Minggu, 19 April 2020

Ku Tak Ingin Gus (ep. 1) - Long Continued Story

    Namaku Mohammad. Biasanya sebagian besar orang memanggilku Gus Moh. Ya, ayahku adalah seorang kyai besar. Ayah sering bepergian dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Jember, bahkan Sulawesi dan Kalimantan. Terkadang Ayah juga diundang ke beberapa haflah nihaieyah di jamiah (universitas) Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, di Timur Tengah sana, karena beliau dulu sering berguru dan menggurui di banyak kota tersebut. Ayah adalah pengasuh sebuah pondok pesantren yang cukup besar di pedaleman Malang. Beliau juga menaungi sebuah ikatan jamaah di Surabaya, Malang, dan Jember.

    Rumahku di Surabaya, aku tinggal berdua bersama Ibu, istri ketiga Ayah. Istri pertama beliau orang Jember, tapi sudah lama meninggal. Kemudian istri kedua yang ayah nikahi setelah wafatnya istri pertama menetap di Malang, membantu Ayah mengelola pesantren. Dan yang ketiga adalah Ibu, yang kini membantu Ayah menghidupkan jamaah di Surabaya dan mengawasi Rumah Tahfidz yang dibangun Ayah lima tahun lalu.

    Ayah dulu sering bilang padaku yang masih tidak mengerti apa-apa. "Le (jawa : nak), kamu ini anak seorang Ayah. Ayah yang menjadi Ayah banyak orang, 'Abah' banyak orang. Seperti kamu menghormati Abah, banyak orang yang juga akan menghormati kamu. Kamu harus mengerti, tapi kamu tidak boleh sombong. Mentang-mentang kamu dihormati, kamu manfaatno ketaatan mereka ke awakmu (jawa : kamu). Mereka itu orang-orang yang mencari berkah lewat orang sholeh."

    Aku tidak paham maksud Ayah, aku hanya mengangguk sok paham saja kala itu.

    Saat aku mulai masuk MTs di sebuah pondok di Pasuruan, aku semakin tidak mengerti kalimat Ayah.

    Kawan-kawanku rata-rata orang Jawa. Mereka tau siapa Ayah, bahwa Ayah seorang kyai di pondok besar. Mereka memang memanggilku 'gus' (sebutan untuk anak seorang kyai), tapi mereka menyebutnya seolah-olah panggilan itu hina dan menjijikkan. Mereka memanggil namaku sambil tertawa sinis, atau memutar bola mata muak. Aku bukan berasumsi atau berandai-andai. Tapi jujur saja aku merasa diasingkan, dan mereka tidak pernah memanggilku kecuali ada keperluan yang amat sangat penting dan mendesak. Misalnya ketika kepala sekolah, atau guru BK, atau wali kelas sedang mencariku.

    Sekali mereka memanggil, sikap mereka akan seperti itu. Melotot padaku, seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar terhadap mereka. Bagaimana aku tidak bisa sadar jika mereka melakukannya dengan sangat terang-terangan sekali?

    Sebenarnya aku cukup terganggu dengan panggilan 'gus'-'gus' yang mereka pakai untukku. Di sekolah SD, aku dipanggil Hammad, tanpa 'gus'. Mungkin hanya beberapa guru yang mengenal Ayah yang memanggilku Gus Hammad. Tapi tanpa melotot padaku. Aku terkadang berpikir, kenapa karena aku anak kyai harus dipanggil gus? Apa bedanya dengan anak laki-laki lainnya?

    Belakangan aku tau, ternyata teman-teman Jawaku berpikir bahwa aku masuk ke pondok Pasuruan itu tanpa biaya, tanpa tes, dibebaskan dari tunggakan bulanan, karena Ayah adalah seorang kyai besar. Aku tidak pernah melanggar sampai tercatat di buku sangsi guru BK, karena aku anak kyai. Aku diistimewakan dari yang lain, karena posisi Ayah.

    Padahal hampir setiap minggu aku menelpon Ayah untuk mengingatkan tunggakan bulanan, karena Ayah sering lupa membayarnya sebab banyak jadwal janji temu yabg harus beliau ingat. Sampai aku merasa tidak enak mengganggu Ayah dan akhirnya menelpon Ibu. Aku memang masuk tanpa tes, karena masuk lewat jalur rapot yang memang baik nilainya, bukan karena Ayah pengasuh pondok besar. Aku tidak pernah masuk catatan sangsi guru BK karena memang aku takut sekali melanggar di pondok ini. Ini kali pertama aku mondok dan aku tidak mau membuat kesan buruk, itu saja. Lagi-lagi bukan karena Ayahku. Lalu, diistimewakan? Hahaha. Malah, ketika aku mendaftar, Pak Kyai bilang padaku, "Le, meskipun kamu anaknya Abah (sebutan orang-orang ke Ayah), kamu tidak akan kami perlakukan spesial. Mau anak siapapun kamu, kamu tetap santri disini, santri Bapak."

    Ah, ingin sekali aku berteriak kepada orang-orang Jawa itu yang sebenarnya, tapi mereka tidak akan mau mendengarkan. Aku pernah curhat pada Ibu sambil menangis. Beliau hanya diam, dan berkata satu kata yang selalu menjadi senjatanya ketika aku mengeluh; sabar. Kata yang sangat mudah diucapkan, namun sulit direalisasikan.

    Saat liburan, aku hanya diam di rumah. Ayah kebetulan sedang menetap di Surabaya kala itu. Banyak orang datang sowan ke Ayah, aku hanya menemani beliau di ruang tamu melayani selusin tamu sehari. Mereka meminta doa, minta diistikhorohkan (bahkan Ayah punya buku khusus untuk permintaan istikhoroh, aku tau karena disuruh mencatat permintaan salah seorang jamaah oleh Ayah), minta pendapat tentang suatu keputusan, minta amalan, bahkan ada ikhwan yang minta dicarikan akhwat untuk dikhitbah.

    Aku disana tidak jarang menjadi objek pembicaraan juga. Hampir semua tamu menanyakanku, dan hampir semua jamaah menanyakan hal yang sama. Ayah menjawab dengan jawaban yang sama, dengan ekspresi yang sama pula. Ayah tidak membedakan tamunya, semua seakan dekat dengan Ayah.

    Sampai suatu saat, ibu menyuruhku menemani Ayah melayani tamu di ruang depan. Aku yang baru saja selesai shalat dhuha segera menuju ke sana. Ketika kuintip dari balik tirai yang sedikit transparan, betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang. Dia adalah Fikri, salah satu anak yang suka sekali melotot padaku meski tidak memanggilku. Bahkan aku pernah diejek habis-habisan olehnya di depan kelas hanya karena aku ingin membantunya piket. Dia bilang aku sok suci, pencitraan.

    "Loh, Gus? Ayo temani Abah, Le."

    Pak Sugi menepuk pundakku pelan dari belakang, tersenyum padaku dengan nampan berisi cangkir-cangkir teh di tangan satunya. Beliau adalah supir pribadi Ayah yang setia mengantar Ayah bolak-balik Surabaya-Malang-Jember. Beliau sering menetap disini membantu Ibu jika perlu keluar-keluar. Pak Sugi sering membantu Ibu melayani tamu-tamu juga selain menyupir, karena itu aku kenal dekat beliau.

    Aku menghela nafas berat, melirik Fikri yang diam di sofa. Dia pasti sirik padaku nanti.

    "Loh, kok belum keluar, Sayang? Kenapa?" Ibu juga muncul di belakang Pak Sugi, membawa toples camilan. "Kasihan Ayah, Nak, sendirian."

    Aku memandang ruang tamu dari balik tirai nanar, kemudian menghela nafas panjang. Ini akan terjadi sebentar lantas berlalu, "Oke."

    Aku menyibak tirai, hendak duduk di sofa tunggal sebelah Ayah. Pak Sugi sigap menahanku, membersihkan sofa itu terlebih dahulu, membenarkan bantalan sofanya, lantas mendudukkanku lembut di atasnya. Pak Sugi selalu seperti itu dari dulu, tapi dengan adanya Fikri di sini membuatku merasa risih juga dengan sikap beliau. Kulihat Fikri berdecak samar dari pantulan kaca akuarium yang dipajang di sudut ruangan. Ayah berbincang hangat dengan orang tua Fikri, sesekali dia tersenyum jika ditanya Ayah. Aku hanya diam.

    "Kalau Gus Moh, nanti mau lanjut ke mana, Bah?" Ayahnya Fikri bertanya.

    Biasanya aku langsung menjawab, tapi yang kulakukan hanya tersenyum canggung, melirik Ayah.

    Ayah diam sebentar, sepertinya menungguku menjawab. Lalu beliau angkat bicara mewakiliku yang tak kunjung buka mulut, "Insya Allah ke Jakarta. Di sana ada pondok yang kalau mau ke Mesir gampang jalurnya, biar Mohammad nanti bisa ke Mesir dan... "

    Ayah menjabarkan jawaban sebagaimana jamaah lain bertanya hal yang sama. Kuperhatikan Fikri diam mendengarkan, namun dengan setengah hati. Aku yang biasanya bertahan karena kasihan Ayah, kini jadi tidak betah dan ingin cepat-cepat masuk ke kamar.

    Kemudian Ibu keluar dari dalam bersama Pak Sugi, membawa nampan berisi roti maryam. Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan kesal. Ya Allah, sabarkan diriku...

    Pak Sugi menghampiriku, berbisik dengan suara keras. "Gus Moh juga mau, ya? Saya ambilkan."

    Aku segera menahan lengannya, "Nggak usah, Pak. Makasih."

    "Loh, Gus, ayo ikut makan! Ini, ayo!" Ayah Fikri mengambilkan satu roti di atas piring dan disodorkannya padaku. "Ayo, Gus..."

    "Mad," Ayah melirikku tajam. Aku paham, aku harus menghargai Ayah Fikri. Segera aku mengambil piring dari tangan beliau.

    "Makasih, Pak." aku tersenyum canggung. Kulihat Fikri mengambil roti sendiri, seraya memandang sinis ke arahku.

    Aku masih duduk beberapa menit sebelum mereka akhirnya pamit pulang. Aku menghela nafas lega, bersyukur dalam hati.

    "Sayang, bisa minta tolong buangkan sampah ke depan? Nanti kalau dibuang di dalam baunya kemana-mana."

    Baru saja hendak menuju kamar, Ibu menyuruhku membuang sampah. Segera, aku memenuhi permintaannya karena Pak Sugi sedang membereskan ruang tamu.
Di depan rumah ternyata Fikri dan keluarganya belum pulang, masih berbincang di sebelah mobil mereka. Aku berpura-pura tidak lihat seraya menuju tempat sampah. Mendadak tanganku dicekal, ternyata oleh Pak Sugi.

    "Ya Allah, Gus! Nggak perlu buang sampah itu, biar Bapak aja! Sini! Masa Gus Moh yang buang--"

    "Cih. Kan, dia dimanja kayak pangeran di istana.. " gumaman Fikri yang terdengar oleh telinga seketika membuatku mendidih.

    "Aku bisa buang sendiri!" tanpa sadar aku meninggikan suara mencegah Pak Sugi mengambil alih kresek dari tanganku dan melempar asal kresek itu ke tempat sampah.

    Aku berlari kecil masuk ke dalam. Sekilas kulihat Fikri menatapku, entah dengan ekspresi apa aku tak peduli. Dia ada benarnya, Pak Sugi terlalu menganggapku berlebihan. Beliau terlalu menghormatiku. Rasa-rasanya aku menjadi manusia gila hormat kalau kayak gini!

    Aku tidak sadar bahwa ternyata aku telah membuat sebuah hati koyak karena kelakuanku. Yang aku pedulikan sekarang adalah diriku yang sudah tenggelam dalam kehormatan, dan aku jadi benci diriku sendiri.

1 komentar:

KLIMAKS COVID-19 - Artikel