“Don’t protect your children, but
educate them.”
Adalah
sebuah kewajaran apabila orang tua mengkhawatirkan anaknya, malah jika tidak,
maka ada tanda tanya besar di sana. Khawatir tentang pergaulan anaknya,
pendidikannya, masa depannya, tentang apa saja. Beliau senantiasa memikirkan
semua hal itu, sehingga muncullah sikap “menjaga, menghindari, melindungi”.
Manusia
memang berbeda-beda satu dengan lainnya, oleh karena itu masing-masing memiliki
cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu, tergantung faktor genetik dan
lingkungannya. Misalnya perbedaan suku, gadis yang besar di Bandung cenderung
lebih lembut sifatnya dari gadis yang besar di Madura. Hal itu memang relatif,
namun lingkungan memang salah satu faktor kuat yang dapat membentuk karakter
manusia, terutama anak-anak. Seperti yang tertera dalam kitab “Mabadi’ Ilmu Tarbiyah”, ada 2 faktor
yang membuat karakter setiap anak berbeda; keturunan dan lingkungan.
Ketika
setiap orang tua yang berkarakter berbeda-beda “berusaha membentuk karakter”
anaknya, maka berbeda pula respon yang mereka dapatkan. Anak yang tumbuh atas
didikan yang keras, boleh jadi yang satu menurut, yang satu berontak. Tidak ada
yang bisa menebak seorang anak akan memiliki sifat keturunan dari siapa. Dari
ibunya kah, ayahnya kah, nenek dari ibu, kakek dari bapak, atau malah buyut.
Tidak menutup kemungkinan juga, anak yang tumbuh atas didikan lembut nantinya
akan berontak. Merespon negatif.
Respon
negatif tersebut yang akhirnya menumbuhkan rasa “ingin menjaga” yang lebih
kuat. Semakin negatif, semakin kuat pula rasa itu.
Sebagai
manusia biasa, orang tua memang tidak bisa menjaga anak-anaknya 24 jam sehari,
ada kalanya mereka lepas dari pengawasan. Dan ketika mereka beranjak remaja
atau dewasa, tentu orang tua tidak bisa sepenuhnya ikut campur urusan mereka,
bukan? Meskipun rasa “ingin menjaga” itu semakin besar.
Sebenarnya
ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menjaga mereka dari hal-hal negatif
seperti kemaksiatan. Saya pernah membaca sebuah tulisan dan saya menyimpulkannya
dalam satu kalimat: “Don’t protect your
children, but educate them”. Jangan lindungi anak-anakmu, tapi
didiklah/berilah pendidikan pada mereka. Saya akhirnya berpikir, di sinilah
pentingnya peran “pendidikan”.
Sebagai
seorang remaja pelajar, saya terkadang berpikir, mengapa orang tua menyuruh kita belajar? Untuk sekadar cap lulus? Untuk
mencari pekerjaan? Ternyata semua itu semata-mata untuk “menjaga” saya.
Pendidikan tidak hanya materi yang diajarkan di kelas, tapi juga di luar kelas
atau lingkungan. “Ilmu hal” namanya.
Itulah mengapa terkadang kita mendengar banyak kisah inspiratif dari anak
miskin desa, tapi memiliki budi luhur. Mereka memang tidak sekolah, tapi mereka
mengenyam banyak ilmu hal, sebuah
pendidikan yang didapat dari pengalaman hidup. Likulli syai’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya.
Mengapa ada orang miskin, pesakitan, yatim piatu, pecandu narkoba, perindu
Tuhan, penyebar dakwah? Tak lain dan tak bukan untuk “pelajaran” bagi yang
lain, “pendidikan” bagi yang lain. Pendidikan yang didapat dari lingkungan
inilah, yang akan membentuk karakter.
Ketika
seseorang tumbuh di lingkungan berpendidikan baik, maka dia akan berpendidikan
baik pula. Sehingga, tumbuhlah dalam dirinya karakter yang baik. Maka muncul
slogan: “jika kau ingin melihat perilaku seseorang, maka lihatlah kawannya”.
Kawan juga bagian dari lingkungan, bukan? Maka benar adanya.
Pendidikan
ini akan mempengaruhi pola pikir seseorang, yang akhirnya menciptakan “budi”.
Semakin berilmu seseorang, maka ia akan banyak berpikir, memiliki
prinsip-prinsip, membentuk mindset. Dalam
buku berjudul “MINDSET: The New Psychology of Success” karya
seorang psikolog Universitas Stanford Carol S. Dweck, Ph.D., beliau menuliskan
bahwa beliau menemukan ide sederhana namun inovatif pada kekuatan
pola pikir setelah melakukan penelitian selama beberapa dekade. Dalam buku
yang brilian ini, beliau menunjukkan bagaimana kesuksesan di sekolah,
pekerjaan, olahraga, seni, dan hampir setiap bidang usaha manusia dapat
dipengaruhi oleh bagaimana kita berpikir (mindset)
tentang bakat dan kemampuan kita. “Dengan pola pikir yang benar, anda dapat
memotivasi mereka yang anda pimpin, ajarkan, dan cintai—untuk mengubah hidup
dan kehidupan mereka”.
Mindset yang benar akan membantu
seseorang bergerak ke arah yang benar dengan sendirinya. Karena dia memiliki
prinsip yang didasari oleh mindset
yang kokoh. Maka tidak perlu diarahkan, dicegah, dilindungi, dan dijaga lagi. Apa
kalian sudah melihat pentingnya pendidikan sekarang?
Sebagai
remaja, sudah sepatutnya kita sadar akan pentingnya pendidikan. Sebagai
penjagaan diri sendiri, juga bekal bagi kita dewasa nanti. Dari mana seorang
anak mendapatkan pendidikan pertama kali jika bukan dari ibunya? Orang tuanya?
Keluarganya? Jika setiap manusia menyadari betapa pentingnya sebuah pendidikan,
maka tidak ada seorang pun yang nyeleweng.
Ketika ada seseorang yang nyeleweng,
mari kita lihat, bagaimana “pendidikannya”?
Mari
kita perbaiki pendidikan kita, mari kita perbaiki mindset kita. Don’t protect
your children, but educate them.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar