat. Akan tetapi selalu saja ada hal lain yang membuatku batal bertanya. Hingga acara pesantren kilat selesai dan kami semua pulang. 

    Dua hari sebelum lebaran, sebuah kabar datang dari Mbak Yasmin. Dia menelponku setelah isya, ketika aku hendak tadarrus. Dia berjanji hanya bicara sebentar. 

    "Sebenarnya lima hari lalu orangtuaku bilang aku akan dijodohkan, Syah. Aku sudah berniat melepas ikhwan yang pernah kuceritakan. Tapi entah bagaimana, aku tidak tau dia dengar dari siapa, dia langsung menelponku dan bilang akan datang ke rumah! Dugaanmu benar! Malam ini juga, dia akan melamarku, Syah! Masya Allah!"

    Aku tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Mbak Yas. Alhamdulillah. Allah memang Maha Baik dan Maha Tau apa yang ada di dalam hati Mbak Yasmin. Jadi, kapan, nih?"

    "Lamarannya insya Allah malam ini, Syah. Mungkin biar aku nggak jadi dijodohin, hehe. Tapi akadnya tahun depan, setelah aku lulus kuliah. Do'akan aku, ya, Syarifah?" ada nada bahagia dari suara Mbak Yasmin. 

    "Yang terbaik buat Mbak Yasmin aja. Amin."

    Mbak Yasmin mengucap salam dengan riang dan menutup telpon. Aku terkikik kecil, menjawab salamnya. 

    Usai satu juz membaca Qur'an, aku keluar kamar untuk makan kolak yang tadi belum kuhabiskan. Ummah tampak duduk di meja makan, meminum jus mangga seraya mengecek hp. Abah sepertinya masih berdiam di masjid komplek. Aku mengambil mangkuk kolak dari dalam kulkas. 

    "Ifah, Ummah tadi sudah tanya sepupumu Habib Razaq." 

    Ummah berkata. Aku menoleh, menghentikan langkah sejenak. "Tanya apa, Ummah?"

    "Ali itu bukan Habib, Fah."

    Demi mendengarnya, duniaku serasa berguncang. Aku berpegangan pada ujung meja, kepalaku tiba-tiba pusing. Ummah yang sadar menatapku heran. Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. Kakiku seakan menancap di tempat dengan lutut yang lunglai lemas.

    "Mas Ali keturunan Arab, Ummah. Ibunya Syarifah sepertiku, seperti Ummah. Temannya juga pernah memanggilnya Habib." kataku membela. Masa Habib Razaq tidak pernah dengar? Jelas-jelas dia itu kawan Mas Ali. 

    Ummah meletakkan gelas jus ke meja. Beliau memandangku serius, 

    "Ifah, seorang Dzurriyyah itu sangat mulia derajatnya, keturunan Nabi Muhammad. Banyak yang ingin berada di posisi tersebut, dan banyak yang mengaku-ngaku. Seperti katamu tadi, keturunan Arab, belum tentu Dzurriyyah. Ada keturunan para sahabat juga, namanya Masaih. Ada juga Dzurriyyah yang membiarkan anak-anaknya menikahi selain Dzurriyyah. Nanti anak gadisnya yang Syarifah ketika menikahi Masaih atau selain Dzurriyyah, kadang suaminya mengaku-ngaku bahwa anaknya adalah Dzurriyyah. Padahal kamu tau sendiri kan, kalau garis keturunan itu menurun dari laki-laki."

    Aku bungkam lama, mendengarkan kalimat Ummah. Jika ada yang berbicara maka tidak boleh dipotong, beliau selalu keras mendidik akhlak mu'amalah ma'an nas. 

    "Nah, Ali itu Masaih. Ibunya memang Syarifah, tapi ayahnya Masaih. Ayahnya mengaku-ngaku kalau anaknya itu seorang Habib, tapi Ali-nya sendiri yang selalu mengelak orang-orang jika memanggilnya begitu." jelas Ummah lagi. 

    Aku ingat ketika Mas Ali dipanggil Habib, dia seakan tidak mau. Ternyata dia memang bukan Habib. Kenapa tadi tidak bilang Syarifah Aisyah Annisa Alawiy binti Kutbhah saat perkenalan? Itu kan, bukan sesuatu yang memalukan? Mulia, malah. Subhanallah. Kalimat Mas Ali kala itu terngiang di kepalaku. 

    Aku terdiam. Lama. Aku tidak bisa berharap pada Mas Ali lagi. Dia bukan seorang Habib. Dia bukan Dzurriyyah. 

    "Syarifah sayang..." 

    Ummah memanggil pelan penuh kasih, menarikku lembut untuk duduk di sebelahnya. Ia menggenggam tanganku. 

    "Menjadi seorang Dzurriyyah itu karunia Allah, sayang. Kamu dipilih oleh Allah menjadi salah satu keturunan Rasulullah, manusia paling mulia di muka bumi yang kemuliaannya bahkan diistimewakan Allah sendiri dalam Al-Qur'an. Kamu seharusnya bersyukur. Kamu juga harus mengerti, kenapa Ummah sama Abah tidak mau kamu menikah selain Dzurriyyah. Ini semua demi Rasulullah, sayang. Kami tidak ingin keturunan beliau putus. Kami ingin anak cucu beliau saling terus berhubungan keluarga. Pahami dan syukuri itu."

    Ummah menasihati lembut. "Jika saja Ali itu seorang Dzurriyyah, Fah. Ummah dan Abah rela datang ke rumahnya demi kamu, melamarnya untukmu. Kami sayang padamu, tapi Ali bukan Habib. Ummah tidak mau kamu sama Ali bukan berarti Ummah tidak sayang kamu. Kamu paham, kan?"

    Aku masih diam. Entah mengapa, air mataku dengan lancangnya jatuh membasahi pipi. Aku tidak mengerti apa jelasnya yang kutangisi. Aku hanya ingin menangis. Ummah mendekapku erat, penuh cinta. 

    Minggu berganti minggu. 

    Setelah lama kulupakan rasa itu, aku akhirnya tau sesuatu. Mas Ali bukan yang terbaik bagiku. Karena dia adalah yang terbaik untuk Mbak Yasmin. 

    Dan hari ini akan menjadi saksinya. []

KLIMAKS COVID-19 - Artikel